728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Minggu, 06 Desember 2015

    Quo Vadis Jaringan Gusdurian Indonesia

    Pada perhelatan Regional Meeting Jaringan Gusdurian Jawa Timur, yang diselenggarakan di Pendopo Majelis Agung GKJW Sukun Kota Malang, pada tanggal 4 sampai 5 Desember 2015. Di buka dengan Diskusi Publik; “Quo vadis gusdurian ditengah maraknya aksi kekerasan dan tindakan intolerensi”. Agenda terbuka ini dihadiri oleh masyarakat umum kota malang, dan 30 lebih penggerak dari 15 komunitas Gusdurian se-Jawa Timur.

    Dalam forum diskusi publik, Aan Anshori yang juga selaku Kordinator Jaringan Islam Anti Deskiriminasi (JIAD) Jatim, mengungkapkan bahwa, Internal dalam tubuh islam sendiri masih banyak kekerasan atas nama agama. Tugas kita hari ini mengadvokasi rumah ibadah yang dirusak akibat konflik agama. Hal tersebut adalah representatif keberlangsungan agama dalam konteks keindonesiaan. Semua perlu untuk merefleksikan kembali tentang fundamentalisme agama. Cara kita masih banyak kencederungan dengan menyanjung diri sendiri dengan menyalahkan ajaran orang lain.

    “Yang perlu kita lakukan pada publik adalah bagaimana kita meyakini keyakinan kita tanpa menyalahkan kelompok lain. Banyak potret kebebasan berkeyakinan untuk merefleksikan arah gerak kita dalam berjejaring dalam gusdurian, Yang nantinya menjadi kalimatu sawa’ dalam arah gerak kita. Kedepan gusdurian jawa timur harus mengembangkan tiga pilar yakni; Jaringan Gusdurian, GKI, Gkjw dan mendorong komunitas lain untuk berjejaring menjaga perdamaian umat. Dengan simbiosis mutualisme tiga pilar dapat menjadikan soliditas dalam konsolidasi perdamaian wilayah jawa timur”. Sebut Sahabat Aan Anshori

    Sementara, Aak Abdullah Kudus selaku Narasumber kedua, banyak menceritakan tentang tragedi Kemanusiaan yang terjadi di lumajang akhir-akhir ini, terutama kasus salim kancil. Sebenarnya salim kancil ini bukan yang pertama, setelah kami hitung ternyata ada 20 korban pembunuhan akibat perlawanan pada tambang. Baru lewat kasus salim kancil, kita punya ruang dalam mengangkat persoalan dehumanisasi ini. Bagaimana begitu dramatis pembunuhan salim kancil, memberi kami peluang dalam mengangkat kasus ini. Salim kancil 3 hari sebelum meninggal, beliau berkata “lek aku mati gara-gara kasus iki tak gunjang indonesia”.

    Lanjut Aak Al-Kudus (kordinator Gusdurian Lumajang) ini , bahwa; “ada perjalanan panjang pada penambangan di lumajang dimulai dari wogalih, tahun 2010 warga telah menolak keberadaan aneka tambang yang bekerja sama dengan angktan udara, kapolres, anggota dewan, bupati dll. Masyarakat berdiri sendiri sehingga tidak ada tendensi politik didalamnya. Waktu itu tokoh masyarakat sudah dipegang agar mencuci otak masyarakat tentang halalnya tambang. Maka step awal kami adalah mengajak kyai untuk konsolidasi dengan siasat acara istighosah demi keselamatan lingkungan. Cuma persoalanya tidak ada satupun dari kyai untuk mengeluarkan fatwa bahwa tambang itu merusak dan tidak baik”.

    Dan Pendeta Simon Filantropa, sebagai Narasumber ketiga menyampaikan, jika Quo Vadis lebih akrab dengan agama kristen. Dengan kisah yesus yang ke roma menyelamatkan umatnya. Quo Vadis domine? Pertanyaan pada yesus akan pergi kemana beliau. Jika quo vadis adalah pertanyaan, maka pada konteks itu apakah gusdurian siap kembali pada konteks penderitaan.

    “Lewat sosok Gus dur kita harus melihat gus dur pada aspek humanisme dengan memandang manusia secara humanisme. Bukan persoalan melindungi siapa, tapi memandang kepedulian tentang kemanusiaan. Bagi saya Gusdurian harus memperjuangkan kemanusiaan yang tercerabut, bukan hanya romantisme nilai. Tapi gusdurian harus bisa menjadi gerakan yang massif. Kita bisa mencontoh gerakan gus Aak dengan bekerja sama dengan birokrasi. Karena perubahan tidak akan terjadi tanpa adanya kerjasama dengan kekuasaan. Dimanapun kita berada nilai-nilai harus menjadi inisiatif gerakan perubahan dengan melibatkan pemerintah.” Sebut Pdt. Simon (dari Gusdurian Mojokerto) ini.

    Selain Diskusi Publik, pada Agenda Regional Meeting Jaringan Gusdurian Jatim ini juga digelar forum Workshop Sosial Media, bersama Fasilitator Savic Ali (NU Online) dan Heru Prasetya (Devisi Kampanye dan Media Seknas Jaringan Gusdurian ). Forum ini untuk lebih menguatkan pentingnya penggerak-penggerak komunitas Gusdurian di Jatim khususnya, untuk menyebarkan spirit perdamaian, toleransi serta nilai-nilai pemikiran Gus Dur melalui Sosial Media yang ada.

    Dan, dalam forum sharing lintas komunitas Jaringan Gusdurian banyak hal yang dihasilkan. Seperti mekanisme komunikasi jaringan mulai dari tingkat lokal kota/kabupaten hingga Sekretariat Nasional, urun ide dan pemikiran untuk menyambut Jambore Gusdurian Nasional tahun depan, hingga peralihan kordinator wilayah Jawa Timur yang sebelumnya di mandatkan kepada sahabat Aan Anshori,  diganti dengan tiga Presidium yakni, Pendeta Kristanto Tatok (Gusdurian Malang), Aak Abdullah AlKudus (Gusdurian Lumajang), dan Iqbal Sebanis (Gerdu Surabaya).

    Diharapkan dari hasil Regional Meeting Jaringan Gusdurian Jawa Timur ini kedepan, beragam Aktifitas dari gerakan komunitas Gusdurian di tingkat lokal/kabupaten bisa lebih massif dan progresif. Serta terus hidupnya pemikiran-perjuangan Gus Dur dalam mengawal kemajuan bangsa Indonesia. (ahs)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Quo Vadis Jaringan Gusdurian Indonesia Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top