728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Jumat, 19 Juli 2013

    Tabayun Gus Dur

    Bismillahirrohmanirrohim...

    Dalam membicarakan topik idul fitri, kita terlebih dulu harus meninjaunya dari hakikat idul fitri sebagai akhir dari sebuah perjalanan yang berupa ibadah dalam bulan Ramadan, atau dalam bahasa kita di sebut bulan puasa. Ibadah ini di sifati oleh al-quran sebagai “kutiba alaikumus siyaamu kamaa kutiba 'alalladziina min qablikum..”- atas sekalian telah diwajibkan ibadah puasa sebagaimana ia di wajibkan bagi umat-umat lain sebelum kalian. Jadi dengan ini puasa adalah sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan dan tidak dapat di tinggalkan kecuali kalau ada alasan-alasan yang membenarkan hal itu.

    Dalam ungkapan lain ibadah puasa yang di masukkan dalam satu kegiatan dalam bulan Ramadan di ungkapkan sebagai “Syahru ramadhan awwalu-hu rahmatun, awsathu-hu maghfiratun, wa akhiru-hu 'itqun minan-naar.”- bulan ramadhan awalnya adalah penguatan tali-tali ikatan antar manusia ditengah-tengahnya adalah pemberian ampun atas segala kesalahan dan pada akhirnya bulan ramadhan berarti pembebasan dari ancaman api neraka.

    Terlepas dari apakah kita harus mengartikan 'itqun minan-naar (pembebasan dari ancaman api neraka) ini secara harfi atau leterlek ataupun arti kiasan sebagai alegori, yang jelas ibadah puasa itu memiliki awal dan memiliki akhir. Pada awalnya sebagaimana di sebutkan tadi bulan ramadhan adalah pembebasan atau penegasan ikatan-ikatan antara sesama manusia. Dengan kata lain ia adalah pemberian tuhan kepada manusia yang berupa adanya keharusan untuk memelihara hubungan antar manusia secara baik. Ini merupakan sendi dari kehidupan masyarakat, panggilan untuk senantiasa berfikir tidak dalam konteks individual semata-mata melainkan juga dalam kerangka kemasyarakatan.

    Setiap gerak kita untuk memenuhi kebutuhan individual kita masing-masing, diletakkan dalam sebuah kerangka kemasyarakatan yang meliputi atau berakibat atas keseluruhan kehidupan masyarakat itu. Karena itulah orang berpuasa pada hakikatnya membuat sebuah pekerjaan yang besar, bagaimana mengokohkan ikatan-ikatan sosial kita sebagai manusia. Ini merupakan tugas yang tidak ringan tetapi sangat mulia, karena dia merupakan salah satu bagian dari pelaksanaan tugas keutusan nabi Muhammad saw, kepada umat manusia sebagaimana dinyatakan dalam al-quran “Wama arsalnaka illa rahmatan lil alamin.”- tiadalah Ku utus engkau wahai Muhammad kecuali untuk pembawa ikatan yang kokoh di antara semua umat manusia. Jadi tugas keutusan beliau sebagai nabi, kita kokohkan dalam perbuatan meningkatkan ikatan sosial kita dalam bulan suci ramadhan itu. Inilah hal pertama yang harus kita ingat selalu.


    Wallahua’lam wa gusdur bish shawab..  
    Semoga bermanfaat

    Catatan ini di petik langsung dari tabayun gusdur 01 (tausiyah puasa) versi mp3. (ahimsa)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Tabayun Gus Dur Rating: 5 Reviewed By: GUSDURian Malang
    Scroll to Top