728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Selasa, 05 Januari 2016

    Rindu Gus Dur: Kado Natal Rahmatan Lil Alamin


    Siapa yang tidak mengenal Presiden Republik  Indonesia ke-4, KH. Abdurrohman Wahid (Gus Dur), beliau tidak hanya dikenal di kampungnya, negara nya, tetapi dikenal seantero dunia dari lintas agama, suku, ras, etnis. Gus Dur memiliki jaringan yang amat luas dalam menjalin silaturahim antar umat, layaknya fourth-generation technology (4G) yang lagi nge-trend di teknologi telepon seluler dekade terakhir ini.

    Sampai saat ini masih banyak para pemikir yang mendiskusikan berbagai sudut-sisi pemikirannya, para peziarah yang nyekar di “taman makam” nya, para penulis menggerakkan pena untuk menulis jejak spirit perjuangan hidupnya.

    Sosok yang identik dengan slogan “gitu aja kok repot” ini semakin hari semakin banyak saja yang yang mencintai dengan mengaku sebagai (santri) setia nya, tak kalah banyak pula yang kian memaki dan mengkafirkan nya.

    Dalam enam tahun ini terlihat Jaringan Gusdurian (JGD), yang dikomandoi oleh putri sulungnya, Ning Alissa Wahid, kini telah berkembang khususnya di kota Malang. Jaringan Gusdurian yang muncul atas inisiatif dari generasi para sahabat (orang yang pernah bertemu langsung dengan Gus Dur) yang berusaha melestarikan nilai- nilai perjuangannya, yakni: Ketauhidan, Kemanusiaan, Keadilan, Kesetaraan, Pembebasan, Persaudaraan, serta Kesederhanaan, Sikap Ksatria, dan Kearifan Tradisi.

    Kado dari Malang

    Gusdurian Malang (Garuda Malang) yang merupakan komunitas “santri” Gus Dur yang memiliki amanah untuk melestarikan nilai-nilai dan menggali segala potensi diri untuk melakukan kebaikan untuk sesame (kemanusiaan).

    Memang, kota Malang bukanlah 10 kota paling toleran versi Setara Institute, akan tetapi penyebaran nilai perdamaian bagi seluruh makhluk, sebagaimana yang dianjurkan dalam islam dan diuswahkan oleh Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam, Wali Songo, Ulama’ Nusantara dan Gus Dur khususnya harus senantiasa terus disuarakan.

    Bergerak bukan mencari sebuah popularitas, akan tetapi manfaat bagi sekalian alam. Bukankah 'khoirunnaas Anfa’uhum Linnas’ akrab kita dengar sejak ngaos di langgar bersama kyai kita. Akan tetapi beranjak dewasa apakah kita telah lupa nasehat itu, atau kah otak kita telah dicuci oleh ekstrimis yang membawa misi memecah belah antar umat dan saling membenarkan diri serta mengkafirkan yang tak seiman.

    Garuda Malang selalu menebar damai bagi semesta, khususnya di Malang Wisdom. Segala agenda dan aktifitas yang bersinggungan langsung kepada masyarakat. Diantaranya gerakan menulis untuk perdamaian (GMuP), ngaji Islam Nusantara, pementasan budaya, English Club (Garuda Rising), kajian rutin, pengadvokasian lingkungan (Pelestarian Hutan Kota Malabar dan membantu donasi bagi korban Tambang Lumajang 2015), bakti sosial (Lestusan Gunung Kelud), rutinan kunjungan natal setiap tahun dan haul Almaghfurullah Gus Dur. Meskipun sesekali di gusdurian dikafirkan oleh sebagian kelompok karena telah melakukan kunjungan ke gereja tanpa ada nya dialog, bagi kami itu hanyalah kicauan media yang mencari sensasi.

    Natal Rahamatan Lil Alamin

    Setiap akhir tahun JGD dipertemukan dengan dua peringatan momentum akbar, Hari Raya Natal dan Haul mendiang Gus Dur. Bulan cukup sibuk untuk menebar kasih bagi sesama, apalagi pada akhir Desember (2015) ini perayaan natal bersamaan juga dengan perayaan Maulud Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi Wasaallam. Bukan perayaan yang sengaja dipertemukan atau dibandingkan, akan tetapi sebuah kebetulan yang sudah ditakdirkan Allah Shubhanahu Wata’ala.

    Gus,..
    Inilah persembahan kado natal dari kami, yang selalu berikhtiar untuk meneruskan perjuanganmu, perjuangan pembebasan dan ajaran kasih.

    Gus,..
    Kemarin umatmu di Malang melakukan perayaan natal dan maulud Nabi Muhammad  Shollallahu ‘Alaihi Wasaallam bersamaan, Masjid dan Gereja bersandingan dan saling menghormati memberi ruang kepada umatmu yang ingin berjumpa Tuhan nya.

    Gus,..
    Santrimu juga tak lupa melakukan kunjungan natal di empat gereja hanya untuk bersilatuahmi dan saling memahami bahwa Tuhan memang telah menciptakan manusia berbeda- beda. Agar supaya kami saling mengenal kan?

    Gus,..
    Pada hari raya idul fitri, umatmu melakukan sholat id di Masjid, dan saking tidak muatnya hingga umatmu melakukannya di pelataran gereja.

    Gus,..
    Kado ini memang indah, tapi acap kali masih kami temui orang aneh yang mendadak mendakwahi kami “kami” dan seolah- olah hanya dirinya lah yang palinh benar.

    Gus,..
    ‘Gitu aja kok repot’ itu memang ringan diucapkan, tapi apa bisa menyelesaikan polemik bangsa ini dengan statmen itu. Padahal semakin banyak gerakan transnasionalis yang mengharamkan Pancasila sebagai ideologi bangsa ini.

    Bahkan Gus, Pemerintahannya juga lagi sibuk judi merebutkan mega proyek (Freeport, newmoon dan semen), hingga umatmu ini terdampar di lautan lepas tanpa layar dan dayung. Sehingga umatmu kini hanya sibuk kafir mengkafirkan

    Padahal Gus, masih banyak umatmu yang menangis perih, Ia warga Syiah yang diisolasi dari kampungnya, pedagang kecil yang barang dagangannya membusuk tak laku akibat permeter kapling tanah sudah berdiri Indomaret atau Alfamart dan Suku Samin yang berjuang mati- matian memperjuangkan lahan hijau nya.

    Kado natal ini memberikan kabar gembira kepada panjenengan Gus, santrimu yang rindu nasehat dan humor mu. Rindu akan perdamaian yang kau perjuangan untuk Negeri ini dan Dunia. Dan semua itu kau lakukan dengan dialog, untuk memberikan pemahaman satu sama lain, bukan untuk menyatukan iman satu sama lain. Sehingga kita semua bisa menjadi rahmat bagi seluruh alam, dan persaudaraan dan kemanusiaan sudah menjadi saksi seperti tercermin dalam 9 nilai pemikiranmu  itu.

    Dialog, Menghapus Prasangka

    Dengan hati, tidak sekedar akal, Gus Dur pernah berpesan kepada kita semua, “Janganlah mengkafirkan sesama, tetapi tengoklah kekafiran yang ada di diri kita sendiri”.

    Agawe luhur dari hati dan pikiran Gus Dur dalam melakukan dialog antar agama. Gus dur membaktikan dirinya untuk dialog antar agama. Dalam dialog itu, beliau tidaklah merelativisasi kebenaran agamanya, tapi mendengaran kebenaran dari agama lain untuk memperkaya dan memperkuat ajaran agamanya, dengan demikian, Gus dur sangat bisa menghargai agama lain.

    Bisa dikata bahwa Gus Dur telah memahami Indonesia dengan utuh, memahami bahwa Indonesia adalah bhineka tunggal ika. Sehingga, Negara sebagai institusi hendaknya bisa mengayomi keberagaman, keberagaman sebagai rahmatan lil alamin, wujud kasih sayang Tuhan kepada makhlukNya. Oleh karena itu, Negara harus tegas memperjuangkan hak asasi manusia dan hak beragama sesuai keyakinan masing- masing.

    Dialog antar agama tidak pertama- tama bermaksud untuk membela Tuhan, tapi mencari upaya bersama bagaimana kasih sayang Tuhan dapat dinikmati oleh semua orang tanpa batasan agama apapun. Dalam Kolomnya di tempo, Gus Dur menuturkan sebuah kisah dan menyimpulkan, “Allah itu Maha Besar. Ia tidak memerlukan pembuktian akan kebesaranNya. Ia Maha Besar karena Ia ada, apa pun yang diperbuat orang atas diriNya, sama sekali tidak ada pengaruhnya atau wujudnya dan atas kekuasaanNya”. (Abdurrohman Wahid, ‘Tuhan Tidak Perlu Dibela’, Yogyakarta 1999, hlm.56).

    Saudaraku marilah kita saling duduk bersama mendiskusikan atau berdialog dengan hati dan pikiran yang putih, bahwa Tuhan telah menciptakan kita sebagai “Abdullah” dan “Khalifah Fil Ardh”.

    Wassalamualaikum.Wr.Wb

    Dan Aku mohon ampun hanya kepadaMu Ya Rohman, Ya Rohim, YaGhoffar.
    Ilahilastulil firdausi ahla
    Wa laa aqwa 'alan naaril jahiimi
    Fahbli taubatan wagfir dzunuubi
    Fainnaka Ghofirudz dzambil 'adziimi

    Dzunubi mitslu a'dadir rimaali
    Fahabli taubatan yadzal jalaali
    Wa 'umri naaqishun fi kulli yaumi
    Wa dzambi zaidun kaifahtimaali

    Ilaahi 'abdukal 'ashiataaka
    Muqirom bidzunuubi waqod da'aaka
    Faintaghfir faanta lidaaka ahlun
    Waitathrud faman narju siwaaka



    Oleh : Al Muiz Ld
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Rindu Gus Dur: Kado Natal Rahmatan Lil Alamin Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top