728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Rabu, 06 Januari 2016

    Nikmat Keberagaman


    Fabiayyiala-i-robikumatukaddiban. Satu ayat yang disebut berulang-ulang kali dalam sebuah surat Sang maha pengasih “Ar-Rohman”. Entah kenapa kalimat itu disebutkan berkali-kali. Aku tak tahu. Karena aku bukanlah seorang ahli tafsir. Aku hanyalah seorang manusia yang berpandangan bahwa kebaikan sekecil “zarroh” pun akan diterima oleh sang pencipta walaupun hanya sekedar niat baik saja, terlepas apa latar belakangnya, apa warna kulitnya, apa sukunya dan apa bangsanya bahkan apa agamanya.

    Bagi penulis manusia adalah takdir sang pencipta bersama dengan ketidaksamaan dalam dirinya. Karena Dialah yang sengaja menciptakan manusia itu menjadi bersuku-suku, berbangsa-bangsa dalam segala keunikan diri manusia dan keruwetan sejarah manusia. Hanya untuk saling mengenal antara yang satu dengan yang lain. Namun mengenal tanpa memahami adalah kebohongan besar dalam diri manusia.

    Oleh karenanya, toleransi bukanlah sesuatu yang kaku bahkan mati. Toleransi bukan untuk disuarakan saja melainkan harus dilakukan. Dengan berpandangan bahwa kemajemukan adalah sebuah kenyataan hidup maka penulis sependapat dengan apa yang dikatakan oleh K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bahwa “Dengan kita memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya, merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan penciptanya”.

    Bagi penulis mengenal bukan hanya kita tahu bahwa dia bernama “Yohanness” atau “Ahmad” saja. Sungguh picik sekali ketika hal itu disebut sebagai kita sudah mengenalnya. Bagaimana kita bisa membangun keluarga besar kemanusiaan tanpa memahami satu dengan yang lain.

    Berapa banyak perdebatan tentang keyakinan manusia. Dari hal itu, penulis bertanya-tanya, apa hasilnya ? tidak lain akan menghasil kalah dan menang, bukan?!. Kemudian apakah yang kalah akan mengikuti yang menang ? tentu tidak kan?! karena lagi-lagi keyakinan letaknya dihati dan tak ada seorangpun yang mampu mengukur hati seseorang serta tak ada kebenaran yang absolut. Apa ada efek sampingnya ?! tentu disanalah akan memicu prasangka-prasangka negatif dan hanya menyisakan luka dalam diri manusia, bukan?!. 

    Akhirnya saya bertanya-tanya, seperti itulah kita hidup ? Ada yang kalah dan ada yang menang. Ada yang mayoritas dan ada yang minoritas. Ada yang berkuasa dan ada yang dilemahkan. Seperti apa hasilnya ?? yang menang akan memaksa yang kalah, yang mayoritas tak menganggap yang minoritas dan yang berkuasa akan menindas yang lemah. Hal inilah yang membuat penulis menolak atas segala bentuk pemaksaan khususnya keyakinan seseorang.

    Pernahkah anda melihat bahkan mendapat pengalaman, ada seorang yang berbeda keyakinan dengan anda tapi malah sangat baik kepada anda. Dan ada seorang yang sama keyakinan dengan anda bahkan dia seorang agamawan namun malah bersikap buruk kepada anda?? Jika iya, berarti sebagian pengalaman kita sama. Kemudian apakah kita mengabaikan itu semua? menurut penulis tentu saja tidak. Karena kebaikan tetaplah sebuah kebaikan sedangkan kebenaran belum tentu sebuah kebaikan. Lagi-lagi kembali pada bahwa “tidak ada kebenaran yang absolut”.

    Fabiayyiala-i-robikumatukaddiban (Nikmat tuhan manakah yang engkau dustakan) ? Wahai sang pencipta, hambamu sungguh tidak menyadari bahwa nikmat keberagaman yang sering kami dustakan.

    Wallahu-l-hadi ila shirathin mustaqim.

    Penulis: Moh. Fauzan - Kordinator Gerakan Gusdurian Muda (GARUDA) Malang 
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Nikmat Keberagaman Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top