728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Kamis, 19 November 2015

    Cahaya Toleransi Dari Indonesia Timur

    Rabu Malam, 18 November 2015 terasa menjadi momentum yang “istimewa” bagi kawan-kawan Gusdurian serta para pegiat toleransi dan perdamaian di kota malang untuk menyatukan semangat dalam basis nilai “Kesetaraan dalam Perbedaan”.

    Dalam peringatan Hari Toleransi Internasional, di format dengan cangkruan nonton bareng dan diskusi film berjudul Cahaya Dari Timur: Beta Maluku. Salah satu buah karya film anak negeri yang menginspirasi dan patut di apresiasi.

    Sebagai film dengan pesan toleransi dan perdamaian yang tumbuh dari semangat kaum muda. Berlatar belakang kerusuhan Ambon diawal tahun 2000, film ini menjadi salah satu film based on true story. Dimana masyarakat Maluku kala itu mengalami krisis sosial ekonomi dan terjangkit virus intoleransi akut. Intoleransi tersebar secara sistemik dari kota ke desa. Isu sensitif yang menjangkiti masyarakat antara lain adalah antar agama, kelompok dan daerah. Kerusuhan terjadi di setiap sudut wilayah. Anak – anak, pemuda dan seluruh kalangan masyarakat menjadi korban.

    Terlihat, dalam film ini seorang mantan pemain sepak bola bernama Sani Tawainella memiliki ide untuk melatih anak-anak bermain bola. Tujuan utamanya adalah menjauhkan anak-anak dari tawuran dan menumbuhkan semangat baru melalui kompetisi yang sehat. Spirit toleransi dikreasikan melalui sportivitas permainan sepak bola. Ditengah Tantangan dan konflik yang terjadi seiring dengan merebaknya sikap intoleransi dalam masyarakat. Namun kaum muda dan mereka yang mencintai perdamaian terus berusaha untuk meredam perpecahan dengan ketulusan, kesabaran dan kesadaran atas esensi kemanusiaan dan Ke-Indonesia-an.

    Dalam sesi diskusi selepas nonton film yang di adakan di kedai komika kota malang ini, Daniel Sihombing selaku Nara Sumber mencoba menggugah spirit toleransi “lintas perbedaan” dengan salah satu kutipan dari Seorang Teolog asal Swiss, Hans Kung:
    Tidak akan ada perdamaian diantara bangsa-bangsa tanpa keadilan diantara agama-agama. Tidak akan ada perdamaian diantara agama-agama tanpa dialog antar agama-agama. Tidak akan ada dialog antar agama-agama tanpa investigasi terhadap fondasi dari agama-agama”.
    Jika dikorelasikan dengan pesan sekilas dalam film Cahaya Dari Timur ini, bagaimana toleransi sejatinya harus dimulai dari hal paling sederhana, yakni kemampuan setiap manusia untuk melakakukan investigasi atau koreksi diri. Sebelum terlampau jauh menilai perilaku intoleran yang dilakukan pribadi atau kelompok lain, atas nama agama-agama sekalipun.

    Apresiasi terhadap karya film Cahaya Dari Timur ini banyak dilontarkan para peserta dalam diskusi-dialog.

    Dan, tidak lupa sebuah pelajaran penting yang bisa di ambil dari Sang Mendiang Gus Dur dalam pandangannya mengenai sepak bola. Gus Dur telah membuat banyak tulisan kolom mengenai sepak bola  sejak tahun 1982 dan dirangkum dalam satu buku berjudul Gus Dur dan Sepak Bola (2014, ed. Mustiko Dwipoyono,dkk.). Melalui lapangan hijau beliau mendapat refleksi penting bahwa pencapaian demokrasi bangsa dapat diibaratkan bak adu penalti bola. Selain itu, sesuai dengan tema film dan pokok diskusi diatas, bahwa sikap “sportif” sejatinya akan mampu membuat manusia untuk merefleksikan diri dalam nilai Kemanusiaan, Kesetaraan dan KeIndonesiaan hingga terwujud pancaran cahaya toleransi yang nyata, meski berbeda. (j.dikasp)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Cahaya Toleransi Dari Indonesia Timur Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top