728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Kamis, 07 Agustus 2014

    DIBALIK SENYAP CINTA DALAM BINGKAI BEDA AGAMA

    Malang/Madura, 07 Agustus 2014
    Moh. Fauzan 

    “BERAWAL dari kegundahan hati terkait pernikahan beda agama yang dialami oleh sebagian manusia. Meski aku bukan seorang anak yang lahir dari pernikahan beda agama namun ku ingin memberikan sedikit sugesti positif kepada seorang ayah, ibu dan anak yang telah di takdirkan menikah dan lahir dari beda agama bahwa janganlah salahkan Tuhan yang menciptakanmu, yang menakdirkanmu mengalami proses ini. Proses yang bagi sebagian orang sulit untuk dijalani. Tapi jikalau engkau percaya dan yakin bahwa engkau ditakdirkan mengalami proses itu dari Tuhan yang menciptakanmu maka percayalah bahwa Tuhan telah melengkapi pada dirimu kemampuan untuk mengatasi masalah itu.  Jalani hidup kita dengan penuh kasih sayang dan cinta kasih. Ini semua adalah keniscayaan hidup karena sejatinya pujian adalah bersyukur kepada sang pencipta.”    

    Kupandangi layar notebook di depanku. Entah sudah berapa lama aku melakukan itu. Aku tak tahu. Tapi yang aku tahu, Saat ini aku sedang menonton film Bolywood yang berjudul “Jodda Akbar” ditemani desiran angin malam yang melewati celah sempit jendela.

    Iseng,..ku buka handpone dan ternyata sekarang jam 01.17 wib. Ternyata waktu berlalu sangat cepat. Perasaanku baru beberapa jam sebelumnya aku mendengar alunan adzan isyak bak paduan suara saling saut-menyaut. Tiba-tiba tersadar, kalau aku belum sholat isyak dan belum tidur seharian. Sehabis sholat isyak, ku rebahkan badan diatas kasur tanpa seperai. Ku balut selimut dari ujung kaki sampai dibawah leher sedikit.  ku paksakan siku tangan kiri menutup rapat kedua bola mata, hingga tak mampu lagi melihat langit-langit diruang tiga kali tiga meter tempat ku berada.

    Tersentak…pikiranku menerobos ruang dan waktu menuju lamunan dari apa yang aku tonton tadi dan sisi religiusku menjadi bagian dari itu. Aku bertanya-tanya pada hati nurani yang terdalam  tentang pernikahan beda agama yang dilakukan seorang Raja dari kerajaan Mughal yaitu Maharaja Akbar yang beragama Islam dengan seorang putri dari kerajaan Rajput yaitu jodda yang beragama Hindu. Kisah yang konon berdasarkan kisah sejarah penguasa legendaris dari kekaisaran muslim Mughal yang berkuasa di India pada abad-16. 

    Kenapa Raja Mughal melakukan hal yang tidak dibenarkan oleh semua agama yaitu pernikahan beda agama?? pikirku. Meskipun alasannya adalah cinta ataupun perdamaian, hati kecilku masih menolak dengan tindakan itu. Karena keduanya masih memeluk agamanya masing-masing. Dan yang membuat aku tak habis pikir lagi adalah pernikahan mereka harmonis sampai akhir hayatnya. Karena dari yang aku dengar pernikahan beda agama hampir semuanya berakhir dengan perpisahan.
    Lama aku memikirkan itu dan tak menemukan jawabannya. Namun ada sebuah percakapan dari film tersebut yang tak aku mengerti, kenapa seorang tokoh sufi bahkan ketua penasehat dari Maharaja Akbar membuat suatu pernyataan yang penuh dengan misteri itu ?? dan bahkan pernyataan tersebut tak mampu dibantah oleh penasehat lain. 

    Tatkala  raja akbar meminta saran terkait pernikahannya dengan putri jodda. Apakah saya bisa menikahi ratu hindu itu? wahai para penasehatku berikanlah masukkan berdasarkan kaidah-kaidah agama dan keadaan yang kita hadapi saat ini !!... pinta Raja Akbar. Hampir semua penasehat-penasehat raja menolak dengan apa yang akan dilakukan rajanya. Tapi selang beberapa waktu dari obrolan itu,  tak disangka-sangka tiba-tiba ketua penasehat raja menanyakan sesuatu hal kepada penasehat yang pada awalnya dia hanya sebagai pendengar yang baik.  

    Wahai saudara-saudara, apa itu surga dan apa itu neraka?? Tanya beliau.

    Dari semua penasehat, tak ada satupun yang bisa menjawab pertanyaan sederhana itu. Akhirnya pemimpin penasehat itupun menjawab.
    “Ketika hati diselimuti cinta dan kasih itulah surga. Dan ketika hati diselimuti dengan kebencian dan prasangka buruk itulah neraka”.
    Semua penasehat terdiam, seakan-akan membenarkan apa yang dikatakan oleh pemimpinnya itu. Dan Raja Akbar-pun tersenyum seakan-akan telah mendapatkan jawaban dan persetujuan untuk pernikahannya.

    Tersentak,.. badanku langsung bangkit dari tempat tidur dan memikirkan pernyataan dan adegan  itu berulang-ulang kali. Alhasil, dari kejadian itu mengingatkanku pada  sebuah ebook yang aku download yang berjudul “Soerkarno Pejambung Lidah Rakjat Indonesia”. Mungkin ceritanya tak sama dengan kisah “Jodda Akbar”.  Tapi soekarno adalah seorang anak yang lahir dari keluarga beda agama yaitu pernikahan antara Raden Soekemi Sastrodihardjo yang beragama Islam dengan Ida Ayu Nyoman Rai yang beragama Hindu…pekikku dalam hati. 

    “ Berawal dari kegundahan hati terkait pernikahan beda agama yang dialami oleh sebagian manusia. Meski aku bukan seorang anak yang lahir dari pernikahan beda agama namun ku ingin memberikan sedikit sugesti positif kepada seorang ayah, ibu dan anak yang telah di takdirkan menikah dan lahir dari beda agama bahwa janganlah salahkan Tuhan yang menciptakanmu, yang menakdirkanmu mengalami proses ini. Proses yang bagi sebagian orang sulit untuk dijalani. Tapi jikalau engkau percaya dan yakin bahwa engkau ditakdirkan mengalami proses itu dari Tuhan yang menciptakanmu maka percayalah bahwa Tuhan telah melengkapi pada dirimu kemampuan untuk mengatasi masalah itu.  Jalani hidup kita dengan penuh kasih sayang dan cinta kasih. Ini semua adalah keniscayaan hidup karena sejatinya pujian adalah bersyukur kepada sang pencipta.” …kisah diatas ataupun dibawah ini bukanlah sekedar pemanis kesusastraan . Coretan ini berasal dari sebuah film dan autobiografi seorang tokoh….    

    Siapa yang tidak tahu Ir.HC Soekarno, beliau adalah sosok seorang rakyat Indonesia yang mencintai bangsanya. Beliau memiliki kecerdasan intelektual dan emosional serta religious yang tinggi. Politik kerakyatan dan kebangsaan menjadi gaya berpolitiknya dalam melawan penjajah sehingga menghantarkan beliau menjadi seorang Presiden RI pertama yang disegani oleh bangsa-bangsa. Beliau juga ikut andil dalam merumuskan sila-sila dalam pancasila. Bahkan, nama pancasila merupakan usulannya Tapi ada sebuah perkataan yang selalu terngiang dalam pikiranku tatkala membicara tentang beliau yaitu tatkala beliau berbicara dihadapan rakyat Indonesia dan mengatakan: “saya disini tidak terutama kali berbicara sebagai presiden mandataris, tidak sebagai presiden perdana menteri, tidak sebagai presiden panglima tertinggi. Saya berbicara disini sebagai penyambung lidah rakyat Indonesia. Saya disini sebagai presiden pemimpin besar revolusi Indonesia” . 

    Semua yang ada dalam diri beliau tidak serta merta ada begitu saja. Pasti melalui sebuah proses yang panjang dalam pencarian identitas dirinya untuk menuju manusia paripurna yang sejatinya setiap manusia juga melakukan hal sama dalam proses kehidupannya meski tak kan pernah sampai. Proses setiap manusia tak akan sama dan tak kan pernah sama dalam menuju hal tersebut meskipun keluar dari rahim yang sama, agama yang sama, budaya yang sama, bahkan saudara identik-pun tak kan sama. Semuanya adalah anugerah dan fitrah dari Tuhan yang tak dapat kita pungkiri keberadaannya. 

    Kehidupan Soekarno kecil tidak berbeda dengan rakyat miskin Indonesia pada umumnya. Bahkan, saya beranggapan Soekarno paling miskin untuk ukuran masyarakat Mojokerto pada saat itu. Soekarno kecil  pada usia enam tahun sudah tinggal bersama orang tuanya di Mojokerto yang sebelumnya tinggal bersama kakeknya Raden Hardjokromo di Tulungagung. 

     “MASA kanak-kanakku tidak berbeda dengan David Copperfield Aku dilahirkan ditengah-tengah kemiskinan dan dibesarkan dalam kemiskinan. Aku tidak mempunjai sepatu. Aku mandi tidak dalam air jang keluar dari kran. Aku tidak mengenal sendok dan garpu. Ketiadaan jang keterlaluan demikian ini dapat menjebabkan hati ketjil didalam mendjadi sedih. Dengan kakakku perempuan Sukarmini, jang dua tahun lebih tua daripadaku, 
    kami merupakan suatu keluarga jang terdiri dari empat orang. Gadji bapak f 25 sebuIan. Dikurangi sewa rumah kami di Djalan Pahlawan 88, neratja mendjadi f 15 dan dengan perbandingan kurs pemerintah f 3,60 untuk satu dollar dapatlah dikira-kira betapa rendahnja tingkat penghidupan keluarga kami. Ketika aku berumur enam tahun kami pindah ke Modjokerto. Kami tinggal didaerah jang melarat dan keadaan tetangga-tetangga kami tidak berbeda dengan keadaan sekitar itu sendiri, akan tetapi mereka selalu mempunjai sisa uang sedikit untuk membeli pepaja atau djadjan lainnja. 
    Tapi aku tidak. Tidak pernah. Lebaran adalah hari besar bagi ummat Islam, hari penutup dari bulan puasa, pada bulan mana para penganutnja menahan diri dari makan dan minum ataupun tidak melewatkan sesuatu melalui mulut mulai dari terbitnja matahari sampai ia terbenam lagi. Kegembiraan dihari Lebaran sama dengan hari Natal. Hari untuk berpesta dan berfitrah. Akan tetapi kami tak pernah berpesta maupun mengeluarkan fitrah. Karena kami tidak punja uang untuk itu. Dimalam sebelum Lebaran sudah mendjadi kebiasaan bagi kanak-kanak untuk main petasan. Semua anak-anak melakukannja dan diwaktu itupun mereka melakukannja. Semua, ketjuali aku”(Soekarno Pejambung Lidah Rakjat Indonesia, Cindy Adams).

    Soekarno yang tulus, tegas dan berani dalam memperjuangkan segala bentuk penindasan dan penjajahan diatas bumi dalam bingkai cinta kasih kemanusiaan dan selalu mengedepankan dialog daripada mengangkat sejata, itu tidak serta merta berdiri dengan sendirinya. Berkat didikan kedua orang tua dengan sosok ibu yang penuh dengan cinta kasih dan ayah yang tegas dan pekerja keras. Sehingga membentuk karakter yang kompleks dalam diri soekarno.  

    “Apabila tidak ada barang mainan atau untuk dimakan, apabila nampaknja aku tidak punja apa-apa didunia ini selain daripada ibu, aku melekat kepadanja karena ia adalah satu-satunja sumber pelepas kepuasan hatiku. Ia adalah ganti gula-gula jang tak dapat kumiliki dan ia adalah semua milikku jang ada didunia ini. Jah, ibu,,, mempunjai hati jang begitu besar dan mulia. Dalam pada itu bapakku seorang guru jang keras. Sekalipun sudah berdjam-djam, ia masih tega menjuruhku beladjar membatja dan menulis. ,,Hajo, Karno, hafal ini luar kepala. Ha—Na—Tja—Ra— Ka Hajo, Karno, hafal ini; A-B-C-D-E" dan terus-menerus sampai kepalaku jang malang ini merasa sakit. Lagi-lagi kemudian, 
    ,,Hajo Karno, ulangi abdjad Hajo, Karno, batja ini Karno, tulis itu " Tapi ajahku mempunjai kejakinan, bahwa anaknja jang lahir disaat fadjar menjingsing itu kelak akan mendjadi orang. Kalau aku berbuat nakal—ini djarang terdjadi—dia menghukumku dengan kasar. Seperti dipagi itu aku memandjat pohon djambu dipekarangan rumah kami dan aku mendjatuhkan sarang burung. Ajah mendjadi putjat karena marah. ,,Kalau tidak salah aku sudah mengatakan padamu supaja menjajangi binatang," ia menghardik.Aku bergontjang ketakutan. ,,Ja, Pak.",,Engkau dapat menerangkan arti kata-kata: 'Tat Twan Asi, Tat Twam Asi' ?",,Artinja 'Dia adalah Aku dan Aku adalah dia; engkau adalah Aku dan Aku adalah engkau.' ",,Dan apakah tidak kuadjarkan kepadamu bahwa ini mempunjai arti jang penting ?",,Ja, Pak. Maksudnja, Tuhan berada dalam kita semua," kataku dengan patuh. Dia memandang marah kepada pesakitannja jang masih berumur tudjuh tahun. 
    ,,Bukankah engkau sudah ditundjuki untok melindungi machluk Tuhan ?",,Ja, Pak.",,Engkau dapat mengatakan apa burung dan telor itu ?",,Tjiptaan Tuhan," djawabku dengan gemetar(Soekarno Pejambung Lidah Rakjat Indonesia, Cindy Adams).

    Soekarno kecil tidak berbeda dengan anak-anak kebanyakan yang “nakal” dan suka bermain. Dihari yang lain, Soekarno kecil bermain ke sungai untuk mencari ikan sampai senja menjelang. Dan gak bilang ke kedua orang tuanya. Alhasil, ayahnya marah dan menyiapkan hukuman. Namun ibunya selalu mengimbangi tindakan disiplin ayahnya tersebut dengan cinta kasihnya.

    Aku mendjadikan sungai sebagai kawanku, karena ia mendjadi tempat dimana anak-anak jang tidak punja dapat bermain dengan tjuma-tjuma. Dan iapun mendjadi sumber makanan. Aku senantiasa berusaha keras untuk menggembirakan hati ibu dengan beberapa ekor ikan ketjil untuk dimasak. Alasan jang tidak mementingkan diri sendiri demikian itu pada suatu kali menjebabkan aku kena gandjaran tjambuk. Hari sudah mulai sendja. Ketika bapakku melihat bahwa hari mulai gelap dan botjah Sukarno tidak ada dirumah, dia menuntut ibu dengan keras: ,,Kenapa dia bersenang-senang tak keruan begitu lama ? Apa dia. Tidak punja pikiran terhadap ibunja ? Apa dia tidak tahu bahwa ibunja akan susah kalau terdjadi ketjelakaan?",,Negeri begini ketjil, Pak, tidak mungkin kita tidak mengetahui kalau terdjadi ketjelakaan," ibumenerangkan. Sekalipun demikian, bapak jang agak keras kepala marah dan ketika aku sedjam kemudian melondjak-londjak gembira pulang dengan membawa ikan kakap untuk ibu, bapak menangkapku, merampas ikan dan semua jang ada padaku, lalu aku dirotan sedjadi-djadinja.Tetapi ibu selalu mengimbangi tindakan disiplin itu dengan kebaikan hatinja. Oh, aku sangat mentjintai ibu. Aku berlari berlindung kepangkuan ibu dan dia membudjukku. Sekalipun rumput-rumput kemelaratan mentjekik kami, namun bunga-bunga tjinta tetap mengelilingiku selalu. Aku segera menjadari bahwa kasih-sajang menghapus segala jang buruk. Keinginan akan tjinta-kasih telah mendjadi suatu kekuatan pendorong dalam hidupku (Soekarno Pejambung Lidah Rakjat Indonesia, Cindy Adams).


    *****
    Tulisan ini Aku dedikasikan bagi mereka yang ditakdirkan membina rumah tangga dalam cinta yang beda agama dan untuk anak-anak dari keluarga tersebut.
    Salam cinta kasih
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: DIBALIK SENYAP CINTA DALAM BINGKAI BEDA AGAMA Rating: 5 Reviewed By: GUSDURian Malang
    Scroll to Top