728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Sabtu, 25 Juli 2015

    Kristanto Budiprabowo-Charlotte Blackburn, Pasutri Pendeta Juga Relawan Perdamaian di Malang

    Beri Kursus Bahasa Inggris Gratis Khusus Pengagum Gus Dur

    Aktivitas Kristanto Budiprabowo dan Charlotte Blackburn tidaklah seperti suami-istri pada umumnya. Keduanya rela menghabiskan banyak waktu untuk bergabung dengan aneka macam komunitas perdamaian di Malang. Tidak hanya itu, mereka juga memberi pengajaran Bahasa Inggris gratis. -(Irham Thoriq)-

    Warung kopi Tjangkir 13 di Jalan Cengger Ayam sedang ramai-ramainya pada Senin (13/7) malam lalu. Kristanto Budiprabowo dan istrinya Charlotte Blackburn terlihat sedang santai di bagian paling depan warung kopi ini. Sesekali mereka menyeruput kopi. Sedangkan Kristanto beberapa kali terlihat mengepul-ngepulkan asap dari sebatang rokoknya.

    Kian malam, peserta ngopi tersebut terus bertambah. Para anggota komunitas Gusdurian mulai berdatangan. Terlihat juga Pentolan Gusdurian Barokat Anas larut dalam obrolan ngalor-ngidul tersebut.

    Sekilas, seperti itulah aktivitas pasangan suami-istri ini yang memang merupakan anggota Gusdurian atau pengagum mendiang Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden Indonesia ke-4. Meski nonmuslim, tapi pasangan suami-istri ini mengaku senang ikut komunitas Gusdurian. ”Saya enjoy, orangnya asyik-asyik,” kata Charlotte dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata.

    Pasangan ini hidup di Malang sejak awal tahun 2013 lalu, kiprah Kristanto dan Charlotte di kalangan penggerak perdamaian dan aktivis sudah banyak dikenal. Selain tergabung Gusdurian, keduanya juga bergabung dengan sejumlah komunitas lain yakni Komunitas Tjangkir 13, Neolath, Gubuk Baca Lentera Negeri, Pasukan Kresek, Kampung Cempluk, Peduli Malang, dan Lumbung Perdamaian. Aneka macam komunitas ini kebanyakan bergerak di bidang pluralisme dan kemanusiaan. 

    Bergabungnya dua orang ini memang cukup spesial karena dua orang ini adalah penganut Kristiani. Bahkan, Kristanto sejak tahun 1999 sudah menjadi pendeta. ”Kita ini lebih tepatnya relawan perdamaian, meskipun tidak ikut LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dan tidak ada yang membayar,” kata Kristanto lantas terkekeh. ”Kita suarakan saja perdamaian,” imbuh pria yang akrab disapa Tatok ini.

    Tidak hanya sekadar bergabung dengan komunitas, mereka berdua juga ingin memberi kontribusi terhadap komunitas perdamaian yang dia ikuti. Di Gusdurian misalnya, Totok dan istrinya yang berasal dari Amerika Serikat itu mengajarkan kursus bahasa Inggris gratis.

    Saat ini, kursus yang diadakan setiap hari Jumat di rumah Tatok di Karangploso ini sudah berlangsung enam bulan. Selama memberi kursus ini, keduanya memberikan secara cuma-cuma. ”Sebenarnya bukan kursus, tapi belajar bersama lebih tepatnya,” imbuh pria kelahiran 10 September 1967 itu.

    Menurut dia, gagasan memberi kursus gratis bagi para komunitas Gusdurian ini karena, menurut dia, saat ini semua umat beragama termasuk Islam harus pandai berbahasa Inggris. Dia miris, karena selama ini yang banyak mengenalkan tentang Islam di Indonesia ke dunia internasional adalah orang-orang barat yang belajar Islam di Indonesia. ”Ini kan aneh, seperti ada lagi yang menjelaskan suku Tengger di internasional adalah orang Jerman yang melakukan penelitian di tempat ini,” kata pria tiga anak tersebut.

    Karena inilah, lantas Tatok mengajak anggota komunitas Gusdurian yang mayoritas muslim untuk kursus bahasa Inggris. Diharapkan, nantinya anggota komunitas ini bisa mengenalkan Islam di Indonesia ke dunia internasional. Menurut dia, Islam di Indonesia harus dikenalkan karena sangat menjunjung tinggi perdamaian. ”Memang harus mereka-mereka ini yang menjelaskan, karena yang tahu Islam sesungguhnya,” jelas mahasiswa program Doktoral di program International Consorsium for Religius Studies (ICRS) Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.

    Selain mengajari kursus bahasa Inggris di Gusdurian, dua orang tersebut juga memberi pengajaran bahasa Inggris ke anak-anak yang berada di daerah Purwantoro, Kecamatan Blimbing. Untuk kursus ini, keduanya ikut serta dalam kegiatan komunitas Neolath yang juga konsen pada perdamaian. ”Dua kali kita di tempat itu, terus anak-anak sekolahnya libur, sekarang masih belum lagi,” papar peraih gelar master teologi dari Duta Wacana ini.

    Menurut dia, dirinya memang suka bergaul dengan komunitas perdamaian karena dia ingin para penggiat komunitas ini mendapatkan apresiasi. Lantaran, selama ini sangat sedikit orang yang peduli terhadap kiprah penggerak perdamaian ini. ”Apresiasiya dengan banyak cara, selain kami mengunjungi dan terlibat dalam berbagai kegiatan, kami juga sebarkan ke teman-teman saya tentang komunitas ini,” papar dia.

    Bagi Tatok, apresiasi kepada para penggerak perdamaian itu penting, karena dengan adanya apresiasi yang tinggi bisa membuat mereka lebih bersemangat. ”Apalagi, semakin tinggi peradaban, maka semakin tinggi juga apresiasi pada orang,” kata dia. ”Selama ini sangat sedikit orang yang pekerjaannya diapresiasi, hal ini tidak bagus,” tambahnya.

    Selain itu, meski status Tatok sebagai pendeta, menurut dia, dirinya lebih banyak bergaul dengan lintas komunitas tersebut daripada hanya memberi bimbingan di gereja. Menurut dia, hal ini tidak masalah karena pendeta tidak melulu harus di gereja. Saat ini, karena aktivitasnya di lintas komunitas, pergaulan Tatok lebih banyak dengan umat agama lain. ”Seperti ini tidak masalah, karena setiap pendeta punya tugasnya masing-masing,” terang dia.(*/c2/abm)  


    Sumber langsung: http://radarmalang.co.id/kristanto-budiprabowo-charlotte-blackburn-pasutri-pendeta-juga-relawan-perdamaian-di-malang-16404.htm 

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Kristanto Budiprabowo-Charlotte Blackburn, Pasutri Pendeta Juga Relawan Perdamaian di Malang Rating: 5 Reviewed By: GUSDURian Malang
    Scroll to Top