728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Minggu, 09 Agustus 2015

    Baha’i dan Keindonesiaan Kita

    Kamis, 7 Agustus 2015 menjadi kali pertama Gerakan Gusdurian Muda (GARUDA) Kota Malang bersama kaum intelektual dan masyarakat pegiat perdamaian cangkruan bareng dengan satu – satunya peneliti agama Baha’i di Indonesia, Mbak Amanah Nurish. Beliau merupakan seorang peneliti dan kandidat Doktor di ICRS Universitas Gajah Mada. Cangkruan rutin kali ini bertajuk “Iman Agama Baha’i dan Quo Vadis Kebebasan Beragama di Indonesia”. Tema ini sengaja diambil mengingat telah ditetapkannya agama Baha’i sebagai salah satu agama yang resmi diakui di Indonesia. Tema tersebut dipilih karena kegelisahan kawan – kawan pegiat perdamaian kota malang dalam menanggapi berbagai isu diskriminatif dan radikalisme atas nama agama. Selain itu Baha’i sebagai agama paling baru yang diakui di Indonesia masih belum terlalu di dengar gaungnya. Dengan semangat saling mengenal, cangkruan yang berlangsung di Kedai Tjangkir 13 berjalan sangat ganyeng dan menarik.

    Malam itu Mbak Nurish secara cuma – cuma berbagi sangat banyak hal. Hasil dari sekitar sepuluh tahun melakukan perjalanan riset mengenai agama Baha’i di seluruh dunia membuat cangkruan rutin semakin hangat. Tak kenal maka tak sayang - adalah kata yang tepat untuk menggambarkan rasa ingin tahu dari kawan – kawan Gusdurian Muda Malang. Semakin banyak kita bertanya, semakin dekat kita dalam mengerti sesuatu hal. Secara singkat, perkenalan dengan agama Baha’i menumbuhkan banyak kesadaran baru. Dari hasil bincang – bincang bersama Mbak Nurish kita dapat mengenal agama Baha’i lebih dekat.

    Baha’i sendiri tumbuh pada abad ke 19 di masa Persia dan mengacu pada ajaran – ajaran Abrahamik. Ia berkembang hingga keseluruh penjuru dunia, di Indonesia setidaknya kini Baha’i memiliki 23.000 umat. Seperti banyak agama lainnya, umat Baha’i menerima banyak penolakan dan tekanan dalam melaksanakan kehidupan beragamanya. Di Indonesia sendiri Baha’i pernah dilarang bersamaan dengan beberapa perkumpulan masyarakat marginal lainnya. Baha’i juga memiliki perangkat agama yang tidak berbeda dengan agama lain semisal buku suci, laku ibadah, tata aturan dan tempat ibadah. Dalam menanggapi berbagai permasalahan kontekstual yang dihadapi oleh Baha’i, Mbak Nuris berharap dapat mengentaskannya bersama dengan para pegiat perdamaian.

    Rupanya dua tema yang dipilih kali tentang Iman Agama Baha’i di satu sisi, dan kebebasan beragama disisi yang lain, ini membutuhkan waktu yang lebih hingga cangkruan berlanjut hingga larut malam. Sedikit bergeser menuju tema yang kedua, muncul banyak pertanyaan seperti apa hakikat agama? Kapan Indonesia mulai mengakui adanya agama? Siapkah masyarakat Indonesia dengan pluralisme yang kian berkembang ? Pertanyaan – pertanyaan ini timbul dari keinginan besar kawan – kawan untuk menciptakan kehidupan beragama yang bebas dan damai. Salah satu nilai berharga yang dapat disimpulkan dari cangkrukan malam itu adalah bahwa kita harus hidup bersama karena manusia apapun agama, ras, bangsa, gender dan golongannya memiliki satu asal yang sama.

    Dan barangkali belum secara luas diketahui khalayak umum, bahwa Gus Dur semasa menjabat Presiden RI telah mencabut keppres warisan orde lama dengan mengganti keppres baru No. 69/2000. yang artinya secara konstitusi negara mengakui keberadaan Agama Baha'i di NKRI. hal ini jika di-sinergi-kan dengan spirit pemikiran-perjuangan beliau (Gus Dur), yang termaktub dalam satu diantara sembilan Nilai Utama Gus Dur yakni Keksatriaan; sikap yang bersumber dari keberanian untuk memperjuangkan dan menegakkan nilai-nilai yang diyakini dalam mencapai keutuhan tujuan yang ingin diraih. komitmen yang tinggi dan konsisten. semoga manfaat (dika/ahimsa)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Baha’i dan Keindonesiaan Kita Rating: 5 Reviewed By: GUSDURian Malang
    Scroll to Top