728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Kamis, 03 Januari 2013

    Hedonisme di Indonesia

    INDONESIAKU
    “DIANTARA HEDON-ESIA & END-ONESIA”


    Oleh : Moh. Fauzan

    Indonesia yang Hedon-esia
    Bangsa ini memang sudah mencapai usia di atas setengah abad, namun jika kita sedikit melihat kondisinya sekarang, banyak pertanyaan yang timbul dalam benak kita tentang bangsa ini. ”Mengapa banyak sekali kerusuhan terjadi sekarang ini..? Mengapa banyak perpecahan terjadi di berbagai pelosok di Indonesia? Mengapa banyak kasus korupsi terjadi di pemerintahan sementara semakin banyak pula gelandangan dan orang- orang miskin di Indonesia? Mengapa semua saling beradu dan berlomba-lomba untuk menjadi wakil rakyat yang ternyata tujuan utama adalah materialisme? ”. Itulah kondisi bangsa Indonesia sekarang ini. Bangsa Indonesia yang katanya sudah merdeka, tetapi di dalamnya masih saja banyak sekali kekacauan-kekacauan yang timbul dari individu masing-masing. Mengapa hal ini bisa terjadi?

    Dunia kini sudah diwarnai dengan paham yang disebut hedonisme. Hedonisme berasal dari bahasa yunani yaitu “Hedone” yang berarti kesenangan, dimana istilah ini sudah lama dikenal dan banyak tokoh melakukan kajian mengenai konsep hedonisme. Aristippus (435-366 SM), salah satu  pengikut Socrates, mengajarkan bahwa kesenangan yang merupakan satu-satunya yang ingin dicari manusia. Paham ini mengedepankan kesenangan diri sebagai ukuran keberhasilan suatu usaha tanpa memandang yang lain, ”Pokoknya saya senang”. Itulah hal yang sedang terjadi di dunia ini. Indonesia sebagai negara yang notabene masih dalam tahap berkembang kurang siap dalam menerima budaya-budaya yang datang dari luar, akhirnya hedonisme pun berkembang di Indonesia.

    Pola hidup yang mengedepankan kesenangan tanpa memikirkan yang lain inilah yang sudah menyebabkan banyaknya kekacauan yang terjadi. Setiap orang berlomba-lomba untuk mengedepankan ego masing-masing. Semua ingin keinginannya tercapai, akhirnya tidak ada yang mau mengalah semua berpegang kokoh pada pendiriannya dan tak mau membuka diri untuk yang lain. Misalkan seorang yang ingin menjadi wakil rakyat di legislatif, mereka berlomba-lomba agar dapat diterima. Pikiran pertama yang terbesit rata-rata adalah bahwa wakil rakyat memilki fasilitas yang mewah dan gaji pun menggiurkan. Mindset pertama ini terjadi karena tujuan utama mereka bukanlah menjadi wakil rakyat, akan tetapi kesenangan dan kebahagiaan yang akan mereka dapatkan setelah menjadi wakil rakyat. Hasilnya, fasilitas yang mewah serta berlebihan dan gaji yang cukup besar membuat para dewan terusik hatinya. Timbulah rasa ketidakpuasan akan harta yang dimiliki yang ujung-ujungnya melakukan korupsi padahal di sekeliling mereka masih banyak orang yang serba kekurangan.

    Begitu pun dengan kerusuhan-kerusuhan yang terjadi, kedua belah pihak tidak mau saling mengalah akan idealisme dan argumen yang yang ada. Keduanya mementingkan diri masing-masing tanpa berpikir sehat terlebih dahulu secara objektif, timbulah perpecahan. Keduanya mengejar dan memperjuangkan apa yang menurut mereka menguntungkan bagi mereka tanpa memikirkan aspek-aspek yang lain.

    Indonesia yang end-onesia
    NKRI-ku adalah harga hidup bagiku !
    Terus hiduplah NKRI-ku jangan kau mati !!!

    Dewasa ini, kita mempunyai kekawatarin yang sangat mendalam terhadap keutuhan bangsa ini. Bukan hal yang tidak mungkin perpecahan NKRI semakin hari semakin marak, NKRI yang dibangun dengan segala jerih payah dan cucuran darah para pahlawan bangsa kita digoyahkan dan dilepas baut keeratan kebangsaan dan nasionalisme dengan berbagai upaya oleh oknum baik dalam negeri ataupun luar negeri. Mereka merangsak masuk pada sendi-sendi kekuatan kita dan melumerkan baja persatuan bangsa indonesia. Bagaikan virus yang menggerogoti pemikiran kita. Seperti yang terjadi pada timtim. Hanya kebulatan tekad kita yang dapat meredam usaha-usaha tangan jahil emperialis yang masuk dan memecah belah kita. Mereka berusaha memecah kita baik usaha didalam sistem pemerintahan kita ataupun diplomasi diluar.

    Cara yang sering mereka lakukan untuk memecah NKRI dengan pencaplokan wilayah dengan memanfaatkan kelemahan kita dari sisi hukum internasional. Seperti Sipadan dan Ligitan yang telah lepas dari NKRI.

    Mereka melakukan gerakan yang terus-menerus melemahkan NKRI. Regenerasi muda menjadi perhatian yang besar bagi mereka. Generasi muda kita mulai dicekoki oleh misi-misi hedonisme, anti nasionalisme, memperkecil peran agama, memperkecil peran cendikiawan pribumi indonesia, melakukan fitnah kepada para tokoh-tokoh agama dan tokoh nasionalis.

    Apa yang harus kita lakukan ?????
    Kendorkan pengaruh asing yang ingin menggoyang NKRI kita. Jangan pilih partai yang melakukan kontak asing karena boleh jadi kebijakan indonesia dipengaruhi oleh mereka, jangan pilih pemimpin yang menjadi boneka asing, kuatkan peran bangsa sendiri. Bangun kemandirian bangsa. Jangan berikan kekayaan mineral nusantara kepada bangsa asing. Hentikan tayangan hidonisme di televisi, dan berikan kesempatan ruh nasionalisme mengalir kepada generasi bangsa kita. Stop liberalisasi perdagangan, jangan serahkan aset-aset strategis bangsa ke asing. Ikut arus globalisasi bukan berarti bersedia dibodohi !!!!!!!!!!!!!!!

    Pemerintah Indonesia juga harus rajin apresiasi berbagai upaya positif untuk menangani permasalahan dipapua saat ini. Seperti yang pernah dilakukan pada GAM.Undang-undang Keamanan Nasional harus benar-benar bermanfaat dalam melindungi pulau-pulau nusantara dari pihak separatis. Indonesia harus mandiri dalam mengatur dan mengendalikan keamanan dalam wilayah indonesia sendiri. Kita berada di negara-negara yang masih memiliki potensi untuk melakukan klaim atas wilayah kita.

    Selain itu, aspek lain yang juga harus dibenahi adalah mengenai kesejahteraan rakyat yang berada jauh dari Jakarta. Kesejahteraan masyarakat yang berada digaris perbatasan memiliki dampak politik-politik yang sangat besar, seperti masyarakat di Kalimantan yang berbatasan dengan Malaysia. Wilayah nusantara perbatasan selalu lebih memiliki potensi untuk bergolak dan berpisah. Keadilan dan kesejahteraan saudara kita ini penting artinya untuk keutuhan NKRI. 

    Perbaiki kualitas pendidikan, masukkan semangat nasionalisme dalam kurikulum kita. Bangsa kita tidak perlu terlalu pintar, pecuma jika pintar tetapi bermoral seperti penjajah Belanda. Merahkan darah generasi kita dengan darah pejuang ’45. Perbanyak kibaran bendera merah putih pada seluruh wilayah nusantara kita. Buat kewajiban itu kepada semua kantor pemerintah kita. Perbanyak dengungkan lagu-lagi wajib penggugah semangat kita, tidak hanya pada acara-acara 17-an. Buatkan jam wajib pada televise-televisi kita untuk memperdengarkan lagu-lagu itu, yang membantah jangan-jangan bagian dari intruders. Merdeka!.. Hidup NKRI!


    * Tulisan ini disampaikan dalam kajian rutin GARUDA Januari 2013 di Lorong Uin Malang 
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Hedonisme di Indonesia Rating: 5 Reviewed By: GUSDURian Malang
    Scroll to Top