728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Minggu, 18 Oktober 2015

    Mengkhawatirkan Masa Depan Tuhan

    [BUKAN RESENSI BUKU]

    Dengan beragam ekspresinya, semakin hari semakin banyak saja orang atau kelompok yang mengkhawatirkan masa depan Tuhan. Entah kekhawatiran itu didasari oleh perkembangan dan kecanggihan pengetahuan yang sudah semakin multidimensional dicapai, atau oleh mengkerutnya otak kemanusiaan yang tidak lagi mampu melihat diri dalam bingkai lingkungan sosial alam di sekitarnya - pun perkembangan evolutif manusia itu sendiri.

    Ada apa tho?

    Tuhan dikhawatirkan tidak lagi memiliki tempat utama dan istimewa dalam peradaban manusia. Entahlah kekhawatiran itu berasumsi bahwa dimungkinkan adanya sebuah era saat Tuhan tak memiliki kemampuan lagi melakukan intervensi langsung dalam dinamika proses hidup manusia, atau peradaban itu telah menuju gerak pada bentuk idealnya sehingga tidak lagi membutuhkan Tuhan.

    Masa depan Bumi, berkat ilmu pengetahuan dan teknologi, semakin hari manusia dapat semakin dengan jelas memprediksikannya. Masa depan bahkan model kepribadian - termasuk yang akan membentuk postur tubuh dengan fungsi dominan tiap-tiap bagiannya juga telah mendapatkan perhatian besar dalam penelitian dan hasilnya sangatlah menggembirakan. Masa depan negara-negara, bahasa, cara hidup manusia, budaya, dan segala perangkat sosial dan relasional antar manusia, juga semakin hari semakin mudah dilihat arah dan tujuannya.

    Dari semua itu, selalu saja ada gelombang-gelombang besar dukungan dan gerakan kontra. Banyak yang menyambutnya dengan optimis dan berpikir positif terhadap segala bentuk perubahan yang menguntungkan yang terus menemukan kodrat ideal manusia di masa depan, namun banyak juga yang pesimis-sinis-apatis bernostalgia tentang dunia ideal di masa lalu - lengkap dengan semangat pengembalian pemurnian, pengaslian kembali, dan bahkan menganggap kodrat puncak manusia sebenarnya sudah berhenti di masa lalu itu.

    Apakah kekhawatiran akan masa depan Tuhan itu justru terjadi karena ketidakmampuan peradaban ini menghayati dan memproyeksikan ideal-ideal keindahan dan keutamaan hidup alam dan manusia? Ataukah sebaliknya. Kekhawatiran itu sendirilah yang sebenarnya secara perlahan tapi pasti membuat benih-benih dasar kesadaran dan spiritualitas yang telah menemukan Tuhan itu menjadi punah. Yang pasti, kekhawatiran itu mengganggu kedua belah pihak. Atau setidaknya menciptakan tembok-tembok baru yang melintasi dan menembus batas organisasi dan institusi yang selama ini dianggap mampu mengendalikan relasi manusia dengan Tuhan.

    Coba kita pikir ulang

    Bagi yang terlalu optimis akan masa depan Tuhan, kekhawatiran itu dikompensasikan melalui sikap yang begitu kompleks, kadang paradoksal - kadang tidak konsisten, dalam segala bentuk sistem kesadaran untuk melulu memprioritaskan penyatuan dan keutuhan, bahkan keseragaman. Kesamaan-kesamaan manusiawi dijadikan landasan penting untuk melegitimasi segala bentuk produk dari yang bersifat konseptual hingga yang amat material.

    Seolah-olah kebutuhan makhluk yang disebut sebagai manusia sama saja dengan harimau yang mencari mangsa, sama saja dengan kerbau yang mencari rumput, sama saja dengan nyamuk yang menghisap darah. Pemakluman-pemakluman dilakukan agar arah masa depan manusia sejahtera tertuju pada satu kesatuan kesesuaian yang selalu berada dalam batas-batas toleransi.

    Demikianlah problem monoteism yang selalu ambigu itu dipertentangkan satu dengan yang lain, terutama dengan konsep-konsep yang tidak memenuhi standart arus utama optimisme masa depan kesejahteraan Tuhan itu. Problem-problem keragaman ditengarai sebagai alasan penyebab ketidaksatuan dan masalah, bukan sebagai akibat dari dasyatnya olah rasa dan karya manusia menafsirkan diri dan masa depannya.

    Bagi yang pesimis, sinis bahkan apatis masa depan Tuhan dikaitkan dengan kehancuran terhadap apa saja. Ya bisa kehancuran semesta, kehancuran kemanusiaan, kehancuran moralitas, kehancuran sistem. Masa depan Tuhan dilihat dalam ruang-ruang kegelapan dan ketidakpastian. Tuhan menjadi figur paling tidak konsisten dan paling tidak bisa dimengerti kehendakNya. Menjadi alasan akhir ketidakberdayaan dan frustasinya perkembangan peradaban.

    Kekhawatiran ini mencakup semua pihak, tidak hanya orang-orang yang mengaku beragama. Masa depan Tuhan dikhawatirkan karena justru mengancam ketenangan baik pihak yang berkuasa maupun dikuasai. Kedua pihak menjadikan kekhawatiran itu sebagai alat mengancam satu sama lain. Penguasa - pun pemegang otoritas penentu wacana yang berkaitan dengan Tuhan - memanfaatkan kekhawatirannya untuk menundukkan, melegitimasi penindasan, bahkan melegalkan kekerasan-penghancuran, hingga memaklumi pembunuhan. Demikianlah dengan cara yang bertentangan para orang tertindas memaknai kekhawatirannya sebagai energi balas dendam utopis.

    Bagi yang mengambil posisi tak terlalu risau dengan masa depan Tuhan, biasanya cenderung realistis-kontekstualis memfokuskan diri pada hal-hal sederhana terdekat, bergembira dan memastikan bahwa kehidupan terbaik yang disyukurinya saat ini adalah bukti bahwa masa depan Tuhan tidaklah perlu dikhawatirkan dengan sikap apapun.

    Masa depan Tuhan ada dalam masa depan alam semesta ini. MemahamiNya adalah mencoba mengerti rahasia dibalik segala kompleksitas peristiwa alam dan segenap makhluknya termasuk manusia sebagai bagian sebagaimana makhluk lain yang ada. 

    Akhirnya

    Berkat dan Rahmat, kutuk dan laknat, adalah ekspresi - sekalipun sering dipandang sebagai proyeksi - interaksi seluruh makhluk semesta dengan perubahan alamiah yang merupakan kodrat alam ini ada. Mengkhawatirkan masa depan Tuhan bukanlah jawaban dari paradoks yang selalu dijumpai oleh kemampuan logika kemanusiaan kita. Sebaliknya, kekhawatiran kita itulah, apapun bentuk ekspresinya, adalah awal dari ketidakmauan kita untuk berkembang dewasa, berubah, dan berperadaban.

    Masihkan anda khawatir?


    Oleh: Kristanto Budiprabowo (Penasehat Gusdurian Kota Malang), Tulisan ini di ambil langsung dari link aslinya; http://on.fb.me/1MwNE7D              
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Mengkhawatirkan Masa Depan Tuhan Rating: 5 Reviewed By: GUSDURian Malang
    Scroll to Top