728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Senin, 09 November 2015

    Belajar Bela Negara di Lumajang

    Oleh: Saiful Haq

    Siang itu (6/10) sebuah mobil hitam melaju, seusai sholat Jum’at. Di dalam ada beberapa kawan-kawan Gusdurian Malang, dosen Psikologi UIN Maliki Malang, dan seorang perempuan relawan dari KONTRAS. melakukan perjalanan menuju Lumajang. Kurang lebih tiga jam kami lewati “jalan pintas” malang selatan yang begitu terjal berliku, membuat perut kami bergejolak
    .
    Tujuan perjalanan kami hari itu adalah menyerahkan amanat donasi dari berbagai individu dan komunitas yang disalurkan melalui pintu rekening Gusdurian Malang. Penjaringan bantuan dana melalui hastag #SaveLumajang dengan jumlah nominal Rp. 9.830.000,- sekaligus menghadiri 40 hari wafatnya sang pejuang anti tambang pasir di Selok Awar-Awar Lumajang, Salim Kancil.

    Salim Kancil, salah satu aktifis tani lokal yang lantang menolak legalisasi penambangan pasir yang telah terjadi 2 tahun belakangan ini. karena genggaman suara lantang nya, hingga berujung penyiksaan dan, ia meninggal dengan kondisi mengenaskan.

    Ketika senja, kami tiba di Selok Awar-Awar Lumajang. Terlihat kantor kepala desa dipenuhi pasukan “seragam cokelat” bersenjata lengkap. Di tempat itulah Salim Kancil menghembuskan nafas terakhir. Tidak jauh dari sana, rumah Tosan kawan seperjuangan Salim Kancil yang selamat, terlihat beberapa polisi dan warga juga masih tampak berjaga-jaga.

    Selepas dari acara 40 hari wafatnya Salim Kancil di pantai watu pecak kami bersama para kawan-kawan aktifis dari lumajang, Surabaya dan lain lain, yang mengawal kasus tragedi Tambang Pasir ini, menuju rumah Pak Tosan. "Selamat datang di rumah kecil kami, monggo pinarak", ucap Pak Tosan beserta Istri dengan senyum ramah.

    Kisah perjuangan Pak Tosan dan kolega melawan penambangan pasir ilegal yang turut melibatkan pejabat setempat. Menurut Tosan, perjuangan penolakan penambangan tidak akan berhenti selama 3 bulan ini. beliau berenam sempat melakukan unjuk rasa dengan menghalangi mobil-mobil tambang yang hilir mudik di depan rumahnya. Berbekal kertas manila, yang ditulisi tolak penambangan pasir, Pak Tosan menghentikan truk-truk yang hendak menuju pantai Watu Pecak, letak pasir besi yang dijadikan obyek penambangan.

    "Saya datangi polisi yang ada di situ (lokasi berhentinya truk-truk). Saya marahi mereka, dengan kata-kata,  kalian ini kok hanya senyum-senyum. Di depan mata anda ada perampok yang mengambil harta negara," begitu Pak Tosan bercerita dengan aksen Madura yang kental kepada kami.

    Hingga perlawanan mereka mendapatkan respon negatif dari pihak-pihak yang terusik dengan aksi mereka. Ancaman yang berujung tewasnya secara tragis si Salim Kancil dan penganiyaan atau lebih tepatnya percobaan pembunuhan terhadap Pak Tosan.

    Apa yang terjadi kemaren itu, tidak membuat semangat Pak Tosan dan kawan-kawan ciut. Bahkan secara pribadi, Tosan akan maju walau sendiri menghadapi penambangan pasir tersebut. "Walau saya bodoh dik, saya juga warga negara Indonesia. Saya berhak membela negara," ujarnya kepada kami yang menyimak dengan tenang. "Saya katakan kepada teman-teman, kalau kalian ragu tidak usah ikut-ikut, kalau kalian mundur di tengah jalan, malah akan mempengaruhi yang lainnya," ujar Tosan dengan penuh semangat.

    Obrolan kami terus bergulir hangat. Disela-sela itu, kami berfoto bersama sebagai bukti penyerahan sumbangan Gerakan #SaveLumajang dari para donatur yang dikumpulkan lewat Komunitas Kultural Gusdurian Malang. Sebelum malam semakin larut, pukul 20:25 Wib kami berpamitan pulang ke Malang, membawa setetes oleh-oleh semangat dari cerita perjuangan, aksi perlawanan dari penamabngan pasir ilegal.

    ~**~
    Sepulang dari Selok Awar-Awar, saya merinding ketika mengingat kembali ucapan Pak Tosan mengenai apa yang beliau dan kawan-kawan di Lumajang lakukan. Semoga itu semua bagian dari sumbangsih serta pengabdian nya untuk “Negeri Amburadul” Indonesia tercinta ini.

    Almarhum Salim Kancil, Tosan dan para aktivis penolak tambang adalah bukti bahwa perjuangan bela negara sebenarnya ada di sekitar kita. Inilah bukti dari upaya bela negara.

    Kesadaran perubahan melalui kelas-kelas “lemah” adalah langkah yang kongkrit-positif, mengingat seringkali dengan menunggu kesadaran dari kelas-kelas yang memiliki kekuasaan menjadi tidak tampak berarti. Kelas-kelas lemah inilah yang terkadang berhasil mengetuk nurani kita yang tertidur. Ucapan mereka masuk ke hati, "Aparatur negara yang sejati adalah rakyat, mereka yang berseragam di kantor dan perlemen hanya pelayan administrasi".

    Semangat perjuangan Alm. Salim Kancil, Pak Tosan bersama para aktivis penolak tambang Selok Awar-Awar lainnya, telah membuktikan peran rakyat sebagai kekuatan yang lebih progresif dalam upaya menjaga serta mempertahankan kekayaan alam Negara. Upaya penyelamatan dari praktik tambang liar ulah sang “bromocorah-bromocorah” yang akan merusak alam, merugikan masyarakat dan mengkikis kearifan lokal (tradisi).  Kalau begini, mending belajar bela Negara di Lumajang saja. 
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Belajar Bela Negara di Lumajang Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top