728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Senin, 29 April 2013

    Saudara perempuanku: Belajar politik kepada GusDur

    Oleh: M. Afief Hasan

    ***

    Suasana hingar-bingar di pentas politik nasional dekat ini, berkembang dengan sendiri tanpa kendali dan menjadi sorotan utama dikala ada maneuver politik yang dianggap nyeleneh oleh masyarakat kebanyakan. Maka, kebanyakan orang sering terkecoh bahwa politik itu bukan carayang baik untuk kesejahteraan rakyat dengan segala kebijakannya. Adapula politik yang belakangan ini merupakan konsekuensi dari setiap pembelaan atau (politik pencitraan), sebagaimana inilah kritik saudara perempuan yang kemarin saya temui. Terkadang terpaksa mengancam jika sudah melewati ambang toleransi.Pembelaan, itulah kunci dari ketidak berdayaan menghadapi fenomena perpolitikan dan munculnya suara-suara sumbang dari seluruh elemen masyarakat. Ini memangberbeda dengan politik KH. Abdurrahman Wahid (Almarhum) yang mana seluruh agenda politik dan segala kebijakannya untuk diberikan demi kesejahteraan, keadialan rakyat, bukankah di dalam kaidah fiqh disini diutamakan darul mafasid muqaddamun 'ala jalbil mashaalih (mencegah kerusakan di utamakan karena membawa kebaikan). Ini kaidah hukum agama yang selama ini kita pegang,bukan?

    Hebat, ujar saya kepada saudara perempuan yang saya temui itu, meskipun ia tidak mengerti betul apa yang harus dilakukan di dalam dunia perpolitikan akan tetapi, kemauannya untuk belajar tentang politik memang cukup tinggi tanpa melihat setatus. Ini adalah usaha perjuangan strategis jangka panjang untuk setiap politisi perempuan, sekaligus merupakan pelaksanaan UUD yang memang kuota 30% dikhususkan buat mereka, ini perlu (harus) dilakukan untuk memperkokoh peranan perempuan di kancah perpolitikan.

    Inilah kemampuan perempuan sebenarnya, yakni berani di segala situasi termasuk dipolitik itu sendiri. Kemampuan yang dirasa selama ini, memang lebih mendiskriminasi mereka, menggangap mereka lemah tanpa daya, sekalipun kaum perempuan mempunyai kemampuan berpolitik dan intelekjesia yang mumpuni. Sekarang ini, kita harus banyak memberikan kepercayaan kepada mereka. Bukan lagi bertanya tentang kesetaraan gender dan peranannya. Pertanyaan apakah dan mengapa ada masalah bagi kaum perempuan yang merupakan akar perdebatan isu perempuan telah memunculkan tanggapan yang sangat beragam itu.

    Belajar dari KH. Abdurrahman Wahid (Almarhum)- selanjutnya di singkat GusDur) memang tidak harus bertemu dengan beliau, karena memang juga beliau sudah wafat di tahun 2009 lalu (semoga tenang, dan generasinya bisa melanjutkan nilai perjuangan beliau), belajar melalui segala kebijakan yang telah beliau buat dan melalui tulisan beliau juga merupakan usaha yang bisa membantu kita memahami tentang sepak terjang beliau di dunia politik dan memimpin organisasi besar (PBNU). Sebetulnya Gus Dur telah membuka jalan kepada generasi muda satu demi satu agar mereka dapat maju di segala lini dengan sepenuhnya tanpa tersesat pada peradaban yang serba tidak menentu ini.

    Selanjutnya, telah banyaknya literature tentang politik yang ditulis oleh Gus Dur (Almarhum), yang mana di dalam tulisan beliau yang di harian Kompas 23 Januari 1982 dengan judul “NU dan Politik”, disebutkan orientasi politik mulai berkembang di kalangan NU, ketika jumlah orang muda memegang pimpinan pengurus harian (Tanfidziah) sejak akhir dasawarsa tiga puluhan., Mahfudz Siddiq, Abdullah Ubaid, M. Ilyasdan A. Wahid Hasyim adalah eksponen kecenderungan untuk menggalang kesatuan gerak dengan kelompok-kelompok muslim di luar NU. Apalagi waktu itu tengah berlangsung polemic perdebatan tentang dasar-dasar Negara, yanga akan ditubuhkan di bumi Nusantara kelak, karena keyakinan semakin mendekatnya saat kemerdekaan dicapai. Yang terkenal di antara perdebatan seru itu adalah polemicantara Moh Natsir dan Soekarno, yang sedikit-banyak tentu menumbuhkan loyalitas primordial antara para pemuda yang tergabung dalam berbagai gerakan Islam, termasuk NU. Ini merupakan gambaran beliau kondisi politik yang harus ditempuh para politisi kelas tinggi yang memberikan kemerdekaan bagi Indonesia yang bukan hanya sekedar berwatak politis, akan tetapi memberikan kebebasan (jiwa-raga) bagi seluruh masyarakatnya tentang arti politik secara memerdekakan dari segala bentuk jajahan.

    Semisal, Gus Dur (Almarhum) pernah mengkritik keras kepada MUI dikala memprakarsai penyelenggaraan Kongres Umat Islam, yang mana pembahasan itu berkaitan dengan masalah politik, apakah seorang perempuan diperbolehkan menjadi presiden atau tidak. Sejumlah organisasi Islam yang masih mempertahankan pandangan lama mencoba mendesak Kongres untuk mengeluarkan keputusan yang mengharamkan perempuan menjadi presiden. Terkait kritik keras Gus Dur (Almarhum), mengatakan bahwa fiqh yang dianut ulama peserta Kongres Umat Islam adalah “fiqh abad pertengahan yang tidak selalu sesuai dengan keadaan masa ini.” Beliau juga mengatakan bahwa menurut pendapatnya, “syarat utama untuk pencalonan presidendan wakil presiden adalah kemampuan mereka untuk menegakkan keadilan dan harus benar-benar dipilih rakyat.” 

    Ini merupakan temuan yang jarang disampaikan oleh siapapun, Gus Dur (Almarhum) memberikan (jalan) pelajaran kepada kita tentang bagaimana kita harus mempunyai kemampuan berpolitik itu. Kemarin diwaktu diskusi ada sebuah pertanyaan; apakah ada konsep peran politik bagi perempuan, menurut politik Gus Dur (Almarhum)?, memang ini  pandangan betapa sempitnya kemampuan berpolitik itu sendiri, apalagi dikhususkan kepada kaum perempuan. Sebenarnya bagi beliau bukan hanya kaum muda dari laki ataupun perempuan, jika semuanya mempunyai kemampuan dan bisa berbuat di dunia per-politikan dengan potensi di dalam diri yang amat besar dan relative utuh serta bisa membawa kemanfaatan bagi masyarakat yang ia wakili, ia sudah peran besar bagi penegakan kehidupan bangsa yang lebih demokratis dan lebih berkeadilan.
    ***

    Peran perempuan dengan segala upaya dan usahanya di dalam dunia politik tidak akan berhenti dan akan terus berkembang, seiring kepercayaan yang di berikan kepada mereka. Gerakan perempuan adalah pelaksanaan dari segala teori perempuan; di mana segala proses gerakan untuk menciptakan hubungan antar sesama manusia yang secara mendasar, lebih baik dan lebih adil. Sesungguhnya, secara politik memang sangat represif, dan secara kultural melahirkan dominasi. Jadi, proses demokratisasi merupakan satu-satunya cara danproses yang memungkinkan terciptannya ruang kesempatan, wewenang dan memungkinkan membangkitkan kepercayaan yang kuat kepada rakyat luas untuk mengelola dirinya dan aksi bersama, yang dituju peran politik perempuan itu berprinsip persamaan derajat dan keadilan. Pernyataan ini menunjukkan bahwa gerakan  kaum perempuan yang cukup signifikan, perubahan telah menciptakan perubahan dalam budaya. Yang sebelumnya kita masih berbayang jika perempuan harus ada di belakang laki-laki (dalam arti lama), sejajar lebih tepatnya untuk menjalankan segala peran, termasuk peran politik. Dan ini pelajaran hidup di dalam menghargai persamaan hak yang harus di miliki oleh setiap manusianya tanpa membedakan jenis kelamin itu sendiri. Memang, kebanyakan dari kita tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa dunia ini dapat berubah. 

    Menghadapi perkembangan politik yang terjadi di Indonesia dekat ini, terutama akan di daerah jawa timur yang sebentar lagi akan di langsungkannya pesta demokrasi yang mana ada Khofifah Indar Parawansa dari kalangan Nahdliyin sebagaimana calon Gubernur perempuan satu-satunya yangmemang siap tampil ke permukaan meskipun di pemilihan yang lalu ia kalah dari lawan politiknya. Dengan sendirinya ini fenomena bahwa kenyataan yang sudah terjadi dalam keadaan masa sebelumya dan di zaman sekarang di seluruh dunia. Ini merupakan konsolidasi demokrasi bagi seluruhnya, yang bisa dibangun dengan sejumlah perangkat prosedur dan mekanisme pengelolaan kekuasan, seperti sistem hubungan eksekutif-legislatif-yudikatif, sistem pemilihan umum, partai politik dan lain-lain. Banyak faktor yang mempengaruhi sejauh mana sebuah negara dapat mengkonsolidasikan demokrasi tersebut. Salah satu yang amat penting dalam konteks itu adalah adanya kultur demokrasi yang berkembang dalam masyarakat di suatu bernegara.

    Berdasarkan kenyataan bahwa kebangkitan peran perempuan di dalam politik adalah kenyataan sejarah yang terjadi dalam keadaan masa sekarang di seluruh dunia. Ideologi feminism telah memasuki dan mempengaruhi pikiran generasi muda, laki-laki dan perempuan. Pembahasan fiqhun-Nisa adalah pintu masuk bagi mereka untuk memasyarakatkan kesadaran di kalangan masyarakat ataupun ulama tradisionalis bahwa kecenderungan diskriminasi tidak bisa dibiarkan lagi. Lebih jauh, keterlibatan ulama dan cendekiawan perempuan merupakan suatu keniscayaan dalam pemikiran keagamaan, terutama jika masalah-masalah yang langsung atau tidak mempunyai kaitan dengan kepentingan perempuan.

    Dalam nada yang sama, memang saudara perempuanku ini harus banyak belajar tentang bagaimana politik dengan segala peran dan kebijakannya. Langkah awal belajar melalui Gus Dur (Almarhum) memang saya pandang tepat,tapi tidak hanya belajar, melainkan banyak berbuat apa yang telah ia pelajari. Entah itu, dari setiap kawan dan lawan politiknya, ini merupakan langkah kongkrit di dalam berpolitik. Sebagai langkah awal dari apa yang dilakukan memang tidak mudah membangunnya, semisal saling percaya (interpersonal trust) sesama politisi. Karena berbicara tentang budaya politik dominan (saat ini) berarti menyangkut dengan mentalitas yang terkait dengan sistem dengan harapan selanjutnya bahwa dengan sendirinya politik tersebut diterima dan ditrasmisikan ke dalam struktur berpikir masyarakat dan itu sangat bersifat askriptif dengan kebijakan yang bijak. Selanjutnya, merupakan sekaligus sikap moral yang luar biasa bagi kaum perempuan untuk memberikan peran politik yang bisa meminimalisir anggapan ataupun pandangan sebelah mata kepada mereka. 

    Waba’du, seperti halnya perjuangan yang kaum perempuan semisal; ibu Nyai Solichah Wahid (ibunda dari Gus Dur) yang telah berjuang dan mengabdi kepada masyarakat luas, beliau menjadi pengurus Muslimati (gerakan wanita) Nahdlatul Ulama dan karena keaktifan dan prestasinya dalam peranannya sejak 1957 beliau terpilih Anggota DPRD DKI Jakarta (1957), Anggota DPR-GR/MPRS (1960), Anggota DPR/MPR (1971-1987) yang memang beliau mendapat curahan semangat dari KH. Wahid Hasyim (Almarhum). Sama halnya pahlawan dari kaum perempuan; Cut Nyak Din, Cut Nyak Mutya, Kartini (selamat hari kartini 21 April,kemarin) dan seterusnya, yang telah memberikan peran secara total demi bangsa Indonesia, bukan hanya dari segi politik, ekonomi, sosial, melainkan memerdekakan bangsa dari penjajahan dan memberantas kebodohan. Kaum perempuan memang layak untuk berperandan berbareng bergerak dengan kaum laki-laki, dan haruslah kita imbangi dengan kesediaan memperjuangkan demokrasi dalam artian sebenarnya, terlepas predikat apapun yang dilekatkan kepada kaum perempuan. Peran politik tidak akan datang begitu saja dengan sendirinya, ia harus dicapai dengan kemampuan, kemahiran berpolitik,  perjuangan dan pengorbanan dari seorang politisi itu sendiri. Bukan?


    = disampaikan di dalam diskusi rutin GARUDA, tanggal 24 April 2013 di warung Pak Jo | Jl. Galunggung
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Saudara perempuanku: Belajar politik kepada GusDur Rating: 5 Reviewed By: GUSDURian Malang
    Scroll to Top