728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Minggu, 15 November 2015

    God’s Not Dead

    God’s Not Dead. Pesan ini masuk via bbm di HP saya sekitar setahun yang lalu. Dua minggu lalu saya baru menyadari latar belakangnya. Rupanya ini adalah aksi yang didorong oleh film Kristen populer God’s Not Dead. Allah tidak mati, kirimkanlah pesan sebanyak-banyaknya untuk anggota keluarga dan teman-teman yang kamu kenal: God’s Not Dead.

    Mungkin para pembaca sudah menyaksikan film ini. Mungkin banyak di antara anda menyukainya. Mungkin tidak sedikit juga yang menindaklanjuti dengan melakukan broadcast ke banyak kenalan dan handai taulan. Tapi barangkali ada sebagian pula yang merasakan kejanggalan yang menggusarkan, sebab kadar realisme dalam kisah ini amat meragukan.

    Seandainya kelas Profesor Radisson benar-benar ada dan mahasiswa-mahasiswa Kristen seperti Josh Wheaton ‘dipaksa’ mengikuti keyakinan sang pengampu, yaitu ateisme, maka bukan hanya menerima tantangan debat, Josh pun seharusnya bisa melapor pada petinggi-petinggi institusi. Dan seandainya keadaan masih belum berubah, tentu banyak surat kabar dan majalah bakal siap sedia memuat berita skandal seperti ini. Saya juga cukup yakin kalau upaya-upaya penyeragaman pikiran atau keyakinan berbekal otoritas lebih mungkin terjadi justru di institusi-institusi berbasis agama, dan kurang yakin bahwa ada profesor filsafat yang demikian bangga dengan argumentasi berbasis otoritas, kelimpungan mendengar argumentasi moral, serta secara gampangan menjadi ateis hanya karena kepahitan. Tokoh-tokoh yang merepresentasikan keyakinan ateistik juga digambarkan selalu bermasalah, kosong, egois, kontras dengan mereka yang beragama. Tentu saja ini adalah karikatur yang amat tidak fair.

    Bagi kita yang menonton di Indonesia, jangan lupakan pula posisi ateisme di negara ini. Bukan hanya tidak diberi ruang berekspresi selama puluhan tahun, paham ini juga telah diberi cap yang teramat negatif. Menambahkan stigma ini dengan karikatur ala God’s Not Dead bisa jadi malah membantu melestarikan kebohongan yang sudah waktunya ditinggalkan.

    Tentu saja semua orang, seperti halnya Josh Wheaton, berhak membela keyakinan yang dipegang. Alkitab sendiri mengatakan:

    Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu. (1Pet. 3:15-16)

    Berdasarkan ayat-ayat di atas, kita bisa memetik pesan bahwa tugas apologetika (pembelaan iman) malah disebutkan sebagai salah satu tanggung jawab semua orang percaya. Tapi jangan lupa, rasul Paulus juga pernah menasehatkan:

    Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Rom. 12:2)

    Kata μεταμορφοῦσθε lebih tepat diterjemahkan ‘berubahlah terus,’ sehingga klausa kedua dalam kalimat tersebut menjadi ‘tetapi berubahlah terus oleh pembaharuan budimu (νοός=pikiran).’ Dengan kata lain, selain apologetika, tugas pembaharuan pikiran (alias teologi) juga adalah bagian esensial dalam kehidupan beriman.

    Sibuk dengan tugas pembaharuan tanpa mempersiapkan diri berapologetika akan membuat kita tidak siap jika sewaktu-waktu dituntut memberikan pertanggungan jawab atas apa yang kita percaya. Tetapi sebaliknya, hanya berkonsentrasi pada tugas apologetika sambil mengabaikan tugas pembaharuan (pemahaman) iman hanya akan melahirkan sikap reaktif yang tak diiringi introspeksi diri dan tradisi.

    Di sinilah kita bisa melihat bahwa ateisme dan kekristenan sesungguhnya dapat berjumpa tanpa harus berburuk sangka. Tanpa introspeksi, tak’kan ada reformasi. Dan jika yang diperiksa kembali adalah teologi, siapa partner diskusi yang lebih baik selain dari mereka yang tak sanggup lagi menganut konsepsi yang kita yakini?

    Penulis: Daniel Sihombing
    * Diambil langsung dari sumber: https://suaragurun.wordpress.com/2015/04/26/gods-not-dead/ atas izin penulis
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: God’s Not Dead Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top