728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Jumat, 08 Agustus 2014

    BERAWAL DARI IKATAN

    Madura, 02 Agustus 2014
    Moh. Fauzan

    "SEJATINYA, harus ada kata bijak “engkau ber-gaya maka engkau ada”. Karena menjadi orang penting itu baik, tapi menjadi orang baik itu lebih penting. Meskipun ganjil terdengar, tapi tetap itu penting. Kata bijak bukan sekedar pemanis buatan kesusastraan. Dibutuhkan pengalaman pahit untuk merumuskannya. Dibutuhkan berdiri ditepi jurang yang terjal untuk melihat, mendengar, berfikir dan merasakan segala sudut kehidupan. Dibutuhkan suka-duka, tangis-senyuman, sukses-gagal dalam aliran kehidupan. Dibutuhkan “gaya” untuk dikatakan ada "

    Dalam dunia ilmu kimia penyusun utama dari alam semesta adalah suatu benda yang disebut dengan “atom”. Atom bukanlah bagian terkecil dari penyusun alam semesta, berkat “gaya” antara proton, elektron dan neutron yang membuat dirinya dikatakan atom. Entah itu “gaya tarik” ataupun “gaya tolak”, keduanya yang membuat dirinya ada. 

    Setiap atom harus menyumbangkan energi yang dimilikinya untuk membentuk ikatan. Ikatan antar kedua atom atau lebih inilah yang disebut dengan (ikatan intrapersonal)  Masing-masing harus memberikan sebagian miliknya untuk dimiliki bersama membentuk suatu molekul. Saling berbagj untuk mewujudkan ikatan yang dicita-citakan. Ini semua bukanlah sebuah pengorbanan, tetapi sebuah persembahan untuk mewujudkan komitmen bersama dalam sebuah hubungan harmonis. Bahkan, gaya antar molekul juga menjadi fitrah dari alam semesta ini sehingga kita dapat merasakan semua yang ada disekitar kita dengan pancaindra yang kita miliki. Ikatan antar kedua molekul atau lebih inilah yang disebut  dengan (ikatan interpersonal).

    “Sebelas dua belas” dalam dunia ilmu komunikasi, kita sering mengenal kata komunikasi intrapersonal dan interpersonal. Secara umum, komunikasi intrapersonal adalah penggunaan bahasa atau pikiran yang terjadi didalam individu itu sendiri. Sederhananya, disaat kita berdo’a; kita mencoba melakukan komunikasi dengan Tuhan dan disaat kita lapar, kita sering merasakan ada sesuatu dalam perut kita. Sedangkan komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang dilakukan kepada pihak lain untuk mendapat umpan balik, baik secara langsung maupun lewat media. 

    Kedua komunikasi tersebut tidak serta merta ada begitu saja dalam diri seseorang, semuanya dipengaruhi oleh kecerdasan dalam dirinya, baik kecerdasan intrapersonal maupun kecerdasan interpersonal. Kecerdasan intrapersonal sebagai kemampuan  dalam memahami diri sendiri dan bertindak berdasarkan pemahaman tersebut. Sedangkan kecerdasan interpersonal sebagai segala sesuatu yang berlangsung antar dua pribadi, mencirikan proses-proses yang timbul sebagai suatu hasil dari interaksi individu dengan individu lainnya. Kecerdasan interpersonal menunjukkan kemampuan seseorang untuk peka terhadap perasaan orang lain. Mereka cenderung untuk memahami dan berinteraksi dengan orang lain sehingga mudah bersosialisasi dengan lingkungan di sekelilingnya. 

    Menurut beberapa psikolog, Orang yang memiliki kecerdasan intrapersonal lebih dominan, pada umumnya mandiri. Selain itu, mereka memiliki rasa percaya diri yang besar serta senang bekerja berdasarkan program sendiri dan hanya dilakukan sendirian, mudah tersinggung, acuh tak acuh, kelesuan, kelambatan, dan apatis (semacam depresi kepribadian). 

    Orang yang memiliki kecerdasan interpersonal lebih dominan biasanya akan merasa puas dalam bekerja, meskipun mendapat berbagai perlakuan (seperti gaji yang kurang, fasilitas kerja yang terbatas, dll), hal ini dapat terjadi karena orang yang memiliki kecerdasan interpersonal tinggi biasanya memiliki kemampuan untuk menjalin relasi, mampu berkomunikasi dengan berbagai orang, mudah berempati, suka berteman dan bekerjasama, mempunyai lebih dari dua teman dekat, memberikan nasihat pada teman yang sedang dalam kesulitan, sehingga orang tersebut akan dapat bersosialisi dengan baik. Namun meskipun begitu, kedua kecerdasan tersebut dibutuhkan oleh setiap seseorang. Dan akan lebih baik bila mana seimbang antara kecerdasan intrapersonal dan kecerdasan interpersonal. 

    Ketika kita melihat, mendengar, berfikir dan merasakan segala sudut alam semesta. Sungguh, ini semua merupakan tanda-tanda kekuasaaan tuhan yang nyata. Yang tak dapat kita pungkiri keberadannya. Semua memberikan pesannya masing-masing, baik secara implisit ataupun eksplisit. Dan saya yakin bahwa keharmonisan dan keteraturan alam semesta adalah berawal dari sebuah gaya ataupun ikatan. Dalam bahasa sosial, ikatan adalah suatu bentuk dari komunikasi. Komunikasi akan berjalan harmonis bila mana terdapat unsur-unsur pendukung utama yaitu bebas dari prasangka dan empati.

    Tentunya, kita menyadari bahwa setiap orang pasti akan melakukan komunikasi. Karena memang status manusia sebagai mahluk sosial. Namun sering kali ketika kematang diri belum mampu dirajut untuk merangkai kebijaksanaan diri. rasanya sulit komunikasi itu berjalan sebagaimana mestinya. Biasanya hal ini sering terjadi dalam aspek fundamental yaitu agama manusia, yang kadang kala melahirkan tindakan-tindakan intoleran. Karena merasa dirinyalah yang paling benar dan dipaksakan kepada diri orang lain untuk seperti dirinya.

    Lihatlah you tube !! Berapa banyak perdebatan antar agama dilakukan? Berapa banyak perdebatan antar kelompok dalam suatu agama dilakukan? Apakah dari semua perdebatan tersebut menghasilkan suatu keharmonisan ?. Dalam hal ini saya berani mengatakan “tidak”. Semuanya berakhir dengan saling menyalahkan, saling menjatuhkan bahkan saling mencaci maki dengan suatu kata yang tak layak untuk diucap seperti “anda fakir”,  “anda sesat”.  

    Beberapa realita diatas sering saya tanyakan kepada orang-orang disekitar saya yang pernah melakukan hal itu. Mengapa anda melakukan tindakan (intoleran/kekerasan) itu padahal tindakan tersebut akan berdampak pada kekacauan? mereka menjawab: ”karena untuk menegakkan amar makruf nahi mungkar”. Mengapa anda mengatakan bahwa orang diluar anda “kafir”? mereka menjawab: “karena Tuhan mereka bukan “ALLAH” atau ajaran mereka tidak sesuai dengan Al-qur’an dan Hadist.

    Sebenarnya orang-orang yang berfikiran seperti itu jumlahnya tidak banyak. Lebih banyak orang-orang yang menginginkan perdamaian. Namun, kebanyakan orang tersebut bersifat pasif “agent in silent mode” sehingga kekuatannya terasa besar dan seakan-akan mendapat dukungan secara implisit dari kebanyakan masyarakat Indonesia. 

    Kadang saya bertanya-tanya dalam diri saya sendiri, apakah ini yang dikatakan toleransi ? membiarkan orang-orang bebas menghina, menghujat, dan melakukan tindakan intoleran kepada sesama manusia hanya karena berbeda cara pandang. Oleh karena itu, saya beranggapan bahwa saat ini makna toleransi telah mengalami kemunduran penafsiran. Seakan-akan toleransi sama dengan acuh tak acuh. Padahal tidak sama dan tak kan pernah sama.

    Tapi delima, ketika saya membela kaum-kaum minoritas terutama yang beda agama. Saya dikatakan pluralisme, orang yang menganut paham bahwa semua agama adalah benar. Orang yang mencampur adukkan agama-lah. Orang yang menganut paham pluralism- lah. Akhirnya saya dikatakan anda “kafir”. Sebenarnya saya tidak mau membahas tentang pluralism, karena mungkin saja apa yang saya sebut itu “pluralism” tidak sama dengan apa yang mereka sebut “pluralism”. Karena memang kita tidak akan bisa menemukan jawaban yang tepat karena semua orang boleh pendapat.  

    Pada dasarnya seperti yang saya katakan diatas, saat ini kata toleransi disama-artikan dengan acuh tak acuh. Oleh karena itu, saya mengkampayekan pluralism, baik di dunia nyata maupun dunia maya.  Jika anda tetap tidak setuju dengan pluralism, tentu saya tidak bisa memaksa anda harus seperti saya. Tapi jika anda ingin tahu apa yang saya sebut dengan pluralism itu apa? Maka saya jawab: ”suatu paham yang mencoba memandang manusia sama dalam hak dan kedudukannya sebagai manusia dengan batas-batas tertentu dalam berbagai aspek, bahkan agama sekalipun”.

    Namun, seperti tulisan  A. Munim DZ dalam website Gus Mus bahwa “pluralism tanpa pegangan itu menjadi pluralism yang tanpa watak, tanpa sikap dan tanpa pendirian, sehingga menjadi pluralism dan moderasi yang gamang. Padahal ketika semuanya cair, menjadikan semuanya lebur dalam ketiadaan dan mengalami peniadaan diri”.

    Jikalau membicaran hal ini, Saya jadi ingat dengan sosok seorang matan ketua NU yaitu K.H. Abdurrahman wahid yang akrab dipanggil dengan sebutan GUSDUR. Jujur, saya terinspirasi dengan segala napak tilas beliau. Bagaimana beliau menjaga keutuhan NKRI ini disaat menjadi Presiden RI dimasa transisi (orde baru menuju reformasi). Bagaimana ketauhidan beliau. Bagaimana beliau menjunjung tinggi kemanusiaan, keadilan dan kesetaraan, serta pembebasan. Bagaimana beliau hidup dalam kesederhanaan. Bagaimana gaya beliau dalam bersilaturrahmi untuk membangun persaudaraan. Bagaimana beliau berani layaknya seorang “kesatria" melakukan reformasi besar-besar disaat beliau menjadi ketua NU maupun Presiden RI. Bagaimana beliau menjadikan kearifan lokal sebagai sumber gagasan dan pijakan social-budaya dan politik dalam berbangsa dan bernegara. Ini semua adalah nilai-nilai yang  beliau ajarkan kepada rakyat Indonesia. 

    Ada sebuah quote dan juga buku dari GuDur yaitu “ Tuhan tidak perlu dibela”. Karena Tuhan itu maha besar. Ia tidak memerlukan pembuktian atas kebesaran-Nya. Ia maha besar karena ia ada. Apapun yang diperbuat oleh orang atas diri-Nya, sama sekali tidak ada pengaruhnya atas wujud dan kekuasaan-Nya. Jikalau kita membela Tuhan bukankah itu adalah sebuah penghinaan secara implisit atas kebesaran tuhan. (GusDur, Tuhan tidak perlu dibela, hlm 67).

    Seiya sekata dengan dengan quote diatas, dari GusDur juga yaitu “ agama tidak perlu diterima secara serius tapi ajarannya yang serius”.  Karena memang ketika kita bicara masalah agama secara teologis sangat rumit, kalau tidak memiliki kecerdasan emosional yang tinggi maka dampaknya cenderung perpecahan dan permusuhan. Yang menjadi perhatian kita seharus bukan masalah itu tetapi kemiskinan, diskriminasi, dll.

    Seperti yang dikatatakan Pendeta Ted Nof “Bukankah masalah ketuhahan memang rumit? Mungkin, sengaja dibuat rumit oleh Tuhan, agar kita tertuntut untuk senantiasa berada dalam upaya pencarian hakikat-Nya, walaupun itu tidak akan pernah tercapai. Upaya yang penting bukan tercapainya hasil mutlak. Al-Hujwiri mengatakan: Bila engkau menganggap Allah itu ada hanya karena engkau yang merumuskannya. Hakikatnya engkau sudah menjadi kafir. Allah tidak perlu disesali kalau Dia menyulitkan kita. Juga tidak perlu dibela kalau orang menyerang hakikat-Nya (GusDur, Tuhan tidak perlu dibela, hlm 74 dan 67).

    Ada sebuah hadist shahih riwayat imam muslim yang bersumber dari Abu Hurairah. Pernah suatu ketika Nabi Muhammad SAW bertanya kepada para sahabat : “Taukah kalian siapa itu yang disebut orang bangkrut? “mereka menjawab : “orang bangkrut ialah orang yang sudah tak lagi punya uang dan barang”. Nabi SAW bersabda: “sesungguhnya orang bangkrut diantara umatku ialah yang datang dihari kiamat kelak dengan membawa pahala-pahala sholat, puasa dan zakat. Namun dalam pada itu sebelumnya pernah mencaci ini, menuduh itu, memakan harta ini, mengalirkan darah itu, dan memukul ini. Maka dari pahala-pahala kebaikannya, akan diambil dan diberikan kepada si ini dan si itu, kepada orang yang ia dholimi. Jika pahala-pahala kebaikannya habis sebelum semua menjadi tanggung jawabnya terhadap orang-orang yang dipenuhi, maka akan diambil dari keburukan orang-orang itu dan ditimpakan kepadanya; kemudian ia pun di lempar ke neraka”.

    Dari realita sosial, kita sering melihat orang-orang yang mengaku dirinya umat Nabi Muhammad SAW hanya melakukan kebutuhan sisi religiousnya saja. Seperti, sholat, puasa dan zakat bahkan haji. Mereka melupakan dan tidak memahami ataupun mungkin memahami namun tidak menghiraukannya bahwa hubungan baik dengan sesama juga penting untuk kehidupan yang abadi dikemudian hari.

    Sering kita melihat kelompok orang beragama tanpa merasa bersalah membawa-bawa nama tuhan untuk mencaci maki kelompok lain dan agama lain. Karena merasa dirinyalah yang lebih benar dan lebih dekat kepada-Nya. Ada orang yang rajin berzakat tapi sekaligus rajin memakan harta rakyat. Ada orang yang rajin berhaji tapi sekaligus memperlakukan buruh-buruhnya secara tidak manusiawi. Ada orang yang rajin berkhotbah kesan-kemari sekaligus memprovokasi melakukan tindakan intoleran terhadap sesama.

    Mungkin, satu dua kali bisa dimaklumi dengan kita saling meminta maaf. Namun bilamana semuanya merasa benar, kata maaf tak kan pernah terucap dalam bibirnya dan terus-menerus akan mereka lakukan tanpa menghiraukan kalau itu semua menyakiti dan merampas hak orang lain. Maka sesuai hadist diatas tersebut bisa membuat kita bangkrut jikalau kita hanya mengandalkan bekal ritual semata.  

    “Silahkan anda berfikir segila apapun, tapi jangan sampai berhenti belajar”~ K.H Mustofa Bisri


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: BERAWAL DARI IKATAN Rating: 5 Reviewed By: GUSDURian Malang
    Scroll to Top