728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Selasa, 24 November 2015

    Agama Sebagai Kritik Kebudayaan

    SAAT ini, renungan tema kebudayaan tidaklah bertujuan untuk dirinya sendiri, melainkan hanya sebuah alat atau sarana. Artinya, merenungkan sebuah tema besar kebudayaan bukan merupakan suatu usaha teoritis an sich, melainkan sudah memasuki usaha penyediaan sarana-sarana yang dapat membantu kita dalam memaparkan suatu strategi kebudayaan di masa depan.

    Pergeseran paradigma ini, bisa dijelaskan melalui dua penjelasan penting, yakni:

    Pertama, dahulu orang berpendapat-juga masih banyak sampai masa kin bahwa, kebudayaan meliputi segala manifestasi kehidupan, seperti agama, kesenian, filsafat, ilmu pengetahuan, dan sebagainya. Nah, dewasa ini, kebudayaan sudah menjadi manifestasi kehidupan setiap individu. Maka, kebudayaan pun meliputi segala perbuatan nmanusia, seperti bagaimana cara manusia menghayati kehidupan sekaligus misteri kematian, membuat upacara-upacara ritual dalam menyambut sebuah peristiwa tertentu sebagai rite of passage, sperti kelahiran, perkawinan dan hubungan kekerabatan, seksualitas, sampai ke cara-cara manusia mengolah bahan makanan, cara membuat alat, dan cara berpakaian. Semua itu bisa dikategorikan sebagai kebudayaan.

    Kedua, kebudayaan masa kini lebih dipandang sebagai sesuatu yang dinamis, bukan sesuatu yang statis. Dalam ungkapan lain, kebudayaan dimasa lalu, lebih dipahami sebagai sebuah “kata benda”, tetapi sekarang ini sudah diartikan sebagai “kata kerja”. Artinya kebudayaan bukan sebuah koleksi barang-barang (benda), tetapi sudah dihubungkan dengan aktifitas manusia dalam membuat alat-alat, tarian-tarian, hingga mantera-mantera yang menentramkan. Dalam arti ini, maka tradisi juga merupakan bagia dari kebudayaan. Tetapi, bukan sesuatu yang tidak dapat diubah, justru tradisi bisa dipadukan dengan aneka ragam aktifitas (perbuatan) manusia secara keseluruhan, sebagaimana pernah diulas secara baik oleh C.A Van Peursen dalam bukunya, Strategi Kebudayaan, 1993.

    Jadi, konsep kebudayaan telah diperluas dan didinamisir, sekaligus juga direnungkan sebagai gejala kebudayaan dalam penyusunnan policy kebudayaan yang lebih baik. Maka, ciri khas pandangan manusia tentang kebudayaan pada masa sekarang-sebagaimana disinyalir Immanuel Kant terdapat dalam kemampuan untuk mengajar dirinya sendiri. Kebudayaan merupakan (semacam) sekolah, dimana manusia dapat belajar. Dalam konsep kebudayaan semacam ini, manusia tidak lagi bertanya tentang bagaimana sifat-sifat sesuatu, melainkan bagaimana sesuatu itu seharusnya bersifat. Dengan demikian, timbullah pengertian mengenai rencana (sebagai suatu strategi) yang dibuat oleh manusia untuk diarahkan ke masa depan. maka, suatu renungan tentang kebudayaan berarti suatu strategi untuktidak merindukan kembali secara romantis suatu pola kebudayaan yang silam. Juga sebaliknya, memandang masa depan dengan suatu “utopia”. Perenungan tentang kebudayaan berarti keberanian manusia untuk menghadapi tantangan-tantangan yang ada dan menghadang.

    Untuk itu, yang dibutuhkan manusia sekarang ini dalam menggeluti kebudayaan adalah gambaran yang jelas atau “peta-peta”, paling tidak sebagai “tipe ideal” dalam istilah Max Weber. Nah, peta yang kita butuhkan adalah sebuah peta yang menggambarkan mengenai kebudayaannya sendiri (yang lokal), dihadapan kebudayaan manusia secara keseluruhan yang bersifat universal.

    * Mengambil langsung dan ditulas ulang dari Buku Asli: Islam Pluralis Karya Budhy Munawar-Rachman, Wacana Kesetaraan Kaum Beriman, hal 356-357, Paramadina 2001. 



    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Agama Sebagai Kritik Kebudayaan Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top