728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Jumat, 05 April 2013

    Artikel Kajian : Dilematis Kepemimpinan Perempuan

    Dilematis Kepemimpinan Perempuan
    Oleh: Nuraini

    Membincang perempuan serasa tak ada habisnya. Apalagi di tenagah masyarakat patriarkhi seperti di Indonesia. Didukung juga doktrin Agama yang ditafsirkan secara patriarkhi pula. Lengakap sudah dan kokoh sudah bangunan memenjarakan perempuan dalam ketidakberdayaan.
    “Wanita dijajah Pria sejak dulu....
    Dijadikan perhiasan sangkar madu”
     
    Lirik lagu jadul ini memang menggambarkan posisi perempuan yang masih terbelakang, dan seakan2 memang yang menjadi penyebabnya adalah laki-laki. Karena konstruk sosial yang berkembang masih pro dengan kekuasaan laki-laki.
    Lain dulu lain sekarang. Begitulah yang bisa dikatakan tentang posisi perempuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sudah banyak perempuan yang bisa menunjukkan prestasinya di semua bidang. Bisa dikatakan perempuan sudah tidak terjajah lagi. Kampanye kesetaraan dan keadilan gender snagat berpengaruh terhadap perkembangan prestasi perempuan. Kampanye untuk diberikan hak-hak yang sama terhdap laki-laki maupun perempuan. Baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, sosial, budaya maupun politik. Semua hal itu sudah bisa diakses oleh perempuan tanpa harus dibenturkan lagi dengan anggapan-angpan yang menomorduakan perempuan.

    Nah, bagaimana dengan permasalahan kepemimpinan perempuan??? Pembahasan ini masih menjadi topik pembicaraan yang masih relevan mungkin sampai akhir dunia. Sexism tentang kepemimpinan masih mendominasi di negara kita yang kental paham patriarkhinya. Apalagi momen-momen politik saat ini. Sudah ada calon walikota, calon gubernur, calon legislatif dari perempuan. Wajah-wajah perempuan sudah bisa mewarnai komposisi pembuat kebijakan. Kalau dibandingkan dengan lima sampai sepuluh tahun silam ini terlihat berbeda. Dari banyaknya perempuan yang mecalonkan diri sebagai pemimpin ternyata tidak semulus laki-laki ketika mencalonkan diri. Konstruk budaya dan agama masih kental dikonsumsi oleh masyarakat kita. Bahwa tidak pantas seorang  pemimpin dari perempuan, karena perempuan lemah, emosional, dan agama pun melarang pemimpin dari perempuan. Ada sebagian lain yang menyatakan sah-sah saja seorang perempuan pemimpin dari perempuan. Pemimpin tidak bisa dilihat dari jenis kelaminnya akan ettapi bagaimana dia mempunyai kemampuan untuk memimpin. Menjadi pertanyaan berikutnya apakah adanya pemimpin perempuan ini hanya hlnya memenuhi kuota yang diamanahkan uu, atau memang dibutuhkan. 

    Kepemimpinan Perempuan.
    Kepemimpinan perempuan dalam hal pengambil kebijakan masih menjadi dilamatis masyarakat Indonesia. Anggapan laki-laki yang lebih pantas masih selalu dikuatkan oleh budaya bahkan teks-teks agama. Selain itu juga perbedaan fisik, cara berfikir yang berbeda antara laki-laki dan permepuan menjadi momok persolaan tidak bolehnya seorang perempuan menjadi pemimpin. Dilematis ini akan terobati kalau sudah diwujudkan dengan keterampilan dan prestasi yang dibuat oleh perempuan dalam kepemimpinannya.

    Sebelum berbicara jauh tentang kepemimpinan perempuan kita bisa mendeskripsikan apa sebenarnya kepemimpinan itu. Kepemimpinan adalah bentuk dominasi yang didasari pada kemampuan pribadi yang snaggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu, berdasarkan akseptasi/penerimaan kelompoknya, dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi keahlian khusus.

    Bisa disimpulkan bahwa kepemimpinana itu bukan permasalahan laki-laki atau perempuan, akan tetapi bagaimana seseorang yang menajdi pemimpin memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang lain yang dipimpinnya untuk melakukan sesuatu tentunya untuk mencapai visi misi yang menjadi kesepakatannya. Keahlian khusus tentunya ini keahlian yang emmebedakan dan menjadi ciri khas seorang pemimpin. Wilayah keahlian khusus ini di wilayah kemampuan kepamimpinan informalnya.

    Adanya suatu kepemimpinan ditentukan bagaimana seseorang memiliki kemampuan dalam memimpin atau tidak. Kememapuan intelektual, profesionalisme, manajemen yang baik ini menjadi tolak ukur pantas atau tidkanya seseorang menjadi pemimpin.

    Isu kesetaraan dan keadilan gender menjadi penyelamat bagi para perempuan untuk mengembangkan kualitas diri membangun karakter intelektualnya. Tentunya sangat besar peluang perempuan jika variabel kelayakan pemimpin dinilai dari kualitas diri. Namun, hingga saat ini sangat jarang sekali perempuan yang jadi pemimpin. Banyak hambatan yang harus dihadapi oleh perempuan ketika menjadi seoraang pemimpin. Berikut beberapa hambatan yang muncul dalam kepemimpinan perempuan:
    • Hambatan Fisik, perempuan, katanya, dibebani tugas “kontrak” untuk mengandung, melahirkan, dan menyusui. Keharusan ini mengurangi keleluasaan mereka untuk aktif terus menerus dalam berbagai bidang kehidupan. Bayangkan jika perempuan harus melahirkan sleusin anak. Pastilah usia produktifnya habis untuk menjalankan tugas reproduktifnya.
    • Hambatan teologis, untuk waktu yang lama, perempuan dipandang sebagai makhluk yang diciptakan untuk laki-laki. Termasuk mendampingi mereka, menghibur mereka, dan mengurus keperluannya. Perempuan menurut cerita teleologis seperti ini, diciptakan dari rusuk laki-laki. Cerita ini telah jauh masuh dalam benak orang, dan secara psikologis menjadi slaah satu faktor penghambat perempuan untuk memiliki peran yang berarti.
    • Hambatan Sosial Budaya, terutama dalam hal streotipikal. Pandangan ini melihat perempuan sebagai makhluk yang pasif, lemah, perasa, tergantung, dan menerima keadaan. Sebaliknya, laki-laki dinilai sebagai makhluk yang aktif, kuat, cerdas, mandiri, dan sebagainya. Pandangan ini menempatkan laki-laki secara sosio-kultural lebih tinggi derajatnya dari perempuan.
    • Hambatan sikap pandang. Hambatan ini antara lain ditimbulkan dari pandangan dikotomistis tentang peran laki-laki dan perempuan. Perempuan dinilai sebagai makhluk rumah, sedangkan laki-laki dipandang sebagai makhluk luar rumah. Pandangan dikotomistis ini boleh jadi telah membuat perempuan merasa risi keluar rumah dan visi bahwa tugas kerumahtanggaan tidak layak digeluti laki-laki.
    • Hambatan historis. Kurangnya nama perempuan di masa lalu yang bisa dipakai untuk membenarkan bahwa perempuan mampu berkiprah layaknya laki-laki.
    Dari hambatan-hambatan di atas tentunya menjadi persoalan bagi perempuan yang berhasrat menajdi seornag pemimpin. Kadang kala juga kesempatan untuk menjadi pemimpin tidak diberikan oleh lingkungan. Meskipun perempuan secara kapasitas tidak kalah dengan laki-laki. 

    Pastinya suatu kepemimpinan dianggap berhasil apabila mewujudkan keadaan yang lebih baik daripada sebelumnya. Tidka mudah menjadi seorang pemimpin bagi perempuan. Apalagi kondisi sosi-kultural kita dengan didukung oleh agama mengecam adanya pemimpin dari kalangan perempuan. Setidaknya apabila ada kesempatan perempuan menjadi seorang pemimpin, dia harus mempersiapkan diri dengan kemampuan pribadi didukung dengan latar belakang pendidikannya.

    Menjadi pemimpin yang berhasil, terdapat nilai-nilai dasar kepemimpinan yang harus dimiliki, yaitu sebagai berikut:
    1.    Intelegensi yang relatif tinggi dari pada yang dipimpin
    2.    Berfikir positif
    3.    Kedewasaan sosial dan cakupan jangkauan yang luas
    4.    Menjadi panutan yang baik
    5.    Menjadi pendengar yang baik
    6.    Keterbukaan dalam komunikasi
    7.    Tidak mudah menyerah

    Apabila, perempuan dengan dibekali kemampuan dasar seperti diatas didukung dengan kesempatan yang sama dengan laki-laki, hal ini tentunya menjadi wujud keikutsertaan perempuan dalam membangun bangsa dan negara.

    Kepemimpinan Perempuan dalam Islam
    Menjadi polemik selanjutnya ketika perempuan menjadi seorang pemimpin pasti akan dibenturkan dengan teks-teks agama. Banyak dalil-dalil agama Islam yang penafsirannya bahwa yang berhak menjadi seorang pemimpin adalah laki-laki. Sehingga perspektif yang dibangun adalah Islam hanya menerima pemimpin dari golongan laki-laki.

    Akan tetapi tidak pernah disinggung bahwa dalam al-quran masih menyebutkan perempuan yang diakui kepemimpinannya. Ratu balqis pada saat periode nabi Sulaiman A.S menjadi simbol kepemimpinan perempuan. Setidaknya cerita tentang ratu Balqis ini dialam dua surat (an-Naml, dan al-Anbiya’).
    Cerita bahwa perempuan juga memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi pemimpin ini juga didukung beberapa ayat al-Qur’an
    1. Q.S At-Taubah ayat 71 “ dan orang-orang yang berimana laki-laki dan perempuan," sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah SWT dan rasulnya. Mereka akan diberi Rahmat oleh Allah SWT sungguh Allah Maha Perkasa dan Bijaksana”.
    2. Q.S Al-Mumtahanah ayat 12 “Wahai nabi! Apabila perempuan-perempuan mukmin datang kepadamu untuk mengadakan baiat, bahwa mereka tidak akan menyekutukan sesuatu apapun dengan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta, yang mereka ada-adkan antara tangan dan kaki merekadan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka teriamlaah janji setia mereka dan mohonkankah ampunan untuk mereka kepada Allah, Sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang
    3. Q.S Al-baqarah ayat 30 Tentang tugas kekhalifahan manusia tidak dibedakan antara laki-laki maupun perempuan.
    Akan tetapi ada pula ayat-ayat alqur’an yang dijadikan dalil untuk mencegah perempuan mejadi seorang pemimpin. Yakni dalam  Q.S An-Nisa ayat 34 “Ar-rijal Qawwamuna ‘alan Nisa’ bimaa fadhdhalallahu ba’dhahum ‘ala ba’dhin wabimaa anfaquu min amwalihim......

    Banyak tafsiran yang menyatakan "qawwamuna" ini adalah pemimpin. Sehingga dijadikan dasar bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan karena laki-laki telah dilebihkan atas perempuan.Menurut 

    Nasharuddin Umar, dari ayat tersebut ada beberapa hal yang perlu diperhatikan secara krtitis:
    1. Asal-usul ayat ini turun dalam kontekd kerumahtanggan (domesticsphare), bukan dalam konteks lingkup publik (public sphare)
    2. Redaksi ayat ini tidak dikatakan bima fadldlallahu alaihim ba’dlan atau bitafdlilihim 'alaihinn atau bima fadldlalallah al-rijal 'ala al-nisa (oleh karena Allah telah memberikan kelebihan kepada laki-laki di atas perempuan), tetapi dikatakan: bima fadldlalallah ba'dlahum 'ala ba'd (oleh karena Allah telah melebihkan sebagian di antara mereka atas sebagian yang lainnya). Menurut mufassir besar Muhammad Abduh dalam Al-Manar-nya, ayat ini tidak memutlakkan kepemimpinan dan perlindungan laki-laki terhadap perempuan. Dalam masyarakat yang sudah berubah, tidak selamanya suami lebih unggul daripada istri
    3. Ayat ini menggunakan kata Ar-rijal (gender term) yang menunjuk pada kapasitas tertentu yang dibebankan budaya terhadap laki-laki tertentu, bukannya menggunakan kata al-dzakar (sex term), yang menunjuk kepada setiap orang yang berjenis kelamin laki-laki
    4. Kata “qawwamun” diartikan oleh DEPAG dengan “pemimpin” padahal lebih tepat diartikan sebagai pelindung, sebagaimana halnya terjemahan al-quran ke dlam bahasa inggris diartikan dengan “protector”, maintainers”. Pemimpin konotasinya struktural dan pelindung konotasinya fungsional. Ini adalah satu diantara sekian banyak contoh terjemahan Al-qur’an yang bias Gender.
    Dan ada juga hadist yang menjadi andalan bagi golongan yang kontra terhadap kepemimpinan perempuan. Yang dipopulerkan oleh Abi Bakrah Rasulullah bersabda:” Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusannya kepada perempuan”, (HR. Bukhari, An-Nasa’i, Ahmad). Hadist ini merupakan tanggapan rasulullah terhadap kerajaan Persia yang menganggkat putri rajanya sebagai pemimpin. Nama putri tersebut adalah Buwaran yang secara kapasitas kepemimpinan masih kurang. Selain itu, abi Bakrah yang mempopulerkan hadist ini mengalami keadaan yang sulit ditnagh pertarungan politik antara sayyidina ‘Aly dan Aisyah. Dan tentunya bisa disimpulkan bahwa populernya hadist ini karena memang dihadapkan pada kondisi politis.

    Tafsiran teks yang tidak didasarkan pada kontekstual terhadap al-qur-an dan hadist dengan ditunggangi kepentingan politis, ini menjadi pertahanan kokoh bagi laki-laki untuk melanggengkan kekeuasaannya. Sehingga sosio-kultur masyarakatpun ikut mengamini bahwasannya perempuan itu tidak layak menjadi seorang pemimpin.
    Kesimpulan
    Kepemimpinan merupakan isu yang masih dikaitkan dengan jenis kelamin. Padahal berbicara kepemimpinan itu merupakan kemampuan sesseorang dalam mempengaruhi orang yang dipimpinnya. Kualitas diri seorang pemimpin harus lebih daripada yang dipimpin.

    Laki-laki atau perempuan memiliki hak yang sama dalam memimpin. Layak atau tidaknya laki-laki dan perempuan ditentukan dari kualitas intelektual, professionalism yang dipunya. Bukan permasalahan karena dia dilahirkan sebagai perempuan.

    Akan tetapi perempuan sebagai pemimpin, dikehidupan masyarakat kita masih menemui bebrapa hambatan sosial budaya yang dikuatkan dengan tafsiran agama. Tentunya hal ini perlu adanya pemahaman bersama secara universal terkait dengan hak-hak yang sma antara laki-laki dan perempuan. Perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama disegala bidang. Siapapun pemimpinnya baik laki-laki atau perempuan yang terpenting bagaimana mereka membawa pereubahan sosial kearah yang lebih baik.

    Daftar Pustaka:

    Kimbal Young dalam Kartono, Kartini.1983. Pemimpin dan Kepemimpinan: Apakah Pemimpin Abnormal itu?. Jakarta: CV Rajawali.
    Ibrahim dalam Tan, Melly G.ed.1991.Perempuan Indonesia Pemimpin Masa depan?. Jakarta. Pustaka sinar harapan
    Nasaruddin Umar. 2001. Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an. Jakarta: Paramadina
    Nasaruddin Umar. 2010. Fikih Wanita Untuk Semua. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta 
    *Disampaikan dalam Diskusi Rutin GusDurian Malang pada tanggal  03 April 2013 di Warung Pak Jo GalunggungMalang
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Artikel Kajian : Dilematis Kepemimpinan Perempuan Rating: 5 Reviewed By: GUSDURian Malang
    Scroll to Top