728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Kamis, 01 Oktober 2015

    Pengantar Buku Das Kapital



    Oleh: Abdurrahman Wahid

    BUKU Das Kapital ini adalah karya ilmiah yang besar dari Karl Heinrich Marx. Dalam khazanah pemikiran kaum komunis, buku ini sejajar dengan karya Friedrich Engels yang juga ditulis bersama Marx, Manifesto Komunis.

    Kedua buku itu sejajar dengan karya Vladimir Ilyich Lenin, yaitu What’s to be Done serta pamflet The Infantile Disease of ”Leftism” in Communism. Lenin mengemukakan sebuah prinsip yang sangat penting bahwa revolusi hanya akan berhasil kalau ada pihak yang merumuskan revolusi itu sendiri dengan cara tepat. Ini berarti, harus ada sebuah partai komunis yang akan memimpin sebuah revolusi sampai berhasil. Karya besar kaum komunis lainnya adalah pidato Mao Zedong. Mao menyatakan bahwa dia sendirian saja karena dia bersama- sama rakyat. Dengarlah ungkapan terkenal dari Deng Xioping ini, ”Tidak peduli kucing itu hitam atau putih,yang penting dapat menangkap tikus.” Semuanya itu hanya dapat dihasilkan oleh analisis ilmiah, seperti yang ada dalam Das Kapital Marx.

    Penulis melihat karya Marx ini sebagai ”penyimpangan”, seperti pendapat Prof DR Jan Romein dari Negeri Belanda. Dalam Aera Europa yang terbit dalam edisi bahasa Indonesia pada 1950-an, Romein menyatakan peradaban Eropa sebagai penyimpangan dari peradaban dunia. Pada abad ke-6 sebelum masehi, dunia dihadapkan kepada sebuah perkembangan sangat penting, yaitu para moralis besar menemukan jawaban atas sebuah masalah yang sudah berabad-abad lamanya ”menghantam” peradaban dunia secara mutlak. Peradaban sungai-sungai besar melahirkan putra terbaik untuk peradaban dunia, seperti Huang Ho dan Yang Tse Kiang di Tiongkok melahirkan Konghucu dan Lao Tze. Budha Gautama di Sungai Gangga India, Zarathustra di Lembah Mesopotamia, dan Akhenaton di Sungai Nil Mesir Mereka semua memperkeras pembentukan budaya tradisional di seluruh dunia dalam bentuk Pola Kemanusiaan Umum I (PKU I – Eerste Algemeen Menselijk Patroon).

    Pola tersebut merupakan kerangka bagi moralitas umum di seluruh dunia, yang dengan pengulangannya di seluruh dunia membuat masyarakat merasa ”terlindung” oleh sebuah tradisi. Di Indonesia,tradisi tersebut dikokohkan oleh Prabu Saka pada abad ke-5 Masehi di Medang Kamulan, Jawa Timur. Dengan demikian, dunia kembali pada kemapanan moral yang diusahakan para tokoh moralis yang namanya disebutkan di atas. Hanya para filosof Yunani Kuno,seperti Thales,Socrates, Plato, dan Aristoteles, yang menggunakan kerangka rasional dalam membuat analisis mereka. Ini diteruskan oleh kekuasaan hukum Roma (lex Romanum) dan persatuan Roma (pax Romanum), merupakan penyimpangan kedua dari PKU I yang disebutkan di atas, sebagai ”pemisah” antara PKU I dan penyimpangan tersebut. Tidak heran jika hal ini mengubah jalannya sejarah umat manusia di kala itu.

    Diteruskan dengan ”penyimpangan” oleh Gereja Katolik, nyatalah penyimpangan yang terjadi atas PKU I, yang akhirnya bergerak dengan momentumnya sendiri. Perkembangan selanjutnya, seperti pengorganisasian gereja, renaissance, aufklarung (masa pencerahan), rasionalisme, dan pembatalan yang dikerjakan Immanuel Kant, revolusi industri, dan pemunculan ideologi (seperti sosialisme dan kapitalisme), adalah tahap-tahap pertumbuhan dari ”penyimpangan” Eropa dari PKU I di seluruh dunia. Nah, sekarang ini Eropa telah berhasil ”menyempurnakan” penyimpangan tersebut.

    Dengan teknologi dan pengorganisasian masyarakat yang berhasil dicapai sejauh ini, telah memaksa ”peniruan” oleh dunia yang semula mengikuti PKU I. Keadaan demikian itu oleh sementara moralis dianggap sebagai ”kerugian besar” umat manusia. Karena sekarang umat manusia kehilangan moralitasnya. Kita boleh berbeda paham tentang rugi atau tidaknya dengan perkembangan itu.Tapi, analisis sosial yang digunakan Karl Marx dalam Das Kapital itu tetap harus penulis anggap sebagai bagian dari ”penyimpangan sejarah” dari PKU I, guna mengetahui setepatnya kedudukan karya tulis penting tersebut. Kalau tidak dilakukan penilaian seperti itu, kita akan terpaksa melihatnya sebagai sesuatu yang menentukan segala-galanyanya, atau justru tidak menganggapnya penting bagi sejarah.

    Anggapan buku Das Kapital adalah bagian dari penyimpangan yang dilakukan oleh para pemikir Eropa, sudah merupakan sebuah penilaian yang sangat tinggi akan karya tersebut.Tidak banyak karya tulis yang mempunyai kedudukan seperti itu. Karya ini merupakan warisan yang sangat berharga bagi upaya kita untuk maju ke depan, dalam perkembangan sejarah umat manusia,bukan?


    Dikutip sepenuhnya dari http://www.unisosdem.org/kliping_detail.php?aid=8651&coid=1&caid=34  yang dimuat cetak pada Koran Sindo 27 Agustus 2007 dan dapat diunduh versi digitalnya pada http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/berita-utama/analisis-pengantar.html
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Pengantar Buku Das Kapital Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top