728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Rabu, 30 Desember 2015

    Rindu Gus Dur: 30 Desember 2009


    Di tengah kehidupan bangsa Indonesia, yang sejatinya sungguh bhinneka ini. Terasa sekali menjelang pergantian tahun yang besamaan dengan peraayaan Hari Natal bagi saudara-saudara Umat Kristiani. Selalu muncul pendapat (fatwa) tentang Haram dan Halal nya menghadiri perayaan Natal, atau bahkan sekedar mengucap Selamat Natal kepada Saudara Umat Kristiani.

    Sebuah perbedan pendapat yang sangat indah jika bisa saling memahami, menghormati antar pribadi secara tenang dan damai (al-nafs al-mutmainnah) tanpa adanya intimidasi dan kegaduhan di ranah publik bahkan sampai berujung adanya masalah kekerasan secara fisik (al-nafs al-lawwamah).

    Sungguh masih terasa bagi kita kenangan beberapa tahun kemaren, tepatnya 30 Desember 2009. Saat bangsa Indonesia bahkan seantero dunia berduka cita atas wafat nya “Sang Humanis” ya seorang putera terbaik bangsa, Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dimana, hari ini adalah tepat enam tahun mengenang kepulangannya.

    Kepulangan (wafat) nya Gus Dur menesteskan kerinduan bagi siapapun manusia yang selalu mencita-citakan perdamaian di negeri ini.

    Hari Perdamaian Ingat Gus Dur, memperingati Hari Toleransi Ingat Gus Dur, saat muncul konflik kemanusiaan ingat Gus Dur. Ketika Hari Raya Imlek, Waisak, Natal dan perayaan hari besar umat-umat beragama yang lain selalu teringat sosok Gus Dur.

    Merindukan Gus Dur hari ini haruslah mampu dipahami dari sisi kerinduan akan keberanian (keksatriaan) yang dimilikinya, sikap keksatriaan yang selalu tampil di barisan terdepan dalam memperjuangkan apa yang diyakini sebagai sesuatu kebenaran untuk diperjuangkan semasa hidupnya.  

    Dan, merindukan Gus Dur berarti adanya keinginan dari sisi untuk meneladani pemikiran-perjuangan nya tanpa henti. Karena mungkin jika sebatas mengagumi tanpa ada upaya meneruskan “warisan” pemikiran serta perjuangannya adalah sebuah kekosongan, bahkan dalam batas tertentu hanyalah pengakuan berwajah kepalsuan. 

    Dengan beragam model dan arena gerakan yang bisa dilakukan oleh para penerus nya (gusdurian) boleh saja berubah secara kontekstual, tetapi fondasi semangatnya tetap dalam basis nilai utama pemikirannya, yakni: ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, persaudaraan, kesederhanaan, keksatriaan, serta kearifan lokal.

    Dalam moment khusus 30 Desember 2015 ini. Enam tahun mengenang wafat nya, warisan pemikiran dan spirit nilai perjuangan Gus Dur tetaplah relevan sampai hari dalam mengawal kehidupan serta kemajuan Bangsa Indonesia. Semoga...Tuhan Selalu Menyayangimu, Gus. (anas-ahimsa)

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Rindu Gus Dur: 30 Desember 2009 Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top