728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Senin, 31 Agustus 2015

    "Bima, Dewa Ruci dan Kita: Mencari Tuhan?"



    Bima sang Manusia Dewa Ruci
    Refleksi Gusdurian Malang terhadap Komik Dewa Ruci karangan Teguh Santosa

    (Kidung Pangkur)
    Raden Harya Werkudara,
    nyata lamun satriya jodipati…
    Prakoso gagah gung luhur,
    godeg wok simbar jaja…
    Yen ngendika gereng gereng pinda guntur,
    Dasar satriya prawira tama…..
    gunungane senapati

    Akulah Bima yang sejak hidup beribu tahun lalu dan yang kini masih mencari. Seperti semua orang hidup dalam pencarian, aku berjuang sungguh-sungguh. Mempersiapkan pikiran, hati dan bahkan daya diri dengan sempurna. Sesempurna pemberian dewata, sesempurna alam dan semesta. Akulah Bima, Werkudara, Dewa Ruci, kamu, ya kamu semua satu persatu pribadi yang menyebut diri sebagai manusia.

    Pencarianku belum selesai bagai bumi terus berputar, siang malam, hitam putih, beribu warna berbaur dalam aturan ketidakpastian yang alami. Aku terus mencari dalam diriku, dalam diri orang-orang terdekatku, dalam diri kekasihku, dalam diri segala makhluk, dalam diri bahkan inti bumi. Aku mencari kepastian, kemurnian, kesucian, kebenaran dalam sesuatu yang disebut iman, percaya dan penyerahan diri. Laksana Air yang Suci, laksana hembusan angin yang sepoi-sepoi, laksana roh sunyi dalam keheningan. Aku mencari dan terus berusaha mencari selama aku hidup.

    Aku kesatria yang tinakdir berada dalam pusaran benar dan salah, bermoral dan tidak, beragama aneka macam rasa dan jiwa luhur. Aturan, hukum, tradisi, adat, kebiasaan, dan budayaku membentuk hidupku namun aku tetap merdeka. Hitungan-hitungan kebohongan, kelicikan, manipulasi, korupsi, dan penyalahgunaan kekuasaan, bahkan dalam ceritaku, kekuasaan dari kewenangan orang yang aku junjung tinggi martabatnya, adalah keseharianku. Tidak membuatkau takut, kecewa, sinis, sedih, atau melempem apatis. Aku tetap tegak berdiri memilih sendiri panggilan dewata dari empat penjuru angin. Panggilan halus dan kasar, menyenangkan atau menantang. Hidupku bagi diriku dan bagi dunia di sekitarku. Akulah kesatria.

    Kupatuhi karma dan kudengar gejolak hati. Kuhadapi meskipun aku dipertentangkan, digodai, dijerumuskan, dibohongi akal licik keserakahan dan keinginan menang sendiri. Tanpa ragu kuhadapi sendiri, sebagai pilihanku untuk menemukan kesejatian kemanusiaan. Kutelan habis semua racun dan jebakan manis. Kutaburi tubuhku dengan aroma keberanian untuk menjadi tegar bahwa tidak ada alasan untuk menjadi takut dan menciut. Bahkan dengan begitu aku semakin jauh melangkah, meluaskan cakrawala pikir dan rasa seluas belantara dan samudra. Seluas jagad raya dan semesta galaksi nya. Dengan begitulah kebencian dan kepicikan, keserakahan dan arogansi ingin menang sendiri adalah kematian, yang kumatikan sejak dari diriku sendiri.

    Pupuh VII – Dandanggula 28-32

    “Dan ketahuilah bahwa awal dari asalmu adalah satu dan sama dengan awal dan asal jagad besar; penglihatan dan pendengaran-nya telah ada di dalammu. Pendengaran Hyang Suksma Jati bukan melalui telinga, penglihatannya tidak dengan mata, tetapi pendengaran dan penglihatannya dalam bentuk tercipta. Ada di dalamnya.

    Penjelmaan luar dari Suksma ada di dalammu, dan aku dalammu ada di dalam Suksma. Sebagaimana dalam persamaan ini, seperti kalau kayu dibakar. Asap dari api ini ada. Melalui kayu; atau seperti air dan ombak adalah satu. Atau seperti semua gerakan dan pikirannya adalah sebenarnya anugerah.

    Begitu engkau mengetahui persatuan Tuhan dan Abdi, melalui Suksma semua yang engkau inginkan menjadi ada. Karena sifat-sifatNya berada dalam dirimu. Tubuh itu laksana wayang, yang bergerak karena dalang, pentas menggambarkan jagad. Ini merupakan sifat-sifat tubuh, bergerak hanya kalau digerakkan. Dalam setiap hal, berkedip, mendengar, melihat, berjalan, dan berbicara.

    Abdi dan Tuhan adalah sama, kemauannya bersatu sempurna, dan kemauan ini tidak berbentuk, karena bentuknya ada di dalammu. Pada kenyataannya hal ini seperti cermin; seseorang yang melihat kedalam cermin adalah Hyang Suksma dan bayangannya didalam cermin adalah engkau. Jadi dengan demikian manusia adalah yang ada dalam cermin.”

    (Soebardi S., Serat Cabolek, Kuasa, Agama, dan Pembebasan, Nuansa, 2004)

    Kembali keluar aku merasa masuk kembali kedalam. Masuk kedalam aku merasa kembali keluar. Tuntunanku adalah kesadaranku pada anugerah Illahi. Suara yang kudengar adalah suara yang aku lontarkan sendiri. Suara yang aku buat dan serukan senyatanya adalah suara yang berasal dari pendengaranku. Apa yang kusentuh tidak lain adalah sentuhan yang aku terima. Rasa yang menguasai diriku sejatinya adalah diriku yang diliputi oleh rasa itu.

    Aku mengerti karena aku tidak mengerti, aku paham bahwa diriku dan alam semesta ini bagian yang terhubung dan terbangun dalam satu kepahaman tentang ada. Aku tidak berhenti. Ada sebuah rumah menungguku untuk menyambutku dengan damai. Dia ada disana karena kurindukan, karena semua hasrat dalam karya, karsa dan ciptaku tertuju padanya.

    Aku dan kamu disana.

    Wayfaring Stranger (Lagu Tradisional Amerika)

    I'm just a poor wayfaring stranger
    Traveling through this world of woe
    There's no sickness, toil nor danger
    In that fair land to which I go
    I'm going home to see my father
    I'm going home no more to roam
    I'm just a-going over Jordan
    I'm just a-going over home

    Syiir Tanpo Waton

    Lamun palastro..ing pungkasane
    Ora kesasar..roh lan sukmane
    Den gadang Alloh..swargo manggone
    Utuh mayite..ugo ulese 2x



    Ditulis Oleh:
    Kristanto Budiprabowo
    Aktivis Gusdurian Malang
    (Narasi dalam pementasan Ngaji Wayang Teguh – Dewan Kesenian Malang, 29 Agustus 2015)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: "Bima, Dewa Ruci dan Kita: Mencari Tuhan?" Rating: 5 Reviewed By: GUSDURian Malang
    Scroll to Top