728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Rabu, 18 November 2015

    Apresiasi Film ‘Cahaya dari Timur: Beta Maluku’


     Daniel Sihombing[1]

    Pada tahun 90-an, seorang teolog tersohor dari gereja Katolik Roma, Hans Küng, mewariskan kutipan legendaris yang gemanya mungkin masih sering terdengar di telinga kita.
    There will be no peace among the nations without peace among the religions. There will be no peace among the religions without dialogue among the religions. There will be no dialogue among the religions without investigation of the foundations of the religions.[2] (Tidak akan ada perdamaian di antara bangsa-bangsa tanpa perdamaian di antara agama-agama. Tidak akan ada perdamaian di antara agama-agama tanpa dialog antar agama-agama. Tidak akan ada dialog antar agama-agama tanpa investigasi terhadap fondasi dari agama-agama).
    Bagi saya, klaim yang dibuat oleh Küng ini seperti ditantang oleh kisah Sani Tawainella yang digambarkan melalui film ‘Cahaya dari Timur: Beta Maluku’. Sani bukanlah seorang teolog beken seperti Küng. Saya ragu ia pernah melakukan investigasi serius atas fondasi-fondasi kepercayaannya. Ia pelatih sepakbola, bukan aktivis dialog antar agama. Tapi jika apa yang digambarkan dalam film ini benar, maka kontribusinya untuk perdamaian di Maluku pasca konflik yang melibatkan agama patut diperhitungkan.

    Dalam skema yang diidealkan Küng, Sani seolah mengambil jalan dari pinggir. Bukan lewat agama, tapi olahraga. Ia rindu supaya anak-anak yang dilatihnya bisa punya kenangan yang baik, bukan pahit, di tengah banyaknya tragedi kemanusiaan yang terjadi di sekitar mereka. Ia mencegah mereka untuk terlibat dalam aksi-aksi kekerasan yang dilakukan orang-orang di daerahnya. Ia mengajak mereka untuk melihat bahwa yang jadi korban dalam konflik yang terjadi di Maluku bukan hanya Tulehu atau Passo, tapi semua, dan dengan demikian mengikis stigma-stigma yang telah melekat di lubuk hati anak-anak didiknya. Lewat partisipasi di kejuaraan nasional yang akhirnya dimenangi timnya, Sani malah berhasil memberikan cita-cita bersama yang mempersatukan bagi penduduk Maluku. Apa yang dilakukan Sani ini seperti menjadi kabar baik bagi semua orang. Siapapun sebenarnya bisa menjadi agen-agen perdamaian melalui hobi dan bakatnya masing-masing. Seperti yang kita saksikan di film, bukan hanya Sani yang jadi pahlawan perdamaian di sini, tapi juga pemimpin-pemimpin agama yang mengijinkan umat lain bergabung di gedung ibadahnya untuk mengikuti laporan pertandingan, atau mereka yang rela kehilangan pulsa demi memberi reportase langsung dari Jakarta.

    Sepakbola itu untuk semua agama dan warna kulit, kata Didier Deschamps, pelatih tim nasional Perancis, jelang pertandingan persahabatan antara timnya dengan tim Inggris tadi malam, tak sampai seminggu pasca tragedi Paris.[3] Dalam komik Gus Dur terbitan Kanisius,[4] saya menemukan catatan bahwa Gus Dur kecil gemar bermain sepakbola. Kerekanannya di lapangan mengatasi sekat-sekat rasial, kesukuan, dan agama. Salah satu temannya di lapangan waktu kecil yang mempertahankan persahabatan beda agama (dan kesukuan) hingga tua adalah Marsillam Simandjuntak, seorang Protestan. Setiap kali mengenang kisah ini, ingatan saya langsung tertuju pada kegiatan futsal bersama yang dilakukan Gusdurian Malang dengan Komisi Pemuda GKI Tumapel, tempat saya bergereja, beberapa bulan yang lalu. Sayang sekali jika sepakbola atau olahraga atau kegiatan lainnya, yang punya potensi untuk mempererat tali persaudaraan justru seringkali memicu perkelahian, permusuhan, atau kerusuhan. Semoga kisah Sani Tawainella ini menginspirasi kita untuk menjadi agen-agen perdamaian lewat olahraga, seni, atau hobi dan bakat kita lainnya. Keterbatasan dan kelemahan dari sang tokoh yang ditunjukkan dalam film ini kiranya justru menyadarkan kita semua bahwa kita juga bisa melakukannya.



    [1] Mahasiswa PhD bidang teologi Protestan di Protestant Theological University, Netherlands. Ngeblog di http://suaragurun.wordpress.com.
    [2] Hans Küng, Islam, Past Present & Future (Oxford: Oneworld Publications, 2007), xxiii.
    [3] Amy Lawrence, “Didier Deschamps: Sport Knows No Colour, No Religion, All are Welcome,” http://www.theguardian.com/football/2015/nov/16/france-didier-deschamps-paris-attacks-england-wembley
    [4] Iip D. Yahya, Gus Dur: Berbeda itu Asyik (Yogyakarta: Kanisius, 2004).

    * Tulisan ini sebagai Nutrisi Pengantar Diskusi Bedah Film Hari Toleransi, tanggal 18 November 2015 di Kedai Komika oleh Gusdurian Malang
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Apresiasi Film ‘Cahaya dari Timur: Beta Maluku’ Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top