728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Rabu, 28 Oktober 2015

    Kesetaraan, Persaudaraan Tionghoa Jawa



    Pengalaman ini menjadikan saya manusia yang tidak membeda-bedakan antar individu, khususnya tentang SARA. Kesetaraan antar individu merupakan hak yang sama agar persaudaraan dapat terjalin dengan baik. Kita tidak tahu ketika lahir dalam kondisi bagaimana, kita tidak dapat memilih dari latarbelakang mana yang kita mau. Siapa yang dapat disalahkan, siapa yang akan menanggung akibatnya yaitu diri kita sendiri. Pembentukan karakter hidup tergantung pada pengalaman yang dirasakan masing-masing individu dan tentu akan matang berbeda waktunya.

    Pengalaman waktu kecil kira-kira ketika dibangku SD saya sering bermain dengan teman-teman komplek. Saya memiliki tampilan yang tionghoa, karena keturunan dari orang tua saya. Teman-teman komplek dirumah tidak banyak seperti saya. Bahkan saya tionghoa sendiri dan ada yang memiliki tambilan bule. Saya tidak merasa ada yang berbeda diantara kami. Kami sering berkumpul di Balai RW hanya sekedar menghabiskan waktu bersama. Suatu ketika ada anak-anak dari komplek lain yang lewat dan beberapa anak berteriak CIMENG!! Saya dan teman-teman tidak merasa itu adalah sebuah teguran dan kami saling bertanya apa itu cimeng. Kemudian ada yang menambahi setelah teriakan cimeng, cina mengong, Saya cuek aja waktu itu dan tercengang.

    Sampai suatu ketika kata-kata cimeng mulai membuat resah, karena kata-kata tersebut diteriakan oleh orang yang saya lewati dengan jalan-jalan atau bersepeda di daerah komplek. Saya mulai berpikir untuk cara membalas dan saya membuat singkatan sendiri yaitu jomeng. Tiba saatnya ketika anak-anak dari komplek lain yang berteriak cimeng, lewat kembali dan berteriak kata-kata itu lagi kearah saya dan teman-teman komplek saya akhirnya saya membalas dengan berteriak jomeng, jowo mengong. Teman-teman saya ikut membalas dan kami saling mengolok-ngolok. Salah satu anak komplek lain tiba-tiba tambah lama lebih maju dan berusaha untuk memukul, tapi dihadang teman saya yang memiliki tampilan sama-sama jawa dengan melempar yoyo ke arah kepala anak tersebut. Saya dan teman-teman komplek mulai mendesak untuk mengusir mereka dan mereka semua pergi.

    Tiba-tiba setelah kejadian tersebut saya dan teman-teman komplek seperti diteror dan akhirnya hampir terkepung dan kami melarikan diri dari anak komplek lain yang jumlahny bertambah. Orang tua teman saya akhirnya membantu untuk membubarkan anak komplek yang mengejar. Setelah kejadian tersebut mereka dari komplek lain tidak mengganggu lagi. Saya sempat berfikir waktu itu kenapa ini tidak adil, etnis tionghoa dalam sejarah tidak pernah menjajah Indonesia tapi kenapa saya diejek seperti itu. Apa kesalahan yang pernah dibuat sehingga mereka mengejek khususnya kepada saya. Sampai sekarang tidak ada jawaban yang dapat menjawab pikiran saya.

    Pengalaman saya berlanjut dibangku sekolah. Saya tidak terlalu membeda-bedakan untuk memilih teman walaupun dapat dibilang teman sesama tionghoa lebih banyak. Selama berteman dengan etnis yang beda dengan saya tidak ada yang beda dengan mereka, kebaikan juga dibalas dengan kebaikan. Saya tetap berhubungan dengan teman komplek saya dan berkembang ke teman-teman mereka di sekolah negeri mereka. Sampai sekarang saya menamainya teman negeri bila ditanya teman-teman tionghoa ketika ditanya mau pergi dengan siapa. Kata-kata teman negeri yang saya buat tidak bermaksud mendiskriminasikan mereka. Kata-kata tersebut lebih mudah menjelaskan ke teman-teman tionghoa saya dan untuk menumbuhkan pikiran mereka agar tidak membeda-bedakan saat berteman. Kejadian yang agak miris juga terlihat beberapa teman-teman tionghoa saya juga ada yang tidak suka dengan yang tampilanya jawa. Itulah mengapa saya memakai kata-kata teman negeri ketika tidak bisa berkumpul dengan mereka.

    Saya agak kaget ketika dewasa ini pemikiran teman-teman tionghoa saya secara terang-terangan mengejek dengan kata-kata lain untuk sebutan jawa agar tidak ketahuan. Saya agak rishi dengan ejekan itu, dan saya tidak menutup-nutupi mempunyai teman-teman dari etnis lain bahkan saya membanggakan memiliki mereka. Saya menganggap tidak ada bedanya berteman dengan siapapun dan juga kita hidup saling berdampingan. Pasti akan ada yang saling membantu ketika menghadapi masalah. Waktu masa kuliahan saya sangat kagum masih ada orang yang membela walaupun beda etnis. Ketika saya berjalan kaki memasuki gerbang kampus bersama kedua teman saya yang etnis jawa ada yang meneriaki cimeng dengan naik motor. Saya dengar dengan jelas dan berpura-pura tidak mendengar, tanpa disangka-sangka teman saya membalikkan badan dan meneriaki orang tersebut. Pengalaman ini sangat menarik dan membuat saya tetap bingung karena kata-kata cimeng tidak hilang bahkan sampai saya sudah dibangku perkuliahan.

    Ketika mereka saling mengejek dan tidak suka satu sama lain, apa saya yang mengganggapnya itu sebagai serius. Ketika diseriusin pasti akan ada konflik yang malah tidak memberikan solusi. Akhirnya ketika saya renungi agar tidak terjadi konflik atau kesalahpahaman, saya menganggapnya itu sebagai bercanda walaupun memang itu sebuah hinaan. Begitu juga sebaliknya ketika teman jawa saya yang mendiskriminasikan saya, saya menganggap itu bercanda dan saya membalas dengan nada bercanda atau hanya cukup dibalas tertawa. Bagi saya ketika tidak ada yang dimulai ya tidak perlu diakhiri. Perlu saling menjaga komunikasi antar individu agar tidak ada konflik yang khususnya mengatas namakan SARA, karena kita adalah saudara.

    Saya menganggap ini adalah sebuah pilihan dalam hidup. Hidup menjadi sebuah pilihan. Akhirnya pilihan terbaik menurut kamu sendiri yang menjadi prinsip hidupmu. Tapi untuk mendukung kedamaian perlu kesadaran dari individu agar mau memilih hidup yang baik secara universal. Indonesia memiliki semboyan bhineka tunggal ika yang nyatanya rakyat Indonesia sebagian besar tidak saling bersatu dan ada pendiskriminasian. Dari pengalaman yang saya lalui masih ada dan penyimpangan SARA bahkan sampai sekarang Indonesia berumur 70. Kesadaran diri pertama-tama dari pilihan cara memandang SARA untuk dijalani sebagai hidup. Ketika kita tidak memandang SARA saat berteman lebih banyak manfaat yang didapat. Relasi akan semakin banyak dan akan berpengaruh yang baik pada kehidupan.


    Abraham William Widiamsa
    (Peserta Kelas Pemikiran Gus Dur Pertama Gusdurian Kota Malang 2015) 
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Kesetaraan, Persaudaraan Tionghoa Jawa Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top