728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Kamis, 21 Januari 2016

    GUS DUR : Sang Ksatria Pewaris Nilai


    Merajut Simpul dalam Kesetaraan

    Haul ke-6 KH. Abdurrahman Wahid, Presiden Keempat RI yang sering didaulat sebagai Bapak Pluralisme Indonesia, yang rutin diselenggarakan oleh berbagai komponen anak bangsa, khususnya representasi Gusdurian. Kali ini untuk wilayah kerja Komunitas Kultural Gerakan Gusdurian Muda (GARUDA) Malang Haul ke-6 Mendiang Gus Dur diselenggarakan di Kota Batu.

    Terasa aneh barangkali untuk sebagian dari pegiat Gusdurian Malang. Haul yang dilaksanakan pada Minggu, 17 Januari 2016 ditempatkan di Hall Pancasila Block Office Pemkot Batu yang masih baru. Ibaratnya, Gusdurian berkesempatan nganyari gedung Pemkot Batu. Apakah tidak bahaya, Gusdurian mepet-mepet kekuasaan ? Ya, merapat ke Batu dalam rangka merangsang dan ingin mengumpulkan simpul orang-orang atau komunitas yang ada di Batu sebagai perluasan Gusdurian, tetap dalam Jaringan Kultural non Politik Praktis. Syahdan, simpul itu berkumpul dari berbagai komunitas kesenian yang beraneka kreasi.

    Acara Haul ke-6 Gus Dur dikabarkan kepada semua orang secara terbuka tanpa membatasi siapapun yang akan turut hadir secara sukarela, sebagai salah satu wujud nilai kesetaraan, yang telah diajarkan oleh Gus Dur. Kami menyebar informasi, dari mulut ke mulut dan dari berbagai fasilitasi media sosial. karena prinsip kesetaraan menjadikan pijakan bahwa Haul Gus Dur terbuka untuk orang-orang yang berupaya menghargai jejak-jejak sekaligus mengenang serta mendoakan Sang Guru Bangsa dan Bapak pluralisme Indonesia.

    Lili Sugiyanti, aktifis perempuan Kota Batu yang juga telah lama mengagumi Gus Dur, dan memediasi peringatan Haul ke-6 Gus Dur kali ini, mengungkapkan jika penempatan Haul di Block Office Kota Batu adalah dukungan yang positif dan wujud kepedulian terhadap penyelenggaran Haul Almarhum Gus Dur. Selain itu merupakan kesempatan membuka kran Jaringan untuk mengembangkan Gusdurian Batu bisa lebih positif lagi kedepannya.

    Sementara, tentang pengibaran nama Gusdurian Malang Raya dalam peringatan Haul Gus Dur ke-6 ini, Pendeta Tatok Kristanto mengatakan bahwa, selama ini para aktivis Gusdurian Malang memfokuskan diri dalam menebarkan 9 Nilai yang dihidupi Gus Dur hanya pada mahasiswa, aktivis komunitas, kalangan muda, dan akademisi Kota Malang. Kami ingin mendorong dan mendukung kawan-kawan aktivis Gusdurian yang tersebar juga di Kabupaten Malang dan Kota Batu untuk semakin dinamis dalam mentransformasi masyarakat mengenal pluralisme dan penghargaan pada perbedaan.

    Dan, kita juga patut bersyukur bahwa penyelenggaraan acara dapat dijalani secara dengan sederhana dan semerdeka mungkin. Dengan cara itulah kita bisa dengan leluasa menampilkan penghargaan dan penghormatan kita pada sesama. Nampak bahwa sebisa mungkin semua berusaha agar tidak ada diskriminasi sekecil apapun. Karena tiap orang adalah setara dan sama, duduk di lantai yang sama, makan makanan yang sama, menghirup udara yang sama, dan menjadi bagian dari suatu tujuan acara yang sama yaitu mensyukuri bahwa kita semua memiliki tokoh bernama Gus Dur yang salah satu nilai utamanya adalah kesetaraan. Ungkap Pendeta Tatok sang Presidium Gusdurian Jatim ini.                 
                  
    Indah dalam Kesederhanaan

    Kota Batu, menjadi saksi keindahan Haul Gus Dur ke-6 yang diselenggarakan para relawan Gusdurian, dengan turut serta nya berbagai manusia pecinta seni, pegiat budaya, aktifis lingkungan hidup, tokoh dan pemuda lintas agama, dan para politisi anak negeri, yang hadir berpartisipasi dalam Haul Gus Dur ke-6, ini sebagai anugrah Tuhan yang turut menghiasi persaudaraan diantara kami semua.

    Semarak dalam peringatan Haul Sang Guru Bangsa Indonesia ini juga tidak luput dari nilai kesederhanan sebagai salah satu teladan penting, yang terus diupayakan dalam praktik hidup keseharian oleh para pengagum Gus Dur di seantero negeri ini. Sederhana dalam hati, fikiran dan tindakan. Hingga, segala upaya diselenggarakannya Haul Gus Dur ini tergerakkan oleh suka cita dan wujud cinta kepada Al Maghfurullah KH. Abdurrahman Wahid.

    Kesederhanaan bersumber dari jalan pikiran substansial, sikap dan perilaku hidup yang wajar dan patut. Kesederhanaan menjadi konsep kehidupan yang dihayati dan dilakoni sehingga menjadi jati diri. Kesederhanaan menjadi budaya perlawanan atas sikap berlebihan, materialistis, dan koruptif. Kesederhanaan Gus Dur dalam segala aspek kehidupannya menjadi pembelajaran dan keteladanan

    Wujud dari kesederhanaan adalah sikap Zuhud, sebagaimana telah ditauladankan Gus Dur. Kini nilai kesederhanaan telah terdistorsi oleh nilai westernisasi, sehingga banyak anak bangsa yang terjerumus dan lupa akan tugasnya sebagai Kholifah (pemimpin) di Muka bumi. Sikap Zuhud Gus Dur barangkali memang sudah tertanam sejak beliau masih kecil dan lama di Pesantren.

    Kesederhanaan turut mengiringi perjuangan Gus Dur dimanapun beliau berada. Banyak risalah kesederhanaan Gus Dur yang sangat menarik untuk diteladani bersama. Salah satunya, saat menjadi elit politik, sikap Gus Dur terhadap keluarga, umat dan rekan politik lainnya selalu disikapi Gus Dur dengan sederhana. Gus Dur bisa menyelaraskan sikap kesederhanaannya dalam lingkaran elit politik, yang banyak terasumsikan kaum elit sangat bersebrangan dengan kesederhanaan.

    Haul dan Kearifan Lokal

    Rangkaian acara dalam peringatan hari wafatnya (Haul) tokoh besar agama islam, biasanya dijalankan dengan “background Islam”, seperti khotmil Qur'an, tabligh akbar, tahlil, dan sebagainya. Berbeda dengan di malang, Haul Gus Dur yang diselenggarakan oleh Gusdurian Malang Raya berisi beragam apresiasi seni dan budaya yang disumbangkan secara suka rela oleh berbagai komunitas, terasa Haul  Gus Dur di Malang terasa istimewa.

    Acara semacam ini merupakan semangat yang nyata untuk meneruskan perjuangan Gus Dur dalam mengamalkan nilai pemikiran yang telah diwariskan-nya. Peringatan wafatnya Gus Dur tidak hanya untuk mendoakan almarhum Gus Dur, namun terasa bahwa Gus Dur masih terus hadir bersama ditengah-tengah kita.

    Dalam peringatan Haul Gus Dur ke-6 seperti ini, bisa kita refleksikan bersama bahwa kita harus mampu hidup berdampingan dengan manusia-manusia yang beragam jenisnya, dimana masing-masing dari kami tetap teguh pada apa yang kita percayai, kami setara, kami saudara, kami sama-sama manusia dan harus memperlakukan sesama secara manusiawi jua, kami harus adil dan memperjuangkan keadilan serta pembebasan, kami berusaha bersikap ksartria, dan kami harus selalu sertia mempertanhankan nilai-niai kearifan lokal (tradisi). 

    Surat untuk Gus Dur

    Sore Gus, maaf mengganggu waktu istirahat jenengan, mungkin sebelum surat ini ada jenengan sudah tau apa yang kami sampaikan. njeh gus, kami ingin berbagi cerita tentang Haul ke-6 kemarin Gus...

    Begini Gus,..alhamdulillah kemarin kami bisa menyelenggarakan Haul ke-6 dengan suka cita dan damai, meski tak ada panitia penyelenggaranya, pun juga tak ada founding kuat untuk pelaksanaannya Gus, yang ada hanya sukarela dan sukacita untuk mengadakannya, karena kami cinta jenengan gus…

    Semoga, Tuhan juga selalu mencintai-mu Gus…

    Gus, Haul kemarin begitu indah. berbagai kalangan hadir dan meramaikannya, tak ada dikotomi dari suku mana, agama apa, ras apa, jabatan apa dan sebagainya Gus, yang ada adalah kita manusia yang harus menghormati satu sama lain, kita adalah manusia yang harus saling mengayomi satu sama lain, kita adalah manusia yang benci akan kekerasan, serta diskriminasi

    Terimakasih njeh Gus, sudah mengajarkan kami makna ketauhidan, mengajarkan kami pentingnya kemanusiaan, mengajarkan kami untuk menjunjung keadilan, mengajarkan kami tentang kesetaraan,  mengajarkan kami bahwa harus bebas merdeka dari berbagai belenggu, mengajarkan kami bahwa kesederhanaan itu begitu indah, jenengan juga mengajarkan kami tentang persaudaraan, mengajarkan kami harus bersifat ksatria, dan jenengan juga mengajarkan kami untuk senantiasa menjaga dan merawat kearifan lokal, Gus..

    Kami disini rindu jenengan gus, rindu guyonannya jenengan, rindu pemikiran jenengan, rindu apa yang telah pernah  kau ajarkan pada kami.

    Sebuah Testimoni: Pdt. Wawuk Kristian Wijaya (GKJW Jemaat Donomulyo, Malang)

    "Saya sungguh bersyukur dapat mengikuti Haul Gus Dur yang keenam ini. Saya seperti dikembalikan ke rumah saya, rumah kebersamaan, tempat komunitas yang membuat hati tenang. Karena dalam acara kemarin kita yang beragam dapat saling mendoakan, saling mempercayai, saling menjunjung tinggi, dan tidak ada prasangka sama sekali karena dipersatukan oleh kasih dan kebersamaan yang diteladankan Gus Dur.

    Berikutnya, rasanya sangat nyaman sekali merayakan Haul Gus Dur dengan diisi oleh kesenian yang disajikan dengan acara yang santai seperti dengan penampilan wayang Cak Jumali.

    Kegiatan seperti Haul ini perlu diagendakan rutin oleh Gusdurian. Mungkin perlu juga mengundang  lebih banyak lagi tokoh agama dan masyarakat umum. Karena bila dilaksanakan hanya oleh aktivis yang sudah lama kenal Gus Dur itu biasa, tapi bila lebih dibumikan di tengah masyarakat banyak akan lebih berguna.

    Intinya, senang dan bahagia sekali bisa ikut acara ini. Juga melalui Haul Gu Dur ini saya mengingat dahsyatnya aura/kharomah Gus Dur yang saya rasakan saat pemakaman Gus Dur di mana waktu itu saya dapat mengikuti langsung upacara pemakaman beliau di Tebu Ireng. Yang terakhir saya bersukacita karena disambungkan dengan teman-teman aktivis Gusdurian.


    Kontributor: Moh Mahpur, Al Muiz, Viky Maulana, Miftahu Ainin        
    Editor: an. Ahimsa
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: GUS DUR : Sang Ksatria Pewaris Nilai Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top