728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Kamis, 15 Oktober 2015

    Tradisi Suran (Suroan) | Antara Agama dan Tradisi

    “Nilai paling Indonesia adalah pencarian tak berkesudahan akan perubahan social
    tanpa memutus sama sekali ikatan dengan masa lalu ~ Gus Dur “

    Malam menjelang "satu suro" yang bisa dikatakan "satu Muharram" (tahun baru Islam di Indonesia) memiliki makna yang berbeda-beda bagi masyarakat  Indonesia khususnya Jawa. Berbeda dengan menyambut tahun baru Masehi, malam tahun baru Jawa disambut dengan tradisi “Suran” atau tanggap warsa. Jika tahun baru masehi dirayakan dengan pesta pora atau tahun baru imlek dengan ramai-ramai maka tahun baru Jawa dirayakan dengan berbagai laku mesu budi (keprihatinan). Manifestasi laku budi ini bermacam-macam. Di Yogyakarta dirayakan dengan tradisi “ngubengi benteng keraton” dengan membisu dibelakang kirap pusaka kraton sebagai laku untuk menolak malapetaka. Di Surakarta dirayakan dengan kirap kerbau bule “kyai slamet” sebagai “Cucuking lampah” dan dibelakang kerbau bule adalah putra-putra kraton “Santana Dalem” yang membawa pusaka kemudian diikuti oleh masyarakat Solo dan sekitarnya. Uniknya, sebagian umat kristiani di tanah Jawa ada yang memperingati malam "satu suro" dalam bentuk perayaan Ekaristi (Perjamuan Kudus) atau yang biasa disebut dengan "Misa  Malam Suro".
    Sedikit menilik sejarah, sebelum Islam masuk ke Nusantara. Di tanah Jawa terdapat sistem penanggalan yang dikenal dengan kalender Saka yang dimulai tanggal 15 maret 78 M. Dalam cerita tutur Jawa disebutkan bahwa kalender ini dicetus oleh Ajisaka, seorang tokoh legendaris Jawa yang dipercaya sebagai pencipta huruf Jawa yang datang dari India ke tanah Jawa. Penanggalan ini berasal dari tradisi Hindu yang sudah digunakan di India. Seperti halnya tahun Masehi, tahun Saka ini didasarkan pada perhitungan peredaran matahari (Kamajaya, 1995:221).
    Penanggalan Saka ini digunakan oleh masyarakat Jawa berabad-abad lamanya. Kemudian pada masa pemerintahan Sultan Agung raja Mataram mengalami pembaharuan yang berusaha merubah penanggalan Jawa dengan memadukan tradisi penanggalan Hindu (Saka) dengan tradisi penanggalan Islam (Hijriyah). Dalam pemaduan tersebut, Sultan Agung memilih perhitungan peredaran bulan sebagai dasar perhitungannya. Namun nama dan Istilah penanggalan masih melanjutkan penanggalan Saka. Dengan demikian, tanggal satu sura (tahun pertama penanggalan jawa) jatuh bersamaan dengan tanggal 1 Muharram akan tetapi angka tahun jawa masih menggunakan tahun Saka. Dan ada tiga daerah dipulau jawa pada masa sultan agung yang tidak masuk dalam wilayah kekuasaannya yaitu belambangan (kini, banyuwangi), banten dan Batavia (kini, Jakarta dan sekitarnya).
    Pengaruh akulturasi budaya tersebut menghasilkan berbagai macam prosesi peringatan yang berbeda-beda dikalangan masyarakat Jawa. Dengan menilik sejarah hal ini sangat wajar, meski bisa dikatakan bahwa satu suro adalah merupakan tahun baru Islam bukan berarti laku budi dalam menyambutnya hanya diisi dengan nuasa keagamaan saja karena begitu “mendarah dagingnya” dan saling mempengaruhi antara tradisi dan agama dalam masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Jawa. Bahkan ada sebagian kelompok masyarakat jawa yang sampai saat ini yang masih memegang teguh adat istiadat lama dalam memperingati Suran seperti ruwutan (selametan), tumpengan, macapatan, larung sesaji dan semacamnya. Dalam merayakannya pun tidak hanya orang Islam saja, tetapi seluruh masyarakat setempat. Seperti di desa Traji kabupaten Temanggung yang memandang bahwa Suran merupakan tradisi turun-temurun desa.
    Dalam pengalaman pribadi penulis, pada tahun ini mengikuti tradisi Suran yang diselenggarakan oleh Sanggar Boworoso di desa Ngijo kec. Karangploso dengan prosesi “penanaman pohon beringin”. Menurut pak Bondan selaku ketua Sanggar Boworoso, pohon beringin merupakan simbol kebersamaan dan persatuan dengan memaknai bahwa pohon melambangkan isi alam dan secara mikrokosmos menggambarkan diri manusia sesuai dengan serat Bermoro Karso yaitu “Suluk Pathet Sanga Wantah” yang  ditembangkan dengan lagu “Dandang Gulo”.

    Kayune Purwa sejati
    Pangira Jangat godhong kinarya rumembi
    Apradapa kekuwung
    Kembang lintang salaga langit
    Woh surya lan tengsu
    Kasirat bun lan udan
    Puncak akasa bumi  bengkah pratiwi
    Oyode bayu bajra

    Penanaman pohon sebagai bentuk spirit mesu budi (keprihatinan) akan keadaan Indonesia saat ini terkait aspek lingkungan hidupnya sehingga dengan adanya tradisi Suran ini masyarakat Indonesia bisa introspeksi diri. Dalam acara tersebut diikuti oleh berbagai kalangan masyarakat dengan latar belakang agama yang bermacam-macam pula, lanjut pak Bondan. Menurut penulis mungkin masih banyak lagi daerah-daerah yang memiliki pemaknaan yang hampir sama dengan desa Traji dan Ngijo dengan memaknai bahwa tradisi Suran bukanlah sebuah tradisi keagamaan melainkan budaya ataupun adat istiadat setempat.
    Ketika menilik secuap sejarah diatas, penulis berpandangan kurang tepat ketika tradisi Suran dalam hal pemaknaannya hanya sebagai tradisi keagamaan semata, khususnya agama Islam. Apalagi ketika dikatakan “satu soro” adalah “satu muharram” saja maka banyak sedikit dari kalangan kelompok Islam akan mengaitkan hukum agama terhadap sebuah tradisi Suran bahkan mereka  mengklaim “haram” terhadap tradisi Suran kelompok tertentu dan dengan seenaknya mengatakan “kafir" dan menyesatkan. Dan akan menjadi masalah pelik ketika MUI “Majlis Ulama’ Indonesia” nantinya turun tangan terkait hukum tradisi Suran yang sejatinya harus dikaji lebih jauh bila menfatwakan tradisi Suran dari segi keagamaannya.
    Meskipun penulis tidak memungkiri bahwa tradisi Islam berperan penting dalam tradisi Suran namun bukan berarti ketika kelompok kejawen bahkan jika sebuah masyarakat desa melakukan ritual tertentu dalam menyambut Suran maka dengan mudah kita mengatakan tidak sesuai dengan syariat Islam, bid’ah atau bahkan sampai pada sebutan kelompok ataupun masyarakat yang “menyesatkan”. Penulis lebih berpandangan pada asaz manfaat yang lebih besar ketimbang mudaratnya dalam tradisi Suran ini. Bagaimana tidak, ketika melihat beberapa fenomena diatas kita dengan mudah bisa melihat bahwa semangat gotong-royong, persatuan, perdamaian dan toleransi bahkan secara personal laku mesu budi (keprihatinan) ada di dalam tradisi Suran tersebut. Yang sejatinya harus dimiliki oleh rakyat Indonesia untuk bisa melakukan introspeksi diri demi Indonesia yang lebih baik. Dan penulis lebih melihat bahwa “agama” merupakan permasalahan keyakinan individu yang tidak dapat dipaksakan kepada individu lain baik dalam hal ubudiyah maupun muamalahnya.
    Sejatinya yang menjadi kekawatiran mendalam bagi penulis bukanlah terkait Suran adalah tradisi keagamaan ataukah kebudayan melain pada tidak begitu populisnya dikalangan masyarakat Indonesia khususnya kalangan muda saat ini, tidak seperti tahun baru masehi yang selalu diingat dan disiapkan agenda khusus untuk merayakannya. Saat ini banyak sekali pemuda yang tidak tahu tradisi Suran dan mereka hanya tahu bahwa satu soro adalah tahun baru Islam dalam masyarakat Jawa. Meski tahupun mereka berpandangan bahwa satu soro tidaklah spesial. Satu suro sama dengan hari-hari biasanya.
    Ketika pandangan ini sudah “mendarah daging” di kalang pemuda Indonesia khususnya pemuda Jawa akan sangat mungkin anak cucu kita nantinya kehilangan identitas keindonesiaannya. Seperti apa yang dikatakan oleh K.H Abdurrahman Wahid yang biasa disapa “Gus Dur” bahwa Nilai yang paling Indonesia adalah pencarian tak berkesudahan akan perubahan sosial tanpa memutus sama sekali ikatan dengan masa lalu. Dalam aspek keagamaaan, saat ini banyak terlihat dari kalang pemuda yang telah menjadi “Islam Kagetan”. Tanpa tahu sejarah Indonesia khususnya Islam di Indonesia, tanpa sengan-sengan mereka mengatakan halal dan haram, kafir dan menyesatkan. Ketika kita mengatakan permasalahan ini adalah hal yang wajar tanpa ada pembenahan dalam aspek pendidikan, sosial dan budaya maka akan sangat memungkin konflik atas nama agama akan sering terjadi di Indonesia.

    Malang, 15/10/15
    Moh. Fauzan
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Tradisi Suran (Suroan) | Antara Agama dan Tradisi Rating: 5 Reviewed By: GUSDURian Malang
    Scroll to Top