728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Jumat, 30 Oktober 2015

    SUMPAHKU

                        

    "Kami Poetra dan Poetri Indonesia Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Air Indonesia
    Kami Poetra dan Poetri Indonesia Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia
    Kami Poetra dan Poetri Indonesia Mengjoenjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia" 

    Begitulah teks “Sumpah Pemuda” sebelum ejaan yang disempurnakan. Pernyataan yang menggelegar dari pemuda Indonesia saat itu menjadi awal perubahan dan kebangkitan bangsa ini. Berawal dari berdirinya organisasi “Boedi Utomo” pada tahun 1908, melalui media pendidikan dan sosial budaya mulai mereka kobarkan semangat penyadaran akan pentingnya persatuan, kesatuan serta nasionalisme kepada kalangan pribumi. Mulai saat itulah banyak sekali organisasi kepemudaan yang bermunculan di masing-masing daerah seperti Jong Java, Jong Sumatera, Yong Ambon, Jong Batak Bond dan seterusnya. Dari situlah dalam semangat dan cita-cita yang sama yaitu mencapai bangsa yang berdaulat, para organisasi kepemudaan bersatu padu dan lahirlah yang namanya “sumpah pemuda”.

    Berbagai peristiwa mewarnai perjuangan mereka, bahkan rela bila nyawa menjadi taruhannya. Sampai pada titik dimana bangsa ini merdeka, mereka telah menyatukan bangsa ini dalam ikatan “Bhinneka Tunggal Ika”. Sesuatu yang sudah pasti tidak dimiliki oleh bangsa lain. Telah lenyap rasa ketidakmungkinan, kesia-siaan dan penyesalan dalam diri mereka dan hanya menyisakan semangat perjuangan yang terus mereka kobarkan untuk bangsa ini.

    Menurut BPS (Badan Pusat Statistik), Indonesia terdiri dari 17.500 pulau (13.466 pulau yang sudah memiliki nama), 1.128 Suku bangsa, 442 bahasa daerah. Sungguh mencengangkan melihat data ini, penulis hanya bisa bertanya-tanya dalam keraguannya. Bagaimana bisa mereka menyatukan itu semua dalam bangsa ini ?. Setelah melihat fakta sejarah, penulis merasakan penuh kekaguman dan kebanggaan atas perjuangan bangsa ini. Mereka telah meneladani saatnya kita meneruskan. Hanya ini yang terlintas dibenak penulis.

    Sudah 70 tahun dan 3 massa sejak bangsa ini merdeka. Penulis berpandangan seharusnya bangsa ini lebih unggul dari bangsa lain dengan melihat apa yang dimilikinya. Namun kenyataannya, bangsa ini masih terpuruk dalam berbagai aspek. Sungguh munafik sekali ketika kita hanya bisa mengatakan bahwa ini adalah dosa dari pendahulu kita bahkan warisan dari penjajah.

    Meski kita punya keterikatan dengan sejarah namun bukan berarti watak Indonesia saat ini sepenuhnya adalah warisan dari sejarah panjang bangsa ini. Masa sekarang dan masa depan adalah milik kita terutama kalangan muda bangsa ini. Oleh karenanya, apa yang kita perbuat untuk bangsa ini menjadi bagian dari kebangkitan ataupun keterpurukan bangsa Indonesia kedepannya. Bahkan ketika kita hanya diam dengan melihat realita disekitar kita.

    Kembali kepada sejarah bahwa kemustahilan yang telah dilakukan oleh pendahulu kita dalan menyatukan bangsa ini, apakah kita menampikkan itu semua ?. Lagi-lagi sungguh munafik ketika kita hanya melihat dosa-dosa yang dilakukan oleh para pendahulu  dan sama sekali tidak melihat jasa-jasa yang sungguh besar dalam menyatukan Indonesia.

    Sampai saat ini kita tetap menjadi Indonesia.
    Sampai kapan kita tetap menjadi Indonesia ??

    Inilah pertanyaan yang harus kita jawab. Bukan hanya mampu membanggakan dan menyesali sejarah bangsa ini. Nilai paling Indonesia yang selalu terikat oleh sejarah seharusnya menjadi spirit bersama dalam mewujudkan Indonesia yang lebih baik dengan meneruskan perjuangan mereka dan memperbaiki hal-hal yang harus diperbaiki dari sejarah panjang bangsa ini bukan malah sebaliknya. Dalam hal ini  diam bukanlah emas dan hanya memikirkan kesenangan pribadi adalah dosa besar. Kita telah diwarisi semangat juang yang tinggi oleh bangsa ini. Tentu hal ini menjadi kekuatan besar kita sebagai “agent of change” menuju bangsa yang berdaulat. Bukan malah kita melempem dan meratapi  nasib bangsa ini dan hanya mampu berkata “pancen ngono ket biyen”  tanpa melakukan sesuatu untuk memperbaikinya.

    Pendahulu telah membuktikan kepada kita bahwa tidak ada yang mustahil di dunia ini. Oleh karenanya saatnya sekarang kita yang membuktikan kembali.  Pemuda adalah pemersatu bangsa bukan malah pemecah belah bangsa. Apa yang kita lakukan saat ini yang akan membukti kelak kebangkitan ataukah keterpurukan bangsa ini.  

    Hidup dan teruslah hidup Tanah Airku...!!!

    Oleh : Fauzan_GD
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: SUMPAHKU Rating: 5 Reviewed By: GUSDURian Malang
    Scroll to Top