728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Minggu, 03 Januari 2016

    Rindu Gus Dur: Mimpi Indah dan Hari Cerah


    Mengawali sesuatu dengan bekal kesadaran bahwa kita terbangun dari tidur dengan mimpi indah mampu menjadikan kita memandang pada indahnya hari baru dengan cara yang sangat kreatif.
    Anugerah dan berkah adalah hal-hal besar yang selalu ditawarkan dalam hidup kita dalam keadaan tidur pun di kedalaman ketidaksadaran kita. Begitulah mekanisme penciptaan kebahagian secara sistematis diletakkan dengan sengaja di dalam kemanusiaan kita. Begitu jugalah gairah perayaan-perayaan dan peringatan-peringatan pada hari-hari tertentu yang kita hormati, kenang, dan refleksikan menemukan bentuk paling bermaknanya.

    Selalu ada hal yang istimewa dalam keseharian yang dilalui oleh tiap orang. Kecil dan besarnya tidaklah terlalu penting. Bukankan hal kecil yang istimewa bisa jadi merupakan hasil dari hal besar, atau bisa jadi memberi dampak luar biasa besar di kemudian hari? Begitu sebaliknya, dalam intensitas yang berbeda, keragaman dari detail peristiwa kehidupan adalah perjalanan yang sedang berlangsung dari sebuah arus maha besar karya yang akan kita sebut sebagai kehidupan.

    Semalam, mungkin tepatnya tadi pagi (agak siang) saya bermimpi berjumpa Gus Dur (KH. Abdurachman Wahid). Tidak terlalu jelas dalam situasi apa, tidak jelas juga setting waktunya siang atau malam, tidak terlalu nampak juga berapa orang ada disekitarku ketika peristiwa itu terjadi. Yang benar-benar saya ingat dengan jelas adalah: Gus Dur didampingi beberapa orang, salah satunya adalah orang yang sangat dihormati melebihi penghormatan banyak orang pada Gus Dur. Lantas, tahu-tahu saya berada di depan Gus Dur (jadi tidak jelas moment ini terjadi dalam sebuah seremoni atau dalam sebuah peristiwa sehari-hari ketika Gus Dur lewat dengan rombongannya lantas saya berpapasan dengan beliau, atau bahkan bisa jadi Gus Dur dan rombongan datang kerumahku atau aku yang ke rumah beliau).

    Kemudian yang terjadi adalah kami bersalaman, bisa dibayangkan bagaimana posisiku menyalami orang yang begitu saya kagumi dan hormati ini. Seolah menarikku dari sungkem mendalamku, beliau memalingkan wajahnya kepadaku dengan tatapan muka yang penuh wibawa kesungguhan namun dalam senyuman lebar yang sangat melegakan hati. Beliau meletakkan tangan kirinya dipundakku ketika kami bersalaman. Sebuah momen yang saya rasakan terjadi begitu lama dan sangat intens. Tidak ada dialog, tidak terdengar seseorangpun bersuara. Momen itu tidak terlupakan, bahkan sejak dalam mimpi yang masih berlangsung aku menyadarinya sebagai sebuah perjumpaan.

    Ada beberapa mimpi kecil setelah mimpi itu, namun mimpi istimewa itu terus berada dalam ingatanku dan menjadi satu yang paling aku sadari sebagai sebuah mimpi ketika aku terjaga di tahun 2016 ini. Masih dengan perasaan tertegun dengan anugerah mimpi sebesar itu, dengan keterbatasan yang saya miliki dalam menjelaskan siapa diriku dan apa saja mimpi-mimpiku, sebisanya dengan subyektifitas diriku aku berusaha memaknainya setidaknya untuk hidupku sendiri.

    Yang pertama, jelas ini adalah kebahagiaan besar, sebuah peristiwa penting - sekalipun mungkin dianggap kecil saja - yang tidak banyak orang mampu masuk dalam kondisi mental intensitas relasionalnya. Momen itu membahagiakan terutama karena ada perasaan diterima dengan tulus apa adanya siapa diriku. Dan penerimaan oleh seseorang seterhormat beliau, siapapun pasti akan sangat menghargainya. Wajah beliau yang menatapku terasakan sebagai bentuk dorongan yang meyakinkanku untuk lebih fokus melihat pada semua yang terbaik yang ada dalam diriku, semua anugerah yang telah diberikan oleh yang kuasa agar aku menjadi bagian yang memberi manfaat dalam kehidupan di bumi ini.

    Yang kedua, bagaimana beliau menampilkan keseriusan wibawanya, bagiku adalah pesan kesungguhan bahwa ada banyak hal - sebagaimana Gus Dur juga telah geluti selama hidupnya - yang perlu diberi perhatian, bahkan jika perlu dijadikan panggilan hidup yaitu perjuangan kemanusiaan agar setiap orang semakin manusiawi. Jelas kekagumanku pada beliau mempengaruhi caraku menilai diriku. Namun keseriusan kewibawaan adalah penting dan menjadi bermakna ketika itu dicurahkan pada masa depan kehidupan bersama yang lebih baik.

    Yang ketiga, kesempatan untuk bisa berjabat tangan adalah yang paling mendalam dalam ingatanku. Bisa jadi dulu kemungkinan aku sudah sempat menjabat tangan beliau, saya tidak ingat lagi. Tapi jabat tangan dalam mimpi ini kuyakini akan terus tak terlupakan. Kehangatan, keramahan, ketulusan, dan kebaikan hatinya terasa bahkan hingga kedalaman hati. Aku sadar benar, beliau tentu saja manusia biasa sama sepertiku, namun apa saja yang telah beliau perjuangkan dalam hidupnya itulah yang memberi kekuatan tersalurnya pesan sekalipun hanya dalam sebuah jabatan tangan.

    Apakah ini sebuah kebangkitan perasaan merindu pada beliau manakala saya melihat perkembangan kemanusiaan yang dewasa ini semakin menampilkan segala seginya dengan cara-cara yang semakin berdampak personal pada tiap manusia? Ataukah ini sebenarnya sebuah perjumpaan, kehadiran beliau dalam hidup saya untuk meyakinkan saya bahwa selalu tersedia jalan-jalan indah dan menyenangkan yang perlu terus disambut dengan serius namun tetap dengan sukacita besar. Ah .... sebuah hari baru di tahun 2016 yang mencerahkan.

    Penulis: Kristanto Budiprabowo (Penasihat Gusdurian Malang, dan Presidium Jaringan Gusdurian Jawa Timur)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Rindu Gus Dur: Mimpi Indah dan Hari Cerah Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top