728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Selasa, 08 September 2015

    The Role of Social Media

    Oleh: Moh. Fauzan

    Today, people cannot escape from Internet-based activities. Ever since the Indonesian government developed Internet infrastructure in the 1980s, the number of Internet users has been increasing. In 2014 there were 88.1 million (34.9%) Internet users in Indonesia. Most segments of Internet users in Indonesia are aged 18-25 years (49%) and mostly all internet users have and use social networking applications or content (87.4%), searching (68.7%), instant messaging (59.9%), searching for the latest news (59.7%), and downloading and uploading videos (27.3%). By 2015, the government, together with the private sector, is targeting to achieve at least a 50% penetration of Internet users by referring to the Standard Millineum Development Goals (MDG's).

    With the growth of internet users in Indonesia, there are major opportunities to build peace awareness within the cyberspace communities and "Netizens". Now the peace process is no longer only determined by policy leaders of the country, but also by public participation and involvement. One of the functions of social-media is as a means for campaigns and to enhance the role of civil society as an agent of change. In fact, with the existing tradition of "hanging out at coffee houses" in the city of Malang, it has become one of the additional powers for some peace communities to make direct interaction, individualy or communally.

    The GusDurian Malang community, commonly known as "Garuda Malang", in great part owes its existence to the power of the Internet. Ever since the beginning, the emergence of this community began with Netizens through a facebook group. Over time, the community has grown rapidly not only as Netizens, but also by doing some concrete activities while utilizing social media as a means of communication, advocacy-based actions, and campaigns. Garuda Malang is a cross-cultural and inter-faith community in the city of Malang city inspired by the ideas and thinking, as well as the struggles, of KH Abdurrahman Wahid. This paper describes how the roles and strategies of the Garuda Malang community conduct peacebuilding activities, especially in the Malang region and throughout Indonesia, as well.

    Judul Lengkap: "The Role of Social Media Usage and the Tradition of Hanging Out at Coffee Houses in Malang: Cultivating Values of Peace Based  on the Thinking of KH. ABDURRAHMAN WAHID"
      
    Ketiadaan perang menjadi sangat penting bagi mereka yang percaya konsep “Negative Peace”. Akhir-akhir ini kita tahu di Negara-negara Timur Tengah telah terjadi banyak peperangan. Tanpa mengesampingkan unsur politik, sosial, ekonomi maupun budaya. Semua pihak yang terlibat dalam  konflik tersebut mengklaim untuk membangun perdamaian. Dengan demikian jelaslah bahwa kekerasan tidak dapat dihindari. Bahkan keberadaan PBB dalam mengatasi konflik di timur tengah malah menghasilkan konflik baru yang berkepanjangan seperti halnya di Irak dan palestina/Israel dan berita tentang ISIS (Islamic State of Iraq and Syuria) menjadi Isu aktual yang sampai saat ini belum bisa diatasi. Oleh karena itu, bagi mereka yang percaya konsep “negative peace” berarti percaya perdamaian jangka pendek.  

    Selama masih ada kebencian dan ketidakadilan, konflik akan terus hidup disekitar kita. Bahkan konflik sering muncul dalam bentuk kekerasan. Bagi mereka yang percaya konsep “Positive Peace” harus siap melakukan sesuatu dalam jangka panjang dan berkelanjutan. Karena memang dalam paham “positive peace” meyakini bahwa konflik fisik merupakan hasil dari prilaku konflik yang bersifat destruktif yang disebabkan oleh konflik structural yang terus muncul disekitar kita seperti kesenjangan sosial, ekonomi, politik dan budaya serta perbedaan  ideologis yang perlahan-lahan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. 

    Secara umum, Indonesia masih dalam  keadaan “peace based” tidak seperti Negara-negara di Timur Tengah. Hal ini tidak lepas dari peran kokoh falsafah bangsa Indonesia yang termaktum dalam 4 pilar kebangsaan. Namun bukan berarti kedepannya kita aman dari keadaan “war based”. G30SPKI telah mengajarkan bangsa ini (meski hal itu belum tuntas) tapi setidaknya telah memberikan gambaran betapa mengerikan yang namanya “perang”. K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur) telah mengingatkan kepada kita bahwa perdamaian akan hanya menjadi ilusi semata ketika tanpa adanya keadilan. Oleh karenanya, keberadaan komunitas-komunitas “peacebuilder” menjadi sangat penting dalam mengatasi akar permasalahan konflik seperti halnya komunitas pengagum pemikiran Gusdur yang biasa dikenal dengan sebutan GUSDURian. 

    1. Apa itu GUSDURian ?

    GUSDURian adalah sebutan untuk para murid, pengagum, dan penerus pemikiran dan perjuangan Gus Dur. Para GUSDURian mendalami pemikiran Gus Dur, meneladani karakter dan prinsip nilainya, dan berupaya untuk meneruskan perjuangan yang telah dirintis dan dikembangkan oleh Gus Dur sesuai dengan konteks tantangan zaman.


    Jaringan GUSDURian adalah arena sinergi bagi para GUSDURian di ruang kultural dan non politik praktis. Di dalam jaringan GUSDURian tergabung individu, komunitas/forum lokal, dan organisasi yang merasa terinspirasi oleh teladan nilai, pemikiran, dan perjuangan Gus Dur. Karena bersifat jejaring kerja, tidak diperlukan keanggotaan formal. Jaringan GUSDURian memfokuskan sinergi kerja non politik praktis pada dimensi-dimensi yang telah ditekuni Gus Dur, meliputi empat dimensi besar yaitu Spiritual, Kultural, Negara, dan Kemanusiaan.


    Nilai, pemikiran, perjuangan Gus Dur tetap hidup dan mengawal pergerakan kebangsaan Indonesia melalui sinergi karya para pengikutnya berlandaskan 9 nilai dasar Gus Dur yaitu Ketauhidan, Kemanusiaan, Keadilan, Kesetaraan, Pembebasan, Persaudaraan, Kesederhanaan, Sikap Ksatria, dan Kearifan lokal. (www.gusdurian.net)

    2. Peran dan Strategi Komunitas GARUDA Malang

    Dengan semakin meningkatnya pengguna internet di Indonesia dimanfaatkan oleh beberapa komunitas dunia maya “Netizens” sebagai alat utama dalam membagun perdamaian “peacebuilding”. Kini, proses perdamaian tidak lagi hanya ditentukan oleh kebijakan pemimpin negara tetapi juga melibatkan pastisipasi masyarakat.  Salah satunya dengan sosial-media sebagai alat kampaye dan peran masyarakat sipil “civil society” sebagai agen. Bahkan dengan adanya tradisi “cangkruan warung kopi” di kota malang menjadi salah satu tambahan kekuatan tersendiri bagi beberapa komunitas perdamaian untuk saling berinteraksi secara langsung antar individu maupun komunitas.

    Keberadaan komunitas GUSDURian Malang yang biasa dikenal sebagai “GARUDA Malang” merupakan efek dari keberadaan  internet itu sendiri. Pada awal tahun 2011 berawal dari “group facebook”, GARUDA Malang mulai mengkampayekan perdamaian dengan spirit sembilan nilai dasar Gus Dur. Perlahan namun pasti, semakin banyak member yang merespon positif dari gerakan ini. Terbukti dari banyaknya postingan dan jumlah permintaan yang ingin bergabung. Seiring berjalannya waktu, komunitas ini berkembang pesat tidak hanya sebagai “Netizens” saja tetapi juga melakukan beberapa kegiatan-kegiatan nyata dengan tetap memanfaatkan sosial media sebagai alat komunikasi, advokasi dan kampaye.

    GARUDA (Gerakan GUSDURian Muda Malang ) merupakan bagian dari komunitas Jaringan GUSDURian Nasional (JGD) yang berada di wilayah Malang. Komunitas ini adalah komunitas kultural pemuda lintas iman dengan spirit meneladani dan memperjuangan pemikiran GusDur. Pada pertengahan 2011 mulai aktif mengadakan pertemuan cangkruan warung kopi dalam upaya untuk mewadahi bagi para pengagum pemikiran GusDur untuk saling bertatap muka dan mendiskusi segala hal yang berhubungan dengan Gus Dur sehingga dari cangkruan tersebut secara kultural dibuatlah “diskusi tematik” secara berkala dengan tetap tidak meninggalkan tradisi menulis. 

    Dari berdirinya komunitas sampai saat ini, tradisi “diskusi tematik” cangkruan warung kopi masih terus hadir ditengah-tengah gersangnya diskusi intelektual kaum mahasiswa khususnya di kota Malang. Inilah ciri khas dari komunitas GUSDURian Malang.  Namun tidak hanya itu beberapa kegiatan online maupun offline selalu mengiringi komunitas ini antara lain :

    1. Kampaye perdamaian melalui sosmed 
    2. Gathering Community dengan komunitas yang lain seperti pemuda lintas iman, Bhinneka        
            Malang, Peduli Malang, DKM (Dewan Kesenian Malang), Gubuk Baca dll.
    3. Live In di Donomulyo dengan komunitas PERANTARA Ma Chung 
    4. Kunjungan Natal dibeberapa Gereja Malang
    5. Relawan “Peduli korban Kelud” di STAB Batu dan Desa Ngantang Malang
    6. Haul dan Ziarah Gus Dur
    7. Workshop GMuP (Gerakan Menulis Untuk Perdamaian) di Balai Wiyoto GKJW Sukun
    8. Bedah Buku dan Film
    9. English Club “Garuda Rising”
    10. Ikut Adil dalam beberapa aksi Aliansi komunitas kota malang seperti SavePalestine, Save Hutan         Malabar, Peduli Rohingya..dll   

    Strategi gerakan GUSDURian Malang yaitu dengan menggunakan prinsip “Kultural-Inter-Autonomi”. Setiap subleader bergerak sesuai dengan minat dan skillnya masing-masing dan fungsi koordinator hanya sebagai mediator. Komunikasi yang digunakan melalui online yang ditindaklanjuti dengan cangkruan warung kopi. Dan “Gathering Community” menjadi langkah tersendiri  untuk memperkokoh aliansi dalam  menyuarakan dan  memperjuangkan perdamaian dan pluralism di kota malang dengan “key massages” sembilan nilai Dasar Gus Dur.


    Pada dasarnya semua media sosial digunakan oleh GUSDURian Malang sebagai alat komunikasi, kampaye dan advokasi. WhatsApp (WA) dan Blackberry Massegger (BBM) biasanya digunakan sebagai alat komunikasi. Facebook, Twitter dan Blog digunakan sebagai alat kampaye dan advokasi. Ketika ingin menyampaikan pesan panjang kita menggunakan facebook sedangkan pesan pendek menggunakan Twitter. Blog kita gunakan sebagai pusat informasi semua hal tentang GUSDURian Malang baik kegiatan maupun dokumentasi tulisan dan ebook. Kemudian dari blog tersebut kita share ke belbagai media sosial seperti facebook dan twitter. Dalam memperkuat eksistensi, GUSDURian Malang bekerjasama dengan media cetak dan online lainnya seperti Kompas, Jawa Post, NU online, Tribunnews (Surya) dan media lokal lainnya dalam mempromosikan kegiatan. Ketika melakukan petisi untuk advokasi biasanya menggunakan media online seperti www.change.org dan seringkali ketika ingin mengadvokasi sebuah isu lokal, GUSDURian Malang bekerjasama dengan komunitas yang se-sinergis untuk membentuk sebuah aliansi dalam memperkuat legitimasi dan gerakan nyata.


    *Paper ini dipersentasikan dalam forum Annual Malang International Peace Conference (AMIPEC) di Kampus UNIRA, 6 September 2015. 

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: The Role of Social Media Rating: 5 Reviewed By: GUSDURian Malang
    Scroll to Top