728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Rabu, 15 Mei 2013

    Gus Dur dan Tulisan yang Tidak Selesai

    Oleh: Mahalli 

    Dalam artikelnya yang berjudul Kemiskinan, Kaum Muslimin dan Partai Politik , Gus Dur seakan ingin mengajak kita berpikir tentang bagaimana cara mengentaskan kemiskinan, lebih tepatnya pemiskinan yang bergerak secara struktural. Meski isi tulisan ini berkaitan penuh dengan tugas partai politik sebagai organisasi politik kerakyatan, namun bisa dipahami juga untuk diambil semangatnya bagi organisasi nonpolitik yang tidak menghendaki terjun dalam arus besar perebutan kekuasaan. Jadi ide tentang penyejahteraan ini, yang memang berasal dari ide umum lalu dikhususkan, bisa diumumkan kembali dalam rangka mengambil semangat pengentasan kemiskinan dari sudut pandang masyarakat sendiri.

    Menegaskan pernyataan Gus Dur tentang tugas partai politik, seharusnya partai politik mampu mendidik masyarakat, tidak sekedar menjadikan alat politis merebut dominasi kekuasaan dalam sebuat negara. Pasal 22 nomor 2 tahun 2008 tentang partai politik menegaskan bahwa partai politik harus mampu mendidik masyarakat. bukan hanya pendidikan politik, namun juga pada pendidikan yang lain yang mampu menyokong tumbuhnya masyarakat berkesejahteraan.

    Problem struktural harusnya diselesaikan dengan cara-cara struktural pula. Apa yang bisa kita lakukan? Adalah dengan menggerakkan struktur sosial melalui orang perorang dalam struktur masyarakat tersebut. Struktur masyarakat inilah yang harus diubah menuju penyejahteraan. Meski Gus Dur dalam artikel di atas membicarakan tugas partai politik dalam penanggulangan kemiskinan, bisa jadi kita tafsiri ide dalam tulisan ini adalah penanggulangan kemiskinan melalui gerakan nonpolitis birokratis.

    Metode berpikir Gus Dur yang tampak strukturalis dalam artikel tersebut disesuaikan dengan kondisi dan problem yang sedang dialami dan mendesak untuk segera diselesaikan. Gus Dur menyatakan dengan sangat Qur’ani bahwa kondisi sosial kemasyarakatan (kemiskinan, bencana, dan lainnya) tidak berkaitan dengan Tuhan dan takdir. Tuhan akan membiarkan permasalahan masyarakat jika masyarakat tersebut tidak menginginkan problem solving dari masalah tersebut. Sebagaimana Allah berfirman bahwa Ia tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu berinisiatif melakukan perubahan atas dirinya. Namun apa yang harus dibangun terlebih dahulu? Yang pertama adalah modal budaya dan modal sosial agen dalam struktur untuk mengubah itu; dan yang kedua adalah bagaimana agen itu mampu mentransformasi idenya pada orang lain guna memassifkan perubahan. Karena tanpa massifitas gerakan orang perorang, perubahan dan pemunculan solusi akan sangat utopis sekali.

    Melalui perubahan secara struktural itu, ada hal penting yang perlu dicatat dalam ide Gus Dur, yaitu ”... bukanlah memberikan ikan kepada rakyat, melainkan memberikan kail pada mereka untuk mencari ikan sendiri.” Tujuan dari ide ini, dalam bahasa yang mudah, agar masyarakat tidak manja dan bisa mandiri dengan permasalahan-permasalahan yang ada di sekitar kita. Sangat tidak mungkin jika masyarakat (kita) terus-terusan menunggu dan menengadahkan tangan untuk belas kasihan negara. Dalam hal ini, masyarakat menjadi bagian dari struktur negara, masyarakat adalah elemen-elemen kecil untuk menggerakkan roda kebangsaan yang sejahtera. Posisi masyarakat atau rakyat yang tergabung dalam kebersamaan memungkinkan tumbuhnya beragam ide penyejahteraan yang disatukan.

    Membiarkan masyarakat untuk merumuskan sendiri pemecahan dari persoalan bukanlah sikap apatis terhadap mereka, namun bagaimana kebijakan sosial bisa terbentuk dari bawah (bottom up). Intelektual organik dalam bahasa Gramsci hanyalah salah satu penyeimbang akan diarahkan ke mana perubahan dan pemecahan persoalan itu. Karena setiap orang merupakan intelektual, namun tidak semua dari orang-orang itu mempunyai fungsi intelektual.

    Jika kita ingin mencontohkan salah satu organisasi atau gerakan pengentasan kemiskinan, banyak sekali lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dibidang ini. Rata-rata dari semuanya itu berasumsi sama bahwa yang terjadi bukan sekedar kemiskinan, tapi pemiskinan. Asumsi ini bukan tidak punya dasar yang kuat, bisa dibuktikan dengan analisis struktural ekonomi politik dari global hingga lokal. Namun apa yang mereka (lembaga swadaya masyarakat atau organisasi) perbuat? Hanya sekedar santunan. Mereka membuat masyarakat pandai meletakkan tangan di bawah, menjadi peminta-peminta. Sama kasusnya dengan program Bantuan Langsung Tunai. Kita semua tahu apa yang masyarakat lakukan setelah menerima BLT. Bukan pengembangan modal yang mereka lakukan, namun menjadikan mereka sendiri sebagai bagian dari masyarakat konsumtif tanpa produktifitas yang seimbang.

    Masalah masyarakat bukan masalah yang selesai ketika menemukan solusinya, maka dari itu mereproduksi pemikiran (termasuk pemikiran Gus Dur) adalah keniscayaan bagi para penerus Gus Dur.

    *********
    Artikel ini disampaikan dalam kajian rutin GUSDURian Malang pada tanggal Lima Belas Mei Dua Ribu Tiga Belas. di WarKop Pakjo.
    Semoga Bermanfaat..:) 

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Gus Dur dan Tulisan yang Tidak Selesai Rating: 5 Reviewed By: GUSDURian Malang
    Scroll to Top