728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Selasa, 26 Januari 2016

    Meneguhkan Interreligiusitas Melalui Seni


    Senin, 25 Januari 2016 – Sore hari di Semeru Art Gallery, Gusdurian Malang mendapat kesempatan istimewa untuk bertemu dengan rekan-rekan dari  Belanda. Carl dan Maurice, dua akademisi yang sedang berkonsentrasi pada isu interreligiusitas berniat untuk mengenal Gusdurian lebih dekat. Perbincangan dimulai dengan penjelasan Bapak Mahpur perihal berdirinya Gusdurian. Gus Dur, Presiden keempat RI memiliki nilai – nilai yang layak diteruskan. 9 nilai Gus Dur dan sikap hidup beliau menjadi inspirasi bagi banyak orang sehingga terbentuk Jaringan Gusdurian pada tahun 2010.

    Gusdurian terbentuk bukan hanya untuk melembagakan kesamaan aspirasi, namun juga untuk bertindak nyata dalam hidup sehari – hari. Komunitas Gusdurian terbentuk dari berbagai macam latar belakang anggota. Diversitas di dalamnya, menjadi bukti nyata bahwa manusia diciptakan beragam untuk dapat hidup bersama.

    Sebagai organisasi berbasis nilai, 9 Nilai Gus Dur menjadi acuan utama dalam gerak langkah Gusdurian. Ketauhidan , kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, keksatriaan dan kearifan lokal menjadi warna dalam tiap kegiatan Gusdurian. Usaha menyebarluaskan pesan perdamaian diwujudkan dalam gerakan menulis, mengapresiasi, bersambang sapa, serta advokasi kepada mereka yang tertindas oleh diskriminasi dan sistem yang malfungsi. Gusdurian memiliki semangat berbagi yang besar dan berusaha terus mengimbangi provokasi-provokasi intoleran terhadap kelompok marginal.

    Carl dan Maurice juga berbagi cerita mengenai pergerakan perdamaian di Eropa Barat. Seperti Indonesia, Eropa Barat juga mengalami kesenjangan sosial dalam masyarakatnya

    Umat Kristiani merupakan mayoritas dan terdiri dari penduduk lokal, sementara umat Muslim sebagian besar merupakan imigran yang datang dari Tunisia atau Maroko. Para imigran sering memiliki kualitas hidup yang berbeda dibandingkan dengan penduduk lokal. Hal inilah yang kemudian membuat komunikasi kurang terbangun. Namun bukan berarti hubungan antar umat menjadi masalah dalam kehidupan sosial. Tidak ada institusi khusus yang berdiri untuk mewujudkan perdamaian, seluruh usaha dirangkai dari hubungan interpersonal  dalam masyarakat.

    Masyarakat di Eropa Barat menghindarkan diri dari sikap phobia terhadap perbedaan kelompok masyarakat. Mereka sangat menghargai kemanusiaan, nilai  yang sama dengan apa yang amini oleh Gusdurian. Tukas Carl dan Maurice


    Teh, kopi dan kripik singkong melengkapi kesederhanaan pertemuan hangat sore itu. Ditemani oleh Pak Ono, seniman besar Malang yang terinspirasi oleh Gusdur, pembicaraan mengalir dan memunculkan ide – ide baru seputar cara mewujudkan perdamaian. Dari luapan pengalaman yang dibagi oleh rekan – rekan Gusdurian, muncul kesimpulan menarik.

    Gus Dur, seorang muslim dan pemuka organisasi keagamaan terbesar di Indonesia (Nahdlatul Ulama) adalah penggagas perdamaian dan penghargaan terhadap diversitas. Suatu hal yang patut dibanggakan bahwa penghargaan justru tumbuh dari sel mayoritas, bukan hasil dari tuntutan pengakuan kaum minoritas.

    Arus demokrasi yang diciptakan oleh Gus Dur berawal dari rasa hormatnya terhadap berbagai jenis kelompok yang ada dalam masyarakat. Dengan demikian Gus Dur menginspirasi banyak orang untuk menghargai keberadaan orang lain dengan tetap menjaga nilai – nilai agama dan kebudayaan. Kesimpulan lain sore itu adalah bahwa semua orang atau kelompok dapat mengawali perdamaian dengan saling mengenal, berdialog dan berbagi,  seperti yang Gusdurian Malang lakukan sore hari itu. (jeannedika)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Meneguhkan Interreligiusitas Melalui Seni Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top