728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Selasa, 27 Oktober 2015

    Menegaskan Islam Yang Ramah


    Judul                          : Islam Nusantara dari Ushul Fiqh Hingga Paham Kebangsaan
    Penerbit                     : Mizan
    Penulis                      : Tim Penulis
    Cetakan                    : Agustus 2015
    ISBN                         : 978-979-433-895-7
    Halaman                   : 342 halaman
    Peresensi                 : Muhammad Rosyid Husnul W.*



    Nahdlatul Ulama’ sebagai organisasi keislaman terbesar di negeri ini telah resmi merampungkan gawe besarnya, Muktamar ke 33 di Jombang Jawa Timur. Nahkoda baru pun juga telah resmi dijabat dengan KH. Ma’ruf Amin sebagai rois ‘am syuriah dan KH. Sa’id Aqil Siradj sebagai ketua Tanfidhiyah. Walaupun masih banyak menyisakan problema yang perlu proses rekonsiliasi dan negoisasi, Muktamar ini telah menyumbangkan warisan terbesarnya. Tema besar Muktamar ini telah sukses menjadi isu yang sangat provokatif dalam menggaris bawahi pola keislaman di bumi Nusantara. Hiruk pikuk Islam Nusantara dengan beragam argumentasinya telah mewarnai dunia keislaman bangsa ini.

    Islam Nusantara, sebuah diskursus keagamaan yang menjadi tema besar Muktamar yang sangat masif menjadi perbincangan public melalui diskusi, debat, seminar ataupun obrolan ‘ringan’. Sebuah realitas keberagamaan Islam yang unik dan khas dari Nusantara untuk menebarkan kedamaian dunia. Islam Nusantara hadir tidak untuk menggeser kemurnian islam akan tetapi menjadi sebuah penegasan bahwa Islam hadir di nusantara ini dengan penuh kedamaian dengan mengadaptasi nilai-nilai lokal dan tradisi yang telah dulu eksis. Bertepatan dengan momen muktamar Nahdlatul Ulama’ ke 33 dan menjawab kegelisahan publik yang bertanya-tanya ‘makhluk’ semacam apakah Islam Nusantara itu (tulisan Gus Mus), buku ini hadir di tengah-tengah pembaca.
    Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari kyai, akademisi ataupun pengamat tentang Islam Nusantara. Tulisan yang tidak hanya diisi dari golongan NU namun juga dari Muhammadiyah dan juga para pakar yang berkecimpung dalam kajian keislaman (Islamic studies). Tradisionalitas keislaman dan pertimbangan budaya terurai jelas dalam tulisan-tulisan Gus Dur, Gus Mus, Kyai Masdar, Kyai Sahal, dan Kyai Said Aqil Siradj yang mewakili organ Nahdlatul Ulama’. Sedangkan tulisan para wakil Muhammadiyah semisal Din Syamsuddin, Haidar Bagir, dan Prof. Amin Abdullah menguraikan tentang problematika modernitas dan globalisasi yang berimplikasi terhadap Islam itu sendiri. Tulisan pakar keislaman di Indonesia semisal Azyumardi Azra dan Nurcholish Majid juga membuat buku ini semakin menjadi masterpiece dalam kajian keislaman nusantara. Perpaduan ketiga sudut pandang (perspective) inilah yang membuat buku ini sangat layak diburu karena kelengkapannya.
    Ditilik dari segi kandungannya, buku ini sangat layak mendapatkan apresiasi. Bagaimana tidak, tulisan-tulisan yang terkandung adalah tulisan para pakar. Mulai dari kerangka dasar Islam Nusantara yang ditulis oleh Gus Dur yang menyebutnya pribumisasi Islam. Disusul kemudian dengan kerangka konsep Islam Nusantara dari aspek legalitas teologis ataupun ushul fiqh, yang diwarnai dengan metode istinbath yurispudensi islam, dan ijtihad di era modern. Kemudian, Ahlu sunnah wal jama’ah (aswaja) dibahas tuntas dari segi historisitasnya dan bagaimana Islam bisa sampai ke Indonesia, beserta sanad (tali persambungan) keilmuan ulama’ di Indonesia. Buku ini juga dilengkapi dengan diskursus tasawuf dalam bingkai spiritualisme. Dan diakhiri dengan hubungan Islam Nusantara dan paham kebangsaan dengan garis terang bahwa NKRI dan Pancasila adalah garis final perjuangan kaum Islam di Indonesia untuk mewujudkan Negara yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur. Kesan estetis buku ini juga terwakili oleh sebuah cerpen berjudul “Gus Ja’far” yang berdimensi tasawuf besutan KH. Mustofa Bisri yang memang terkenal sebagai penyair dan budayawan. 
    Dan juga, buku ini semacam menjadi blueprint untuk memahami Islam Nusantara. Corak agama islam yang mengedepankan kedamaian, harmoni dan silaturrahim dengan mendasarkan pada prinsip moderasi (wasatiyah), keseimbangan (tawazun) dan toleransi (tasamuh). Seperti statement KH Abdurrahman Wahid tentang pribumisasi islam atau Islam nusantara bahwa semua kelompok masyarakat bertanggungjawab terhadap proses pribumisasi islam dalam arti mengokohkan kembali akar budaya Indonesia, dengan tetap berusaha menciptakan masyarakat yang taat beragama (hal.48). Wujud Islam Nusantara terpampang jelas dalam rutinitas keberagamaan umat islam di Indonesia, seperti kemeriahan Idul Fitri, halal bi halal, lebaran Ketupat, dan lain sebagainya.
    Di tengah arus deras gerakan Islam transnasional dan puritanisme agama semacam ISIS (Islamic State of Iraq Syiria) dan NI (Negara Islam) yang mengedepankan radikalisme, intolerir, dan wajah islam yang brutal. Buku ini hadir dengan menyejukkan hati dan menangkal radikalisme bahwa islam adalah agama yang toleran, moderat dan ramah. Tidak mengedepankan kekerasan dan amara murka karena Islam hadir sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin. Kompromi teks-teks (nash) keislaman yang rigid dengan budaya local (tradisonal) ataupun kemajuan dunia modern berserta globalisasi menemui penjelasan dan pemahamannya yang cerah nan mencerahkan dalam tulisan-tulisan di buku ini. Walhasil, buku ini sangat layak untuk dibaca khalayak ramai dari berbagai golongan untuk memahami corak keislaman di Indonesia yang kompromistis terhadap budaya dan kemajuan zaman karena Islam Sholihun likulli zaman wa makan (relevan dimanapun dan kapanpun). Wallahu a’lam.


    *(Peserta Kelas Pemikiran Gus Dur Pertama Gusdurian Kota Malang 2015)                                                                                                                           






    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Menegaskan Islam Yang Ramah Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top