728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Kamis, 26 Desember 2013

    TAPAK TILAS PERJALANAN #tulisdamai DI GEREJA


    Sudah seminggu terakhir, setiap siang dan sore hari  malang selalu diguyur hujan. Hari itu hujan sangat deras sehingga aktivitas keseharian dikota malang tidak seperti biasanya yang selalu macet, sebelas duabelas dengan Jakarta, ujar Sulhan (kader Gusdurian Malang) yang mengibaratkan kemacetan kota malang disaat cangkruan di v caffe. Namun, walaupun hujan deras melanda kota malang, tidak mematikan semangat para Gusdurian Muda Malang alias GARUDA Malang untuk mempersiapkan Kunjungan Natal Damai di Gereja Katetdral Ijen yang kebetulan saya dan sulhan adalah salah satu dari tim Kunjungan di Gereja tersebut. Acara ini terinspirasi ketika bedah buku "dialog peradaban untuk toleransi dan perdamaian". pada saat itu yang menjadi pembicara adalah bapak mohammad mahpur. beliau adalah salah satu sesepuh Gusdurian Malang yang sangat pro aktif memberikan sumbangsih pemikiran untuk kemajuan GARUDA Malang dari awal berdirinya komunitas ini sampai sekarang.

    Ketika selesai acara kajian, masih banyak para penggiat GARUDA malang yang belum meninggalkan tempat karena ada beberapa pertanyaan yang belum tuntas terjawab disebabkan oleh batas waktu kajian. Dengan nuansa non formal dan lebih nyantai, satu persatu pertanyaan yang belum tuntas dijawab akhirnya tuntas dijawb oleh pembicara dan juga para penggiat GARUDA malang. 

    Tersentak, dari ngobrol-ngobrol di luar kajian tersebut muncul ide untuk  memanesfestasikan hasil kajian tersebut dalam tindakan yang riil dikarenakan "empati" dan "komunikasi" yang baik dengan orang-orang lintas iman yang merupakan "spirit perdamaian", tidak akan ada dampak yang signifikan terhadap perdamaian didunia khususnya Indonesia ketika hanya berhenti di kajian saja. Akhirnya pak mahpur menawarkan kepada Garuda Malang untuk membuat agenda Kunjungan natal. Dari sinilah cuap-cuap perjalanan tulis damai dimulai.
    *** 

    Siang itu, saya dan sulhan menuju gereja katetdral Kayutangan kota malang untuk bertemu dengan romo Michael Agung. Beliau adalah imam pada Misa Natal ke-2 di katedral ijen. Dengan mengendarai sepeda motor dan jas hujan dibadan, kami bergegas menuju ke tempat untuk membicarakan tentang acara kunjungan natal GARUDA Malang yang bertemakan “menulis pesan damai di dalam gereja”. 

    Sungguh diluar perkiraan kami yang awalnya beranggapan ketika seorang muslim dan nonmuslim ngobrol pasti agak sedikit kaku, ternyata tidak. Kami dan romo agung ngobrol layaknya teman lama yang baru dipertemukan. Ditemani secangkir kopi, banyak sekali yang kami obrolkan mulai dari kerukunan antar umat beragama di Indonesia sampai dengan politikus-politikus Indonesia yang banyak terjerat kasus Korupsi. 

    Romo agung : “Korupsi adalah pendosa berat dan hukuman setimpal yang layak diberikan yaitu dibuang ke laut dengan ikatan batu dilehernya” (ujar Romo agung yang mengutip dari perkataan Paus Fransiskus dengan wajah yang serius dan jari telunjuk yang sejajar dengan kepala)
    Saya dan sulhan : “geh bener itu romo” (sambil menganggukkan kepala)

    Tak terasa sudah dua jam kami mengobrol dengan beliau. dan ternyata Jam dinding menujukkan pukul 13.30, entah mengapa spontan beliau bertanya kepada kami. 

    Romo agung : fauzan dan sulhan, apa sudah sholat dhuhur??
    Saya dan Sulhan: “Bebelum…romo” (wajah sedikit kaget, karena kami gak nyangka aja ternyata beliau perhatian terhadap peribadatan umat Islam. Seorang muslimpun belum tentu mengingatkan sholat sesama muslimnya)
    Romo agung: “ ada pa zan ? ada yang salah tah dengan ucapan saya ?”
    Saya: boten romo,..(dengan senyum).
    Romo agung: ya sudah, saya kira cukup sampai disini dulu obrolannya, kita lanjutkan nanti pada saat misa natal.
    Saya : berarti kami diterima untuk berkunjung di gereja  romo??
    Romo agung: Tentu saja, tidak ada alasan buat kami untuk tidak menerima temen-temen muslim khususnya Komunitas Gusdurian ini. Habis ini saya telepon ketua panitia natal di gereja ijen untuk pemberitahuan supaya mempersiapkan tempat buat teman-teman Gusdurian Malang.
    Saya : geh romo, terima kasih banyak  

    Akhirnya kami semua berdiri dan keluar dari ruangan itu sambil beliau menggandeng saya. Sesampai di pintu, kami bersalaman dan mengucapkan.

    Saya : kami pulang dulu romo, sampai ketemu di misa natal tanggal 24 nanti. sore romo…
    Romo: ya, sore juga,…

    Sekarang sudah tanggal 24, Pagi itu teman-teman gusdurian malang mulai sibuk semua, ada yang membeli mawar ada juga mengkonfirmasi ulang terkait teknis pada saat digereja. Akhirnya siang itu, persiapan sudah 90 persen, tinggal mendekorasi mawar damainya. Semua yang ikut kunjungan natal ngumpul di basecamp GARUDA untuk mempersiapkan bunga mawar damai tersebut. 

    Akhirnya yang kami tunggu-tunggu datang juga,  jam 18.00 tim katedral ijen ngumpul di gerbang UIN Malang. Setelah semuanya ngumpul kita berangkat bareng, saya bersama aunul (salah satu penggiat GARUDA Malang) sebagai “Guide” peserta kunjungan natal. 

    Saat tiba digereja, hampir semua mata tertuju pada kami karena ada beberapa peserta perempuan yang pakek jilbab, namun hal ini tidak masalah bagi panitia natal karena mereka tahu maksud kedatangan kami, akhirnya langsung diantar ke ruang tamu oleh panitia, dan disana kami telah ditunggu oleh ketua panitia yaitu bapak nugroho. 

    Saya :  malem pak nugroho (sambil bersalaman)
    Bapak Nugroho : malem juga fauzan, apakah temen gusdurian sudah datang semua?
    Saya : sudah pak,..
    (Semua peserta kunjungan bersalaman dengan semua panitia yang ada di ruang tamu dan langsung masuk gereja karena acara segera di mulai).

    Peserta kunjungan duduk dipaling belakang dengan disiapkan kursi khusus supaya tidak perlu ikut dalam ritual peribadatan katolik…Akhirnya tibalah saat dimana romo agung selaku imam misa natal beserta iring-iringannya masuk gereja. Sesampainya didepan, romo agung langsung naik mimbar dan memimpin jalannya misa natal. hampir dua jam romo agung memimpin jalannya misa natal. Selama acara berlangsung teman-teman sibuk dengan dirinya sendiri, ada yang ngefoto, ada yang nulis, ada yang ngerekam pidatonya romo agung, dan ada pula yang hanya bengong melihat misa natal itu, kalaupun mau ngobrol seperlunya saja dengan suara pelan karena memang tidak boleh suara keras apa lagi pada saat romo agung berpidato.

    Selama romo agung berpidato, ada beberapa point yang saya catat dari pidatonya terkait perdamaian, toleransi dan keadilan serta kearifan yang dihubungkan dengan keadaan bangsa ini, tidak terkecuali aspek politiknya. Sehubung dengan Gema natal tahun 2013 “datanglah, ya raja damai” menjadi sangat sinergis dengan tema acara gusdurian ini yaitu “tulis damai”. 

    Tema natal tersebut merupakan sebuah harapan dari umat kristiani akan datangnya sang pembawa damai dan penegak keadilan. Dengan demikian, semangat natal adalah semangat merefleksikan arti kristus (Isa almasih), yang telah menyatakan karya perdamaian dan keadilan bagi umat manusia. Dengan cara memanisfestasikan dalam kehidupan sehari-hari baik ucapan maupun tindakan dalam berbangsa dan bernegara. Sebab perdamaian sejati tidak akan terwujud tanpa ada keadilan, ujar romo agung.

    Romo agung: “Kalau kita ngomong tentang keadilan yang ditarik pada prilaku pejabat-pejabat pemerintah saat ini, masih jauh dari kata adil. Kita bisa lihat berapa banyak orang terjerat kasus korupsi, apakah itu adil buat bangsa ini ?, ujar romo agung ketika jumpa pers saat natal. 

    Peserta: (peserta serentak berkata) “tentu saja tidak romo”.

    Romo agung: “nah, oleh Karena itu, paus fransiskus mengibaratkan hukuman yang pas untuk seorang koruptor yaitu dengan cara dibuang ke laut dengan kalung batu dilehernya.

    Romo agung: ” saat ini kita diresahkan dengan tindakan-tindakan intoleran oleh kaum fundamentalis baik dari umat kristiani maupun umat islam, cepat atau lambat akan merusak kerukunan antar umat beragama. Oleh karenanya, ini semua menjadi PR kita bersama untuk menyebarkan energy-energi postif perdamaian dengan berbagai cara, yang tentunya dengan sopan dan santun”.

    Ungkapan tersebut selaras dengan apa yang dikatakan oleh putri pertama Gusdur yaitu Alissa Wahid dalam acara “Halaqah Kyai dan Tokoh Muda Pesantren” di Yogya. Perdamaian tanpa keadilan adalah ilusi, ujar mbak alissa wahid yang mengutip dari perkataan Gusdur.

    Distributor: Moh. Fauzan
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: TAPAK TILAS PERJALANAN #tulisdamai DI GEREJA Rating: 5 Reviewed By: GUSDURian Malang
    Scroll to Top