728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Selasa, 10 November 2015

    Peace in Diversity

    Oleh: Billy Setiadi

    Konflik sosial yang terjadi  di Indonesia semakin lama semakin parah. Terlebih lagi konflik ini dilatarbelakangi  oleh perbedaan agama. Padahal di Indonesia sendiri kebebasan beragama sudah diatur dalam undang-undang dan telah mengakui 6 agama resmi  yaitu Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Tapi undang-undang tentang kebebasan beragama seakan-akan hanya menjadi pelengkap  dan bagai angin lalu. Adanya FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) dinilai  belum mampu membendung konflik-konflik antar umat beragama.

    Ini membuat ICRP (Indonesia Conference on Religion and Peace) tergerak untuk menyadarkan akan pentingnya toleransi dan kerukunan antar umat beragama khususnya di kalangan pemuda. Karena pemuda dinilai mampu menjawab tantangan zaman, serta pemuda diharapkan mampu  meneruskan cita-cita bangsa. Sehingga diharapkan untuk  kedepannya rasa persatuan bisa muncul di kalangan umat beragama.

    Lewat acara National Peace in Diversity ini yang diusung oleh ICRP dengan menggandeng PPHP (Pusat Pengembangan HAM dan Demokrasi) Universitas Brawijaya, The Asia Foundation, dan didukung oleh Embassy of Switzerland in Indonesia menjadi titik awal harapan akan rasa persatuan kalangan pemuda khususnya di kota Malang. Acara ini dihelat selama 4 hari pada tanggal 29 Oktober – 1 November 2015 dengan diikuti 50an peserta dari pemuda-pemudi berbagai agama.

    Adapun pesertanya antara lain, dari Islam berasal dari HMI (Himpunan Mahasiswa Indonesia), IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama), JAI (Jemaat Ahmadiyah Indonesia), IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), dll. Dari Katholik diwakili PMKRI (Pergerakan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia), Keuskupan, dll. Dari Kristen diwakili GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia), dan beberapa pemuda Gereja. Dari Hindu diwakili oleh KMHDI (Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia). Dari Budha diwakili HIKMAHBUDHI (Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia) dan Samanera Athasilani STAB Kertarajasa. Dari Konghucu diwakili PAKIN (Pemuda Agama Konghucu Indonesia). Hadir pula dari agama Bahai.
    .
    Acara dimulai dengan sambutan dari pihak ICRP dan PPHP Universitas Brawijaya. Setelah itu dilanjutkan dengan perkenalan yang dilakukan para peserta. Para peserta mulai saling bercengkrama dan saling berbincang ringan dengan satu sama lain. Pada jam-jam informal diluar agenda kegiatan juga para peserta saling bertukar pikiran dan membuat forum-forum kecil.Terlihat sederhana, tapi ada beberapa pengetahuan dan ilmu-ilmu baru yang bisa dipetik. Para peserta mulai mengeti tentang ajaran agama lain. Jika sudah mengerti, ini bisa jadi pondasi dalam toleransi.

    Kegiatan lainnya diisi seminar yang dibawakan oleh para fasilitator. Materi yang dibawakan oleh fasilitator bertujuan untuk melatih mental dan menyadarkan para peserta akan pentingnya toleransi dan persatuan guna meminimalisir konflik serta gesekan-gesekan yang terjadi antar umat beragama agar dapat menciptakan perdamaian yang utuh.

    Dalam kegiatan ini peserta juga diajak untuk berkunjung ke tempat-tempat ibadah. Pertama yang dikunjungi adalah Pura Luhur Giri Arjuno. Pura ini berada di atas bukit. Para peserta disuguhkan pemandangan yang indah dan udara yang sejuk. Para peserta disambut baik oleh umat dan tokoh agama Hindu disana. Ada kata-kata yang bisa diambil dari kata-kata Pedande “Tuhan itu yang menciptakan manusia, bukan Tuhan yang diciptakan manusia. Nurani dan moral tak mengenal agama. Jika agama menimbulkan kekerasan, lantas apa guna agama?”. Semua peserta tercengang atas kata-kata itu, ada yang sebagian menafsirkan kata-kata itu.

    Setelah itu perjalanan berlanjut ke Masjid An-nur atau biasa dikenal dengan Masjid Agung Batu. Di sana para peserta melakukan tanya jawab dengan Tahmir Masjid. Meskipun ada beberapa jawaban yang agak tidak memuaskan para peserta, tapi sambutan dari pihak Masjid sudah cukup baik. Makan siang pun dilakukan di dalam area Masjid. Para peserta melakukan makan siang sambil bercengkrama satu sama lain dan saling mengakrabkan diri. Tidak lupa sebagian dari peserta yang beragama Muslim menunaikan ibadah Sholat Dzuhur.

    Perjalanan berlanjut ke Gereja Kristen Jawa Wetan Batu. Konsep dalam GKJW cukup unik. Mengakulturasi budaya dan agama. Terdapat tulisan Jawi Kuno dan juga gamelan. Dalam waktu 3 minggu sekali pun khotbah dilakukan menggunakan bahasa Jawa Kromo Inggil. Setelah melakukan sesi tanya jawab yang cukup panjang akhirnya para peserta melanjutkan perjalan.

    Estimasi selanjutnya dilanjutkan ke Gereja Gembala Baik. Gereja ini merupakan Gereja Katholik. Di sana para peserta melakukan tanya jawab dengan Pastur. Sayangnya waktu di Gereja Gembala Baik terasa sangat singkat karena waktu sudah sore dan Gereja akan dipakai untuk misa.

    Perjalanan terakhir menuju Vihara Dhammadipa Arama. Di Vihara ini merupakan salah satu tempat pelatihan meditasi. Pelatihan meditasi tidak hanya diperuntukan untuk umat Budha saja, tapi berlaku umum untuk orang yang ingin berlatih meditasi. Di sini terdapat pula bangunan Patirupaka Shwedagon Pagoda, yang merupakan replika Pagoda Shwedagon di Myanmar sehingga membuat para peserta bergantian untuk berfoto ria. Di Vihara juga para peserta dijelaskan mengenai konsep dan inti ajaran Budha oleh seorang Bhiksu atau Bhikku atau lebih sering disebut Bhante yang berarti guru. Setelah itu peserta diajak untuk mengelilingi area Vihara ini yang cukup luas, termasuk mengelilingi Museum yang berada di areal Vihara. Museum ini dapat dikunjungi secara umum tanpa dipungut biaya.

    Setelah mengunjungi tempat-tempat ibadah peserta kembali menuju Roemah YWI yang menjadi tempat menginap para peserta. Banyak dari peserta sangat terlihat lelah, tapi rasa lelah mereka terbayar karena mendapatkan pengalaman baru dengan mengunjungi tempat-tempat ibadah dan sharing dengan tokoh-tokoh agama. Para peserta mendapatkan instruksi untuk menceritakan pengalaman mengunjungi tempat-tempat ibadah dan pesan kesan yang dirasakan.

    Hari terakhir para peserta dan panitia meninjau kembali apa yang kurang dari acara ini dan apa yang harus dipertahankan serta tindak lanjut dari acara ini. Terjadi jajak pendapat antara para peserta. Setelah dilakukan rapat dalam forum akhirnya diputuskan untuk melakukan diskusi lintas agama rutin setiap sebulan sekali yang diikuti oleh seluruh peserta Peace in Diversity. Harapannya agar bisa saling mengakrabkan ikatan persaudaraan, juga bisa menjadi sarana bertukar pikiran, dan ikut berperan aktif dalam menjaga perdamaian dan kerukunan umat beragama khususnya di Indonesia tercinta ini.


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Peace in Diversity Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top