728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Selasa, 13 Oktober 2015

    Kelas Pemikiran Gus Dur - Malang (Refleksi Fasilitator)


    Value-based Organisation
    Informasi lengkap mengenai Kelas Pemikiran Gus Dur (KPG) dan jaringan komunitas-komunitas berbasis nilai-nilai yang diperjuangkan lewat karya kehidupan Abdurachman Wahid (Gus Dur) dapat dilihat di http://gusdurian.net/. Di Malang - Jawa Timur, salah satu komunitas berbasis nilai Gusdurian adalah http://gusdurianmalang.net/.
    Sebagai catatan perlu digarisbawahi bahwa nilai-nilai yang dimaksud adalah: 1/Ketauhidan. 2/Kemanusiaan. 3/Keadilan, 4/Kesetaraan, 5/Pembebasan, 6/Persaudaraan,  7/Kesederhanaan, 8/Sikap Ksatria, dan 9/Kearifan Tradisi.
    Saya sendiri merasa sangat bersyukur dan bangga menjadi bagian dari persaudaraan Gusdurian yang didasari oleh nilai-nilai utama yang dihayati dan dikerjakan dalam laku hidup melampaui batasan-batasan identitas agama, ideologi, suku, ras, dan apalagi golongan.
    Persaudaraan ini merupakan perjumpaan nilai-nilai paling bermakna yang menghidupi tiap orang - yang pada gilirannya menemukan bentuk bersama dalam minat-minat yang khas dan terfokus pada kehidupan kemanusiaan yang terbuka bagi keberagaman, kemerdekaan berekspresi, dan ketulusan terus menginovasi praktek belas kasihan dan cinta kasih.
    Organisasi berbasis nilai-nilai mungkin tidak begitu populer di masyarakat Indonesia. Kebanyakan organisasi dan institusi yang ada di sekitar kita berbasis pada idiologi dan berorientasi pada hasil serta menekankan identitas sebagai pengikat.
    Sementara itu organisasi berbasis nilai adalah kumpulan pribadi yang memiliki interpretasi yang berbeda terhadap nilai-nilai keutamaan hidup, yang dalam usahanya menghidupi kepercayaan pada interpretasinya itu bertemu dengan yang lain untuk membuka wawasan pikir, pengalaman, dan ketrampilan hidup, dan lantas menjadikannya sebagai landasan untuk menyadari bangunan persaudaraan yang tidak hanya terhubung secara fisik, namun juga pikiran, dan juga hati.
    Kesadaran pada nilai-nilai itulah basisnya, pondasinya, yang dijadikan titik pijak dan arus utama untuk kemudian membuka diri keluar menjumpai dunia penuh dengan apresiasi, penghormatan, serta kesukacitaan sebagai cara yang dipilih untuk mewartakan perubahan sosial.
    Dalam semangat gerak dalam organisasi berbasis nilai seperti ini setiap individu berharga dan memiliki peran penting bagi perubahan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Partisipasi sepenuhnya dari tiap orang dihormati sebagai bagian dinamis sejak dari diskusi ide, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi-refleksi seperti yang sedang saya tuliskan ini. Demikianlah KPG di Malang dilaksanakan dalam cara dan citarasa interpretasi baru terhadap apa yang biasa disebut sebagai gerakan perubahan sosial.
    Kelas Pemikiran = Ruang Berpikir Bersama
    Sekalipun tegas yang dijadikan thema adalah pemikiran-pemikiran Gus Dur (tertuang dalam sub-thema tentang Biografi dan Filosofi, KeIslaman, Demokrasi, Kebudayaan, Gerakan Sosial, dan Jaringan Gusdurian) namun dari sejak awal KPG ini dilakukan dengan keleluasaan tak terbatas bagi tiap peserta untuk berpikir sendiri, mengemukakan gagasan-gagasan terbaiknya, lantas berdialog dengan laku karya yang telah dihidupi oleh Gus Dur, untuk selanjutnya menggambarkan sendiri dengan kreatif nilai-nilai tersebut bagi transformasi diri dan lingkungan di sekitarnya.
    Narasumber dimaknai sebagai informan, sebagai agen, sebagai pemberi klarifikasi, dan bagian dari proses berpikir bersama dalam kelas. Dia berfungsi sebagai teman seperjalanan dalam pengembaraan rasa dan pikir bersama-sama seluruh peserta kelas berjumpa dengan pemikiran-pemikiran Gus Dur baik yang sudah teridentifikasi dalam otak masing-masing maupun yang kemudian diketemukan bersama.
    Keberhasilan kelas ditentukan oleh kepiawaian semuanya untuk terlibat aktif berpikir, bergumul. dan menginternalisasi karya kehidupan Gus Dur untuk dijadikan kesempatan indah mendewasakan diri, berpikir, bersikap, dan berkarya dalam bidang apapun di tengah-tengah masyarakat. 
    Kelas dijauhkan dari peluang indogtrinasi apalagi pemaksaan pemujaan terhadap tokoh. Dengan begitu peserta dapat dengan mudah melihat bahwa pribadi hidup Gus Dur berproses dalam konteks sosial politis yang konkret, sama persis bagaimana seharusnya tiap peserta membangun pola pikir dan hidupnya untuk selalu relevan dan kontekstual.
    Model kelas dengan cara memanusiakan semua orang yang berada dalam kelas seperti itu, meminjam istilah pendidikan orang dewasa, atau pendidikan yang membebaskan, mengutamakan partisipasi dengan prinsip melihat apa yang ada, apa yang bisa dilakukan, dan kemudian fokus pada perubahan apa yang paling mungkin terjadi.
    Ada permainan dengan menggambar, corat-coret, diskusi kelompok, presentasi terbuka dengan apresiasi bersama, renungan singkat untuk membuka hati pada kesadaran penghayatan dan cara pikir baru, konsultasi personal, dan segala bentuk aktifitas interaktif antar pribadi dijalani sepenuhnya dalam satu semangat mengembangkan diri dan berbagi.
    Memaknai Nilai-Nilai
    Nilai-nilai atau values atau principles adalah konsep pemaknaan keutamaan hidup yang paling mendasar dimiliki oleh tiap pribadi. Nilai-nilai mendasari pilihan etis, cara pandang dunia, dan bahkan cara pikir, bertindak, dan mengidealkan impian masa depan. Nilai-nilai membentuk kepribadian, bahkan menentukan cita rasa - gaya hidup seseorang dalam situasi hidup apapun yang dijalaninya. Begitulah pentingnya bagi tiap orang untuk menyadari nilai-nilai utama dirinya agar dapat berinteraksi dengan dunia secara dialogis dan transformatif.
    Sebelum menjadi idiologi yang sarat dengan muatan politisasi, Pancasila sesungguhnya memiliki dasar nilai-nilai yang merangkum kesejatian hidup berbangsa. Begitulah nilai-nilai utama Gusdurian selalu ditekankan untuk tidak dijadikan alat memasuki ranah politik praktis. Nilai-nilai utama Gus Dur, akan tetap menjadi nilai-nilai milik bersama, milik siapa saja anak bangsa Indonesia tanpa terkecuali, untuk dikhabarkan kepada dunia.
    Terlebih, nilai-nilai itu sudah sungguh sangat praktis dilekatkan pada pribadi anak bangsa ini menghadapi perubahan jaman. Segala usaha politisasi terhadapnya hanya akan melemahkan nilai-nilai itu sendiri, karena nilai-nilai melampaui segala kepentingan. Jangankan kepentingan politik dan ekonomi, kepentingan kelompok apapun dilampauinya.
    Berdasarkan pemahaman terhadap nilai-nilai utama seperti itulah perjumpaan, diskusi, gerakan bersama daripada tiap-tiap orang menjadi penanda eksistensi Gusdurian dimanapun, kapanpun, dan dalam situasi apapun. Demikianlah seluruh proses Kelas Pemikiran Gus Dur dilaksanakan dan akan terus dilaksanakan dimanapun dalam semangat, cita rasa, dan tujuan yang sama. Yaitu terciptanya dunia yang diliputi dengan perdamaian.
    Penutup
    Sebagai orang yang dipercaya menjadi fasilitator seluruh acara ini, saya menemukan banyak pelajaran berharga. Selain seperti yang sudah saya sebutkan di atas, beberapa kesadaran baru dalam diri saya terbangun.
    Pertama, sebuah proses belajar, apapun peran kita (fasilitator, MC, peserta, pendengar, moderator, guru, nara sumber, pencatat proses, panitia, apapun perannya) adalah ruang paling berharga dan penting yang dapat kita gunakan untuk memperoleh pengetahuan dan ilmu baru. Metode, proses, dan bentuk partisipasi yang dibangun bersama-sama dapat memaksimalkan dampak dan memberi ruang terbuka untuk direfleksikan lebih jauh, termasuk diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya.
    Kedua, Kelas Pemikiran Gus Dur menginspirasi tiap orang tidak hanya menghargai dan menghormati karya penting seseorang. Namun terlebih dari itu adalah gelombang baru menyuarakan agar bangsa ini terus berani memperkokoh pondasi nilai-nilai utamanya dan mengkontekstualisasikannya dalam dinamika perubahan jaman.
    Ketiga, sekalipun arus utama trend sosial terlalu banyak menawarkan pilihan cara hidup gampangan dengan mengidolakan media sebagai panutan, ternyata masih banyak, bahkan amat banyak jiwa-jiwa muda yang tetap berada dalam jalur perjuangan menyuarakan, menaburkan, dan melakukan apa yang selama ini makin dilupakan orang yaitu cinta kasih. 
    Tidak gampang memang, tetapi mungkin. Oleh karena itu, kesempatan-kesempatan baru bagi generasi muda untuk berada dalam proses pendewasaan diri bersama seperti KPG ini perlu terus ditawarkan. (Kristanto Budiprabowo)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Kelas Pemikiran Gus Dur - Malang (Refleksi Fasilitator) Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top