728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Senin, 18 Agustus 2014

    REFLEKSI 17-AN

    Moh. Fauzan
    Yogyakarta menuju Malang | 17 Agustus 2014 | Pukul 22.33

    DINGIN merasuk disetiap kulit yang tak tertutup oleh jaket dan selimut. Ini bukan dinginnya malam di malang. tetapi dinginnya AC di kereta Malioboro Express tempat si penulis berada. Penulis melakukan perjalanan pulang dari Yogyakarta menuju Malang. Dua puluh enam batang neon menerangi gerbong. ditambah dua neon menuju pintu keluar. ditambah satu neon toilet. dikalikan jumlah gerbong kereta. berapa ya jumlah neon kereta ? pikir si penulis, pasti ribuan neon yang ada pada kereta tersebut tak terkecuali kereta-kereta lainnya. Kemudian mata penulis tertuju diluar gerbong kereta yang gelap gulita . Inilah wajah Indonesia terang didalamnya dan diluar sana gelap gulita.  

    Kini pukul 22:33 WIB (Waktu Indonesia Bergerak, guyonan di kalangan aktivis) tanggal 17 Agustus 2014. Tepat 69 tahun Indonesia Merdeka. Jikalau Indonesia adalah manusia maka dia pasti sudah tua renta. sudah lewat masa produktifnya. barangkali juga tidak bisa berhubungan intim lagi dengan pasangannya. Apalagi yang bisa dilakukan seorang manusia yang tua renta selain mendekatkan diri pada Sang Pencipta. mengakui atas segala khilaf hidupnya dan bertaubat dengan sejatinya taubat. karena hanya inilah yang membuat dirinya menjadi fitri untuk menuju keabadian surga.

    Banyak orang yang bertanya di dunia maya. Apakah Indonesia telah merdeka? jikalau penulis berfikir pada teks proklamasi enam puluh Sembilan tahun silam barangkali Indonesia telah merdeka. namun sepenggal kalimat pada teks pembukaan UUD’45 menjadi guyonan tersendiri di kalangan aktivis bahwa sejatinya Indonesia belum merdeka karena mereka pendahulu kita hanya "menghantarkan rakyat Indonesia pada pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia". Bahkan “hal-hal yang mengenai perpindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan secara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya” diletakkan dibawah KUTUKAN KOLONIAL. Hal ini menjadi bagian terpisah namun terkait dalam mengkritisi kemajuan Indonesia dari tahun ke tahun dan aspek yang paling ketara yaitu pada perjalanan kebijakan pertanahan yang bisa disebut dengan “Land Reform”.

    Noer Fauzi Rahman menjelaskan bukunya sendiri yang berjudul “Land Reform Dari Masa Ke Masa” secara lugas, padat dan terperinci dari tahun ke tahun dengan begitu banyak catatan kakinya. Buku tersebut penulis dapat dari beliau sendiri pada acara Traning “ Social Change Management” yang diselenggarakan oleh Jaringan GUSDURian Indonesia di Hotel Batik Yogyakarta. Sebelumnya, sungguh banyak  hal yang tidak diketahui penulis tentang “land reform” karena memang penulis tidak bergelut dalam bidang tersebut baik dalam dunia akademis maupun aktivisnya. sehingga pengetahuan maupun informasi yang beliau jelaskan secara lisan maupun buku banyak sedikit menambah pengetahuan penulis dalam bidang tersebut. Dan ini menjadi sangat penting bagi penulis untuk memahami kemajuan Indonesia. Oleh karenanya, ucapan terima kasih penulis sampaikan pada bapak Noer Fauzi Rachman.

    Sejatinya, rakyat Indonesia telah melupakan bahwa dasar-dasar kemerdekaan Indonesia karena “Keresahan Agraria”. dimana rakyat Indonesia dikerja paksa di tanah-air sendiri dan menyerahkan hasil kerja, makanan dan produk pertanian kepada pemerintahan Hindia-Belanda melalui Perusahan VOC. Hal ini tidak berlangsung dalam kurun waktu yang sebentar 350 tahun lamanya rakyat Indonesia mengalami penjajahan yang nyata. ditambah tiga tahun oleh jepang dari tahun 1942-1945. Oleh karenanya, wacana “kutukan Kolonial” menjadi bagian terpenting pada buku tersebut. Dimana Indonesia menjadi pasar penjual produk-produk asing, Indonesia menjadi tempat investasi pemodal asing dan Indonesia yang merdeka dengan cara merebut bukan diberikan seperti Malaysia menjadi bagian tersendiri dari kutukan Kolonial tersebut.

    Kemajuan perekonomian Indonesia dan kemiskinan yang terus meningkat menjadi hal yang perlu dikritisi dan dikaji lebih mendalam. ada apa dengan Indonesia?? tentunya dengan pendekatan structural dan cultural kita bisa melihat ketidaksinergisan antara kemajuan dengan kemiskinan. Namun penulis beranggapan aspek structural-lah yang paling dominan mempengaruhi ketidaksinergisan tersebut. sebagai contoh, jikalau memang aspek cultural seperti pemalas menjadi alasannya. tentu tidak relevan karena dikehidupan penulis banyak sekali orang-orang yang memenuhi kehidupan sehari-harinya dengan semangat dan kerja keras. kurang apa penjual sayur di pasar tradisional yang buka mulai jam 2 pagi.? kurang apa penjual bakso yang berjalan puluhan kilometer demi dagangannya habis? berapa banyak sarjana-sarjana yang lulus tiap tahunnya??. Itu semua yang menurut penulis tidak bisa menjadi alasan rakyat Indonesia adalah pemalas.

    Indonesia merasa bangga menjadi negara dengan produksi karet tersebar di dunia tapi bukan perusahaan Indonesia pemiliknya melainkan perusahaan-perusahaan dari Malaysia. Dan hal yang sama terjadi pada produk pertanian lainnya seperti kelapa sawit yang dimiliki oleh perusahaan Malaysia dan singapura. Indonesia bangga menjadi negara dengan penghasil minyak bumi terbesar ke-3 di dunia, tapi hanya sebagian kecil yang mampu dikelolah oleh PERTAMINA dan sisanya oleh perusahaan-perusahaan asing. Indonesia bangga memiliki kandungan mineral terbesar didunia tapi tak bisa mengelak tatkala ditanya, siapakah pemilik Freeport ? siapakah pemilik Newmont ?. Tak lain dan tak bukan adalah perusahaan milik Amerika Serikat. Dan masih banyak lagi perusahaan-perusahaan asing yang mengusai lokus-lokus penting yang sejatinya untuk kemakmuran rakyat Indonesia. Inilah yang menurut penulis penjajahan saat ini, tak terlihat kasat mata tapi berdampak luar biasa pada kedaulatan ekonomi Indonesia. Inilah yang disebut dengan "KUTUKAN KOLONIAL".
    ~ Malam 17an ditemani dinginnya AC gerbong kereta
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: REFLEKSI 17-AN Rating: 5 Reviewed By: GUSDURian Malang
    Scroll to Top