728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Selasa, 30 September 2014

    Karena Kita Tunggal Ika

    Gebrakan kecil anak-anak muda lintas iman kota malang, dalam menginisiasi lahirnya sebuah “Gerakan Menulis untuk Perdamaian”, mendapat apresiasi dan dukungan yang meski tidak pas dikatakan besar, namun bisa dirasa hadirnya beberapa pihak seperti tokoh lintas agama (FKAUB), Perempuan Antar Umat Beragama (PAUB), Penulis dll-nya cukup melegakan para punggawa, baik GUSDURian, PERANTARA, LAKPESDAM serta pengurus Balai Wiyata GKJW Malang yakni Ustad Pendeta Suwigyo selaku penyedia tempat atau tuan rumah diadaknnya perjumpaan dialogis dalam format agenda workshop ini.  

    Workshop Gerakan Menulis untuk Perdamaian yang sejatinya sudah muncul ide kecilnya dari romo moh.mahpur selaku imam GUSDURian Comunity beserta kawan-kawan @garudamalang dalam cangkruan rutin warung kopi hampir setengah tahun jauh sebelum akhirnya bisa dilaksanakan pada akhir bulan september ini. Yang secara kebetulan juga masih dalam nuansa memperingati Hari Perdamaian Internasional, 21-September. 

    Kegiatan ini tepatnya digelar tanggal dua puluh tujuh, bulan 09, tahun 2014. Mulai jam sembilan pagi yang di awali dengan doa perwakilan tokoh lintas agama/kepercayaan, dalam hal ini adalah Romo Yudo Asmoro dari penghayat yang di depak sebagai pemimpin doa pembukaan, sambutan panitia dari Moh.fauzan dan di pungkasi oleh “Tausiah” Pendeta Suwigyo selaku Penyedia tempat berlangsungnya kegiatan workshop ini. Yang mana beliau juga menceritakan sekilas bagaimana #GusDur dimasa menjadi Presiden Republik ini sering berkunjung untuk meyampaikan materi tentang teologi serta kajian “ke-islam-an” kepada segenap jemaat di Balai Wiyata GKJW Malang yang berlangsung hingga beberapa kali. Ini merupakan memori (kenangan) tersendiri bagi kami yang tidak mungkin bisa terlupakan, ungkap bapak pendeta.

    Selepas sesi pembukaan dilanjutkan dengan forum-forum sesuai dengan yang telah dipersiapkan oleh kawan-kawan panitia, seperti Napak Tilas, workshop, FGD, Diskusi Kelompok (sesuai genre peserta) hingga agenda di tutup dalam forum sore jam 16.45wib.

    Dengan bermodalkan semangat dan penuh keyakinan yang telah dan tertanam di dalam benak diri setiap penggerak acara ini, bahwa “Toleransi dan kerukunan antar umat beragama bagaikan dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan satu sama lain. Kerukunan berdampak pada toleransi atau sebaliknya toleransi menghasilkan kerukunan keduanya menyangkut hubungan antar sesama manusia”.

    Sebagai keynote speaker tentang Kuasa Tulisan dan Napak Tilas #GusDur bapak Hairus Salim berbagi cerita tentang menulis di satu pihak, dan sekaligus tentang #GusDur di pihak yang lain. Banyak yang tidak mengetahui bahwasannya #GusDur mengawali karirnya sebagai penulis. dan bahkan dalam konteksnya #GusDur sedang buta, beliau tetap aktif menulis dengan cara di dekte. 

    Alumnus magister antropoli UGM dan Uin Suka, plus pimpinan redaksi gusdurian.et ini juga mangatakan jika sebenarnya #GusDur sebagai sosok egaliter, ya sangat egaliter terhadap semua orang. Sehingga seringkali susah membedakan, sebagai teman iya, guru juga iya. Cerita putera kelahiran banjarmasin ini.

    Dan diantara beberapa pembicara pada workshop Gerakan Menulis untuk Perdamaian bisa dikatakan pada forum bapak hairus salim inilah yang mampu mengoyak seisi ruangan dengan banyaknya beliau berbagi cerita-cerita humor (joke) #GusDur yang masih segar untuk dinikmati para penikmatnya...hahaha..

    Setelah itu diteruskan dengan agenda kedua yakni forum dialog... 

    Sebagai pembicara adalah Ibu Mufidah yang juga selaku Presidium Perempuan Antar Umat Beragama (PAUB), banyak menceritakan tentang profil dan kegiatan-kegiatan perjalanan dari PAUB. Yang ternyata banyak mengundang daya-tarik peserta kaum hawa khususnya untuk bertanya pada sesi dialog. Hingga beliau juga sempat berpesan jika Sebelum ada keinginan untuk membentuk forum apapun yang bernafaskan komunikasi antar umat bergama , kenali antar diri masing-masing terlebih dahulu sedalam-dalamnya sampai tidak ada lagi yang dirahasiakan. 

    Dan Romo Pius sebagai pembicara berikutnya menambahkan kecerahan dan kesejukan forum worksop menulis perdamaian ini, dengan menyampaikan “Tulisan Kita Bisa menjadi Revolusi kesadaran diri dan lingkungan”.

    Sedangkan sohibul bait (tuan rumah) yang sekaligus juga menjadi nara sumber workshop penulisan tentang perdamaian ini Pendeta Suwigyo mengatakan bahwasannya kakek moyang para pendeta di Balai Wiyata GKJW Malang mempunyai hubungan yang baik dengan pesantren-pesantren di jawa timur, salah satunya adalah PonPes Tebu Ireng Jombang. Bahkan sebagai kombinasi jauh sebelum adanya forum workshop penulisan ini beliau secara khusus juga pernah bercerita adanya ritunitas setiap tahunnya pada momentum hari raya idul fitri, beliau bersama para romo dan pendeta yang lain berkunjung silaturahmi ke berbagai pesantren, seperti ke PonPes Zainul Hasan Genggong Probolinggo.

    Menulis adalah bukan tujuan, tetapi cara atau media. ujar salah satu peserta perempuan yang datang dari kota surabaya di sela-sela sesi dialog. 

    Bahkan sempat ada yang mengungkpan sebuah pertanyaan, tentang adanya “kristenisasi” salah satu gereja, yang akhirnya bisa diluruskan dan tercerahkan dari pemaparan para pembicara workshop.

    Karena memang sejatinya diantara kita semua untuk mampu menjauhkan dari prasangka-prasangka atau bahkan kekhawatiran yang berlebihan akan tergoyahkannya “iman” di antara kita masing-masing, sebagaimana kita mungkin bisa berpijak dengan mengutip pesan mendalam Sang mendiang di buku The Wisdom Of #GusDur (Butir Butir Kearifan Sang Waskita): “Jangan takut, Seorang Muslim yang baik dan memiliki iman yang kuat berarti telah terbebas dari ketakutan-ketakutan. Takut yang berasal dari kecurigaan yang bisa melahirkan kebencian dan permusuhan. Muslim yang percaya diri tidak akan pernah takut untuk terbuka kepada pihak luar. Membuka diri adalah bukti keberanian, sementara menutup diri merupakan reaksi ketakutan”.

    Agenda workshop dalam ruang padepokan Balai Wiyata GKJW Malang ini di lanjutkan dengan forum sore, bersama romo mahpur sebagai fasilitator Focus Group Discussion (FGD). Beliau sedikit-banyak memancing gairah menulis seluruh peserta-penulis-relawan dengan memberi rangsangan pemikiran untuk mengarahkan semangat tekad menulis perdamaian sesuai masing-masing genrenya. 

    Karena sejatinya kita memang satu jua, ya mungkin itulah salah satu alasan diantara puluhan maksud yang lain, hingga bersama kita betah berlama-lama berada di dalam “Pendopo mardjosir”,  bangunan tua nan gagah yang di pakai selama forum workhop berlangsung, menurut cerita salah satu jemaat mempunyai filsofi sendiri, adalah bangunan dengan model gubuk kayu yang sengaja dibangun untuk mengenang nama-nama para pendiri Balai Wiyata GKJW Malang . Ya sebuah rumah kayu yang sekilas kalau di perhatikan dari luar sangat terkesan seperti sebuah Surau atau masjid kecil...

    Hingga Sore tiba seusai dilakukan diskusi kelompok dengan varian genrenya masing-masing, semua yang terlibat di kegiatan ini berkumpul melingkar ditaman area Pendopo. Perjumpaan dalam suasana keakraban pun keletihan, dengan lintas iman dan beragam profesi manusia melebur menjadi satu-kesatuan dalam spirit nadi yang sama. 


    Semoga dengan adanya perjumpaan forum hangat seperti ini akan mampu menyebabkan kegiatan-kegiatan menulis perdamaian dalam konteks kemanusiaan terus mengalami kemajuan, hingga harus terus ditegakkan.


    @anas_ahimsa
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Karena Kita Tunggal Ika Rating: 5 Reviewed By: GUSDURian Malang
    Scroll to Top