728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Selasa, 11 Maret 2014

    Catatan Seorang Relawan

    "Kabar meletusnya gunung kelud yaang terjadi pada hari kamis malam, tiga belas-februari-2014, tepatnya pukul 22.49wib sesuai informasi data yang di realese Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur. Hal ini, Menjadi musibah maut atau kepanikan tersendiri khususnnya warga di tiga kabupaten yakni; kediri, malang, blitar. Tak terkecuali mayoritas manusia yang berada di wilayah lain di Republik ini juga terkena efek abu yang juga menghujani sekitar pulau madura sampai yogyakarta".
    Adanya musibah ini yang lantas menghentakkan kami semua untuk segera berbuat sebisa mungkin mengamankan diri dan juga turun tangan langsung memikirkan kondisi saudara-saudara yang terkena dampak langsung erupsi gunung kelud. Tercatat waktu itu, kami terus intens ber-komunikasi bersama Jaringan Gusdurian (JGD) Nasional via watshapp & twitter mulai jum’at pagi. Suatu format akhirnya kami temukan dan disepakati di masing-masing komunitas Gusdurian di berbagai titik untuk membuat posko-posko bantuan dalam bentuk aksi penggalangan dana, kebutuhan obat-obatan, masker, makanan, dan lain-lain.
    Di kota malang yang menjadi basis kultural Gerakan Gusdurian Muda (GARUDA), dalam kondisi yang tidak terkena langsung efek erupsi dan letusan gunung kelud. Sehingga keadaan inilah yang  mendukung kami untuk berinisiasi melakukan aksi sosial “galang dana” di jalanan sekedar untuk meringankan beban tangisan kegelisahan para pengungsi. Dalam hasil kordinasi kami bersama kawan-kawan komunitas pada hari jum’at  malam menyepakati format aksi menggalang bantuan dana di beberapa tititik ruas jalan di bumi arema mulai hari sabtu sore tanggal lima belas-februari-2014, sekaligus membagi-bagikan stiker GusDur “Yang Paling Penting Dalam Hidup Adalah Perbuatan” sebagai simbol solidaritas kami.
    Namun rencana aksi sosial “galang dana” di jalanan kami gagal kala itu, karena minimnya personel di komunitas yang disaat waktu bersamaan juga ada kegiatan yang sama di masing-masing organ-nya.  Kondisi ini tidak lantas memadamkan ide dan langkah kami di komunitas Gusdurian Malang. Di sabtu malam akhirnya kami berinisiasi lain untuk beralih berangkat menjadi relawan, yang sebelumnya sempat komunikasi dengan teman-teman Gusdurian Kota Batu, mereka memberi kabar kepada kami bahwa di posko-posko pengungsian di beberapa titik area kota wisata ini sangat minim relawan untuk membantu segala kebutuhan terkait pengungsian.
    Malam itu juga kami langsung berangkat kaki bersama sekitar sepuluh pasukan relawan Gusdurian Malang menuju kota batu untuk berkordinasi sejenak dengan kawan-kawan di kantor PCNU kota batu untuk pembagian tugas di tiga titik pengungsian. kemudian kami beranjak menuju posko di pondok Nurul Qolbi di utara alaun-alun kota batu ini yang menampung sekitar dua ratusan pengungsi. Kami sempatkan menawari rokok dan minuman kepada bapak-bapak tua warga asal ngantang yang harus rela meninggalkan rumah nya demi keselamatan hidup mereka. Dan lantas sejenak kami ngobrol seputar peristiwa na'as erupsi gunung kelud ini. karena sudah terlalu banyak tim relawan yang rata-rata dari kalangan mahasiswa ini. Akhirnya, Sekitar pukul 22.00 wib malam itu kami memutuskan untuk beralih ke posko pengungsian yang lain, di Camp Ground  Gereja Paroki gembala baik. sampai besok harinya.
    Di hari berikutnya kami bersama tim relawan dari Gusdurian Kota Malang memprioritakan untuk nge-camp di posko vihara, mulai hari senin tanggal tujuh belas-februari sampai aktifitas di posko ini tuntas. Dari pagi, siang hingga malam aktifitas yang kami lakukan adalah sekedar membantu menjaga kemananan posko,  pendataan bantuan, ngangkut-ngangkut logistik, pencatatan dana yang masuk, menemani keluarga pengungsi, mengajak anak-anak khususnya, dari keluarga pengungsi untuk bermain dan olah-raga sekedar untuk memberi suntikan semangat atas musibah meletusnya gunung kelud ini.
    Sampai ada info resmi waktu itu dari PMI tentang status kegarangan semburan gunung kelud dinyatakan aman terkendali, dan tertanggal 21 februari 2014. Akhirnya secara resmi warga pengungsi di posko vihara yang sebagian besar berasal dari pandansari (ngantang) di izinkan pulang kembali ke rumah masing-masing dengan di fasilitasi kendaraan truk besar polisi bersama bebrapa tim dari kawan-kawan relawan yang juga ikut mengantar.
    Karena bagi kami, bencana seperti ini adalah menjadi musibah bersama. Yang harus disadari ini menjadi kewajiban untuk kita semua berjuang membantu, sebagai bentuk riil dari solidaritas atas nama kemanusiaan dan kearifan tradisi keindonesiaan kita.
    Sedikit cerita yang lain..selama berada di posko pengungsian, tidak semua warga pengungsi hanya berdiam diri. rasannya sudah menjadi biasa ketika pagi para warga terutama bapak-bapak yang mengungsi, berpamitan pulang sekedar untuk melihat keadaan rumah, membersihkan kerikil dan batu yang sempat dengan deras menghujani ribuan rumah, bahkan ketika di gereja paroki kota batu ini, ada beberapa warga pengungsi yang mengarit rumput di sekitaran posko camp ground untuk kebutuhan pakan ternak sapi dan kambing meraka, meskipun secara khusus sebenarnya sudah ada bantuan serta keamanan langsung dari Pemerintah setempat dan PMI yang telah menyiapkan tim kesehatan khusus untuk hewan ternak warga.
    Dan disela-sela aktifitas menjadi relawan di aula Sekolah Tinggi Agama Budha (STAB) kota batu ini, kami beserta kawan-kawan yang lain juga menyempatkan keliling sekitar Vihara Dhammadipa Arama yang berada di desa mojorejo. Yang Kala itu hari minggu tanggal 23-februari-2014 bertepataan dengan acara tahunan budhis, yang mana teman-teman relawan dari budhis menyebutnya sebagai acara “maghapuja” atau penghormatan di bulan maga. Pagi itu pun kami sarapan tidak seperti biasanya makan nasi bungkus atau mie instan bersama para pengungsi, seperti kecipratan setetes rezeqi . kami dari tim relawan di ajak menyantap masakan khas di vihara Dhammadipa Arama ini. Secara filosofi, nama Dhammadipa Arama adalah vihara besar, istilahnya “al-akbar” jikalau komunitas muslim menyebutnya.
    Pada tanggal 28-Februari-2014 di posko vihara sudah tidak ada lagi pengungsi, namun kami masih harus menuntaskan tugas pekerjaan yang belum usai. Mas yohanes arifin dari STAB yang selaku koordinator relawan berinisiasi bersama seluruh relawan untuk mengemasi barang-barang logistik yang berisi makanan, peralatan mandi, obat-obatan, pakaian, dll-nya hingga terbungkus secara rapi menjadi lebih dari 900 paket sembako. Dan pak junaedi yang di dapuk sebagai kordinator posko di vihara ini pun tak ketinggalan memberi kabar untuk pengiriman 900 paket sembako sekaligus bahan material ke daerah pandansari-ngantang yang menjadi area tempat tinggal  warga para pengungsi kemaren itu, akan dilaksanakan tanggal delapan sampai sembilan maret-2014.
    Disaat waktu pengiriman bantuan logistic tiba, kami tim relawan berkumpul kembali di eks-posko pengungsian di Vihara ini. Lantas berangkat bersama menuju lokasi untuk distribusi bantuan. Saat hamper sampai di perampungan warga, kami sempat disuruh berhenti oleh petugas keamanan karena siang itu secara kebetulan bersamaan dengan kunjungan Pakde Karwo (Gubernur Jatim), Rendra Kresna (Bupati Malang), beserta rombongan pejabat lain. Akhirnya di pinggiraan jalan waduk selorejo kami berhenti demi memberi ruang jalan yang lebih lebar kepada orang nomer “wahid” di jatim ini, kami hanya sempat melihat lambaian tangan dan kumis tebal beliau dari balik kaca mobil yang ditumpanginya.
    Akhirnya, karena kondisi cuaca yang tidak mendukung di lokasi tempat penyerahan bantuan logistik dan material untuk warga membuat rencana bermalam kami pun terpaksa harus di batalkan. kami hanya sebatas menurunkan paket bantuan, sementara bantuan yang lain di serahkan kepada petugas TNI dan juga pengurus dusun disana. Setelah itu kami semua di suruh untuk segera balik turun dari wilayah dusun munjung pandansari, karena sore itu tiba-tiba hujan dan biasanya sering terjadi banjir di sungai yang sempat kami lewati tadi siang.

    Pada hari minggu pagi kami bersama rekan-rekan yang lain menyempatkan “resik-resik” kerja-bakti di aula STAB Vihara Dhammadipa Arama, sebagai detik-detik terakhir yang melelahkan namun menyenangkan buat kami sebagai relawan. (*)














    Salam Satu Jiwa Jaringan GUSDURians, Namo Budaya untuk rekan-rekan relawan @Kelud_V14

    anas_ahimsa

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Catatan Seorang Relawan Rating: 5 Reviewed By: GUSDURian Malang
    Scroll to Top