728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Jumat, 30 Oktober 2015

    GUSDUR-KU, GUSDUR-ANDA, GUSDUR-KITA


    GUSDUR-KU, GUSDUR-ANDA, GUSDUR-KITA:
    Upaya Tanpa Ujung Memahami dan Meneladani
    KH. Abdur Rahman Wahid

    (Sebuah Pengantar Diskusi)

    ‘Islamku, Islam Anda, Islam Kita’: Sebuah Potret  Pemikiran
    Setelah wafatnya GusDur, salah satu upaya yang sangat mungkin bisa kita lakukan untuk memahami pemikiran dan meneladani (nilai) perjuangannya adalah dengan membaca karya-karya yang pernah ditulis. Usaha lain bisa juga kita lakukan, misalnya melalui wawancara dengan keluarga, kolega atau sahabat-sahabat yang sedikit-banyak pernah bersinggungan secara langsung. Tetapi, nada-nadanya yang lebih mudah (accessable) adalah dengan membaca karya tulisnya.

    Buku “Islamku, Islam Anda, Islam Kita” adalah kumpulan tulisan Gus Dur yang bisa kita baca untuk setidaknya memahami bagaimana corak pemikirannya, ide-ide brillian, serta pesan-pesan perjuangannya. Setidaknya, buku ini bisa kita buat ‘pintu awal’ dalam mengarungi khazanah pemikiran Gus Dur. Dengan membacanya pula, kita bisa menambah ‘amunisi’ nilai dalam berproses menjadi seorang GusDur-ian, meski sudah muncul kristalisasi pesan beliau dalam Sembilan Nilai GusDur.

    Keberagamaan di Indonesia
    Sebagian besar buku antologi “Islamku, Islam Anda, Islam Kita” ini berbicara tentang topik Islam; konsepsi, gerakan, dan hubungannya dengan diskursus politik dan Hak Asasi Manusia. Lewat tulisan-tulisan tersebut, Gus Dur telah menawarkan gagasan besar untuk mengupayakan (dan menjaga) kondisi masyarakat yang berkeadilan, damai, dan anti diskriminasi.

    Sebagai ulama, ia memberi gambaran bagaimana menjadi muslim di Indonesia. Bahwa, Islam itu tidak sekaku (ekstreme) seperti sebagian kelompok ‘garis keras’ persangkakan. Islam itu agama yang inklusif dan cinta damai. Meminjam kategorisasi yang dikemukakan M. Syafi’i Anwar, Gus Dur adalah intelektual muslim yang tipologi pemikirannya bercorak substantif-inklusif.

    Terkait hubungan Islam dan Negara misalnya, GusDur sama sekali tidak bernafsu mendambakan negara Indonesia dalam berbentuk kekhalifahan Islam. Bahkan, ia sangat tidak sepakat dengan syariat Islam sebagai dasar negara. Sikap ini misalnya ia ungkapkan:

    ”Karena itu penulis berpendapat, dalam pandangan Islam tidak diwajibkan adanya sebuah sistem Islami, ini berarti tidak ada keharusan untuk mendirikan sebuah negara Islam.” [dalam “adakah sistem Islami?]

    Dalam terminologi pesantren, GusDur berpendapat bahwa yang terpenting adalah hikmah at-tasyri’ bukan lafdz at-tasyri’. Sejauh sitem demokrasi tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam, maka seorang muslim tidak perlu mempertentangkannya. Sebaliknya, orang atau kelompok yang mempertentangkannnya dan sangat bernafsu untuk mewujudkan sistem islami dianggap GusDur sedengan mengidap demam syari’at.

    Disini nampak jelas, bahwa GusDur mempunyai komitmen yang kuat untuk menjunjung tinggi demokrasi, yang menjamin keberlangsungan hubungan harmonis antar umat beragama di Indonesia.

    Eklektisisme Islam atau Islam Eklektik
    Islam eklektik adalah prinsip dasar “keberagamaan” yang diinginkan oleh GusDur. Saya sebut demikian sebab eklektisisme dalam ber-Islam merupakan prinsip prinsip Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Indikatornya ialah penerapan Islam yang demikian tidak membuat penganutnya (umat Islam) alergi dengan hal-hal baru. Sebut saja konsep ‘urf yang menjadi ladasannya. Dengan ‘urf, maka tradisi yang menjadi darah daging entitas manusia Indonesia tidak akan pernah dinafikan dalam tata cara beragama. Dalam hal ini, Adonis mengatakan bahwa sikap eklektik yang telah tercatat dalam sejarah merupakan cara paling efektif untuk proses kreativitas (al ibda’). Dan, kreativitas dalam beragama merupakan tuntutan yang harus dipenuhi mengingat zaman yang selalu berubah. Jika, Islam yang diinginkan selalu sholihun li kulli zaman wa makan, maka kreativitas menjadi penting dan tak dapat dikesampingkan.

    Pertanyaan berikutnya, bagaimana proses kreativitas dapat muncul dipengaruhi oleh cara pandang eklektis? Jawabannya terletak pada paradigma dalam ushul fiqh. Di dalam ushul fiqh terdapat rumusan yang membuka jalan keterbukaan dengan cara pandang bijaksana—sehingga bisa terhindar dari jebakan-jebakan teks qonuniyah yang seringkali menjadi corpus tertutup).

    Dalam hal ini, eklektisisme adalah tuntutan. Jika tidak, maka sama dengan membunuh diri sendiri. Salah satu akibatnya adalah terjadinya benturan agama. Karena agama diposisikan sebagai ideologi, bukan lagi sebagai agama atau cara pandang hidup.

    Islam sebagai agama berbeda dengan Islam sebagai ideologi. Islam sebagai agama seharusnya mengedepankan moralitas (akhlak), bukan sebaliknya. Atas  nama moral kemudian melakukan intimidasi terhadap liyan (the others). Islam ala Gus Dur adalah Islam yang mengedepankan penghormatan dan solidaritas kepada liyan tersebut. Dalam terminologi masyayikh NU dikenal dengan Islam yang mengedepankan solidaritas keislaman (al-ukhuwwah al-islamiyyah), solidaritas kebangsaan (al-ukhuwwah al-wathoniyyah) dan solidaritas kemanusiaan (al-ukhuwwah al-basyariyah).

    Outcome dari gerakan pemikiran Gus Dur dalam hal ini adalah menampilkan “Islam yang ramah, bukan yang marah”.  Ia sangat mengecam apapun bentuk terorisme, terutama yang mengatasnamakan agama. Radikalisasi agama ia artikan sebagai dangkalisasi agama.

    Membela Mustadl’afien
    Gus Dur malahan nada-nadanya lebih mendorong pada gerakan aksiologis, misalnya mengambil isu HAM sebagai concern gerakan. Dalam hal ini ia berkaca pada ‘kegagalan’ gerakan kiri komunisme, sebagaimana berikut:

    “…alam sejarah umat manusia, selalu terdapat kesenjangan antara teori dan praktek. Terkadang kesenjangan itu sangatlah besar, dan kadang kecil. Apa yang oleh paham komunisme dirumuskan dengan kata rakyat, dalam teori dimaksudkan untuk membela kepentingan orang kecil; tapi dalam praktek justru yang dibela terbanyak adalah kepentingan kaum aparatchik. Itupun berlaku dalam orientasi paham tersebut, yang lebih banyak membela kepentingan penguasa daripada kepentingan rakyat kebanyakan. Karena itu, kita harus berhati-hati dalam merumuskan orientasi paham ke-Islaman, agar tidak mengalami nasib seperti paham komunisme tersebut [Dalam “Islam dan Formalisme Ajarannya”].
               
    Islam oleh Gus Dur rupanya diarahkan untuk lebih ‘membumi’, berbicara kerakyatan, sehingga mampu menjadi teologi pembebasan. Untuk tema perjuangan kaum tertindas atau minoritas, terminologi yang lebih tepat (appropriate) digunakan adalah mustadl’afien.

    Sebab dalam khazanah Islam Pesantren (baca: Aswaja/Nahdliyiin), kategori ‘kaku’ tentang kelas (borjuis-proletar) dianggap kurang tepat. Sehingga, yang perlu dibela adalah kaum mustadl’afien; sebagai yang tertindas, teralienasi atau yang terlemahkan oleh struktur kuasa atau upaya penguasaan sistemis lainnya.

    Menurut Gus Dur orientasi paham ke-Islaman seharusnya adalah pada kepentingan orang kecil di hampir seluruh aspek kehidupan. Dalam konteks ini, yang mesti ditonjolkan adalah kaidah ushul fiqh: ‘malahah ‘ammah (kesejahteraan umum). Dalam hubungannya dengan pemerintahan kaidah “tasharruf al-imâm ‘ala al-ra’iyyah manûthun bi al-mashlahah” bisa digunakan sebagai prinsip (politik) kaum muslimin (baca di: Islam dan Formalisme Ajarannya).

    Wallahu a’lam bis showaab.
    Semoga bermanfaat.
    Selamat membaca dan berdiskusi.


    * Disampaikan pada kongkow rutin Gusdurian malang, 28 oktober 2015 di kedai Lab. komika 

    Ditulis kejar-tayang
    Oleh: Winartono 
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: GUSDUR-KU, GUSDUR-ANDA, GUSDUR-KITA Rating: 5 Reviewed By: GUSDURian Malang
    Scroll to Top