728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Kamis, 26 November 2015

    KEMI; Gerakan Islam Kanan Lewat Karya Sastra

    KEMI sebagai karya sastra

    Arus perjalanan sastra bangsa kita mengalami fluktuasi dan pergolakan yang panjang. Dimana, menurut Nugroho Notosusanto kesusastraan indonesia dibagi dalam empat periodik, diantaranya ; Kesusastraan Melayu Lama, Kesusastraan Indonesia Modern, Zaman Kebangkitan : Periode 1920, 1933, 1942, 1945 dan Zaman Perkembangan : Periode 1945, 1950 sampai sekarang ini.

    Dalam teori kritik sastra kita mengenal beragam corak kritik terhadap karya sastra, namun kali ini penulis ingin mengunakan dua pisau analisis, kritik mimetik dan kritik ekspresif. Pertama Kritik Mimetik, Kritik ini bertolak pada pandangan bahwa suatu karya sastra adalah gambaran atau rekaan dari dunia dan kehidupan manusia.

    Sangat jelas dalam Novel KEMI:Cinta Kebebasan Yang Tersesat  ini, bagaimana penulis Adian Husaini mengambarkan gagasan liberalisme sebagai suatu penyakit yang menjangkit pemikiran umat islam di Indonesia, khususnya anak-anak muda (santri) dalam lingkungan pesantren.

    Kedua Kritik Ekspresif, Kritik yang menekankan analisis pada kemampuan pengarang dalam mengekspresikan atau menuangkan idenya dalam wujud sastra. Dalam kacamata kedua ini penulis mengagumi bagaimana cara Adian Husaini menyalurkan gagasanya dalam melawan liberalisme melalui karya sastra. Meski cara penuturanya tidak sepiawai Pramoedya Ananta Toer namun Adian Husaini telah mampu melakukan transformasi gagasan lewat ide-ide yang dituangkan. Dan gaya eksperi Adian yang terlalu berlebihan menilai kaum liberal dengan logika pewarta, hingga memasukan segala informasi yang ia dapat tentang liberalisme di Indonesia, semuanya dengan apik digambarkan dalam novel KEMI.

    KEMI sebagai perlawanan kanan Islam

    Jika kita baca novel KEMI dalam perspektif ideologi. Tentunya kita akan terlihat bagaimana Adian Husaini memposisikan ideologinya. Terminologi Islam Kanan sangat akrab dengan gerakan islam yang menyerukan kembali pada Al-Qur’an dan Hadis. Adian Husaini seolah memperkuat fatwa MUI mengenai larangan liberalisme.

    Dengan begitu bringas penulis memojokan cendekiawan muslim yang menjunjung tinggi kebebasan, kemanusiaan dan persaudaraan lintas iman. Dan, dengan latar belakang ekonomi Adian Husaini mengambarkan sosok KEMI yang sedang terlena menjual keimananya demi kenyamanan materi berupa fasilitas, popularitas serta kesuksesan masa depan. KEMI sebagai karya sastra dengan muatan ideologis, alur ceritanya begitu representatif tentang ketegasan sikap dan ideologi Adian Husaini dalam melawan pemikiran liberal di Indonesia.

    Wa ba’du

    Spirit dalam novel KEMI karya Adian Husaini sangat apik untuk dikonsumsi pemeluk Islam Taat dengan semangat aqidah dan syari’ah yang hanif. Sebagai pembaca karya sastra dan pemikiran yang baik KEMI harus kita fahami secara positif sebagi kritik produktif atas pemikiran liberal, sebagaimana Imam Al-Ghozaly pernah mengkritik Filsafat Ibnu Rusyd lewat karya tahafut falasifah. Namun di sisi lain KEMI dapat menjadi pemicu paradigma pembacanya dalam menilai aktivis JIL maupun pegiat muslim progressif yang menempatkan agama sebagai transformasi sosial. Wa’allahu A’lam.



    Penulis: Abdur Rouf Hanif
    (Tulisan ini disampaikan sebagai pengantar kongkow rutin Gusdurian Malang, dalam tema bedah novel, KEMI:Cinta Kebebasan Yang Tersesat. 25 November 2015)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: KEMI; Gerakan Islam Kanan Lewat Karya Sastra Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top