728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Senin, 29 Februari 2016

    Kebenaran tidak Bisa di Voting: Serial Diskusi bareng Alissa Wahid


    Sabtu, 27 Februari 2016, dalam balut kedinginan Kota Batu, di sebuah kafe bernama Kopi Tetes, Komunitas Gusdurian berkesempatan bertemu dan berdiskusi langsung dengan Alissa Wahid (Putri Almarhum Gus Dur). Beberapa orang yang sangat terbatas, berdiskusi dan mengobrol langsung dengan beliau. Suasana gayeng menyelimuti kehangatan obrolan tentang Gus Dur yang diselingi joke-joke segar.

    Mbak Alissa menyampaikan bahwa Gus Dur adalah seorang aktivis yang konsen terhadap perjuangan-perjuangan sosial. Gus Dur selalu membela kaum-kaum yang tertindas entah itu minoritas atau mayoritas. Beliau selalu berusaha menegakkan kebenaran dalam kondisi apapun. Jika Gus Dur membela kaum tionghoa yang tertindas, maka fokusnya adalah ‘tertindas’ bukan pada Tionghoanya. Gus Dur akan membela kaum-kaum tertindas entah mereka Thionghoa, Papua, Ahmadiyah, atau Kristen, karena focus Gus Dur adalah ‘tertindas’nya.

    Hal lain adalah bahwa Gus Dur selalu berusaha untuk memahami orang-orang yang dihadapinya sehingga orang tersebut merasa dekat dengan Gus Dur. Alkisah (kisah Mbak Alissa), seorang pendeta dari gereja Mormon di Amerika dating mengunjungi beliau. Selama hampir dua jam mereka mengobrol di kamar Gus Dur sambil ketawa-ketawa. Setelah keluar, pendeta bercerita ke Mbak Alissa bahwa Gus Dur mengetahui tentang sejarah gereja Mormon lebih daripada orang Mormon sendiri. Padahal Gus Dur belum pernah berkunjung ke Mormon sebelumnya. Saat beliau menjadi presiden dan mengunjungi Mormon, Gus Dur di sambut meriah karena sang pendeta yang dulu pernah mengunjunginya merasa punya kedekatan emosional dengan Gus Dur karena pengetahuan Gus Dur.

    Poin lainnya yang diutarakan Gus Dur adalah bahwa beliau selalu menghormati apa yang disuguhkan kepada beliau. Karena hal ini, semua orang yang dekat dengan beliau merasa paling tahu apa makanan dan minuman kesukaan beliau. Karena saat berkunjung ke suatu kota, selalu disuguhkan makanan khas kota tersebut dan Gus Dur selalu menghormatinya sehingga tuan rumah menganggap bahwa suguhan tersebut adalah makanan kesukaan beliau. Maka, makanan kesukaan Gus Dur di Probolinggo adalah manga, Jogja gado-gado, pacitan rawon dan sebagainya. Itulah salah satu ciri beliau, yang selalu berusaha mengedepankan penghormatan terhadap orang lain.

    Bahwa Gus Dur selalu membebaskan anak-anaknya untuk memilih sendiri dalam kehidupannya. Dengan pilihan sendiri itu, Mbak Alissa diajarkan untuk memahami konsekuensi atas pilihannya. Seperti saat Mbak Alissa mau sekolah di SMA, Gus Dur tidak melarang juga memperbolehkan tapi beliau hanya menanyakan “Kamu tahu gak konsekuensi sekolah disana?” “Iya” “Oke, Ambil saja”. Dalam pengasuhan anak, Gus Dur juga membiarkan mereka berusaha sendiri tanpa bantuan orang tua. Bahkan suatu hari, saat berumur 18 tahun Alissa mau mengurus passport dan visa ke Kanada. Gus Dur tidak membantu, tapi membiarkannya mengurus sendiri sesuai dengan jalur birokrasinya. Padahal, Gus Dur sangat dekat dengan dubes Kanada untuk Indonesia, yang dengan itu beliau mampu memudahkan anaknya untuk mendapatkan visa dengan gampang, tapi beliau tidak melakukannya. “Gus Dur itu anti kolusi dan nepotisme,” papar Alissa.

    Dalam diskusi tersebut, Mbak Alissa juga menegaskan bahwa Gusdurian adalah komunitas yang berbasis pada Sembilan nilai Gus Dur dan bersifat non-politik praktis. Anggota Gusdurian adalah para pejuang yang meneruskan pemikiran dan perjuangan Gus Dur dalam membela kebenaran dan keadilan.

    Bahwa, Sejatinya sebuah kebenaran itu tidak bisa di voting ~Alissa Wahid~  

    Ada empat pion kunci bagi Jaringan Gusdurian se-Nusantara yaitu menyebarluaskan pemikiran dan perjuangan Gus Dur, membangun aliansi kerja bagi perjuangan itu, menghidupkan kembali tradisi dialog yang mulai menghilang dan meneruskan eksperimentasi perjuangan yang dirintis Gus Dur. “Kami anak-anak beliau tidak diwarisi harta materi tapi perjuangan yang belum selesai,” papar Alissa sambil berkisah bahwa Gus Dur pernah terjun langsung ke Kedung Ombo untuk mengadvokasi petani-petani di sana.

    Sering sekali Gus Dur ke daerah-daerah yang terserang separatisme atas nama agama, ras ataupun kelompok. “Dan perjuangan untuk kemanusiaan itu berat sekali”, ungkap psikolog ini.

    Obrolan-obrolan berhiaskan ketan, kacang, kopi, teh dan gorengan itu berlangsung hingga larut malam. Terhitung hingga pukul satu, mbak Alissa bercerita tentang Gus Dur dan sepak terjangnya. Sesi foto-foto menjadi sesi pemungkas dalam obrolan kali ini. Keesokan harinya, Mbak Alissa harus berangkat, melanjutkan perjuangan menuju Tuban dan Bojonegoro. Untuk menjahit “benang-benang” murid Gus Dur yang berserakan dimana-mana. Kamsia  


    Oleh: Muhammad Rosyid-(Kelas Pemikiran Gus Dur Malang, Angkatan I. bergiat di panggung Sastra dan Literasi)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Kebenaran tidak Bisa di Voting: Serial Diskusi bareng Alissa Wahid Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top