728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Kamis, 05 November 2015

    Gus Dur dan Pelajaran untuk Pemuda Hari Ini

    Oleh: Ahsani Fatchur Rahman

    Gus Dur dimasa mudanya jauh dengan kata-kata kemewahan, bersenang-senang, atau bahkan suka cita. Meskipun Ayah beliau (K.H. Wahid Hasyim) adalah sosok yang berkecukupan dan Gus Dur kecil tidak mengambil kemapanan sebagai tujuan hidup, namun belajar di Pesantren dan belajar dari membaca apapun di setiap rak buku milik Ayahnya.

    Terpaan demi terpaan dialami dimasa muda beliau, ada hal-hal penting untuk kita pelajari untuk pemuda hari ini. Antara lain adalah berani mengambil keputusan untuk kemudian hari. Masa kecil Gus Dur pernah patah tulang dua kali, dan hampir saja diamputasi namun gagal.

    Tidak hanya mengagumi Gus Dur, tapi menyontoh perjuangannya itulah yang berat bagi kita hari ini. Sosok pemberani seperti Gus Dur memang jarang kita temukan dinegara ini. Seperti keberaniannya untuk tampil beda, menyuarakan aspirasi minoritas, membela yang tersingkirkan, melawan pihak yang tidak ada yang berani melawan, moderat, mengambil resiko dihina, dan selalu tampil sederhana.

    Dahulu, ketika beliau mengajar di Pesantren Tambakberas Jombang sempat kesulitan dalam masalah pencaharian dan beliau pun bekerja untuk mendapatkan tambahan dengan menjual kacang dan es lilin yang dititipkan ke warung-warung sekitar sebelum berangkat mengajar sekolah. Padahal saat itu sosok putra Kyai besar sangat jarang yang mau hidup sengsara dengan pekerjaan sederhana. Lagi-lagi, Gus Dur itu tidak gengsi dan malu sebagai putra pengasuh atau memanfaatkan posisinya. Pelajarannya adalah kita ini bukan siapa-siapa namun terkadang masih gengsi untuk bekerja.

    Masalah keilmuan yang di peroleh beliau tidak tanggung-tanggung, sejak SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama), Gus Dur sudah menguasai Bahasa Inggris. Dalam waktu dua tahun, saat masih duduk di bangku SMEP, beliau sudah melahap beberapa buku bahasa inggris, diantaranya; Das Kapital karya Karl Marx, buku Filsafat Plato, Thalles, Novel Karya William Bochner. Dan buku sastra seperti; Ernest Hemingway, Jhon Steinbeck, dan William Faulker hatam di usia SMEP. Belum lagi seperti kitab-kitab aksara Arab yang langsung diajarkan oleh Kyai dan Ulama masyhur kala itu; mulai kitab Aqidatul Awwam, Sirojud Tholibin, Fathul Qorib, Imriti, bahkan Alfiyah Ibnu Malik dan Al Hikam juga beliau pelajari pada usia dini.

    Namun, sehebat itu Gus Dur dalam perjalanan keilmuannya, justru dari sekian Universitas tidak bisa meluluskan beliau, bukan karena beliau bodoh atau tidak mampu mengikuti, tetapi beliau lebih memilih ilmu itu sendiri dari pada gelar sarjana atau selembar kertas sakti. Lebih tepatnya mengutamakan esensi dari pada lainnya.

    Lagi-lagi inilah contoh bagi kita semua, bahwa pemuda harapan bangsa adalah pemuda yang mau merasakan pahitnya perjuangan. Pemuda yang mau belajar keras, pemuda yang tangguh, pemuda yang kuat, pemuda yang mengerti apa yang seharusnya mereka kerjakan.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Gus Dur dan Pelajaran untuk Pemuda Hari Ini Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top