728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Jumat, 26 Februari 2016

    Kita, Ahmadiyah dan Indonesia


    Berbicara tentang Ahmadiyah tidak pernah lepas dari perbincangan mengenai sejarah perkembangan agama di Indonesia. Konteks hari ini memposisikan jemaat Ahmadiyah dalam sudut tepi masyarakat. Mereka menerima penolakan, ancaman, pemfitnahan, dan berbagai macam tindak intoleransi lainnya.

    Untuk menanggapi fenomena ini, Gusdurian Malang mengadakan malam diskusi dengan tema “Ahmadiyah dan Keindonesiaan “ pada malam Kamis, 24 Februari 2016. Pemapar isu diantaranya adalah Mohammad Mahpur (Gusdurian Malang), Ust. Muharim Awaluddin (Ketua Pembina JAI Jawa Timur) dan Ust. Aminullah Yusuf (Pembina JAI Tulungagung). Kongkow-Diskusi dimoderatori oleh saudara Anas Ahimsa Gusdurian Malang.

    Diskusi diawali dengan pemaparan sejarah JAI (Jemaat Ahmadiyah Indonesia) dan kasus intoleransi terhadap JAI di Tulungagung. Hal yang sering kita lupakan adalah bahwa JAI juga berjasa dalam membangun Indonesia. Terbilang beberapa pahlawan seperti Arif Rahman Hakim dan WR. Supratman merupakan Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Bertolak pada konteks saat ini, JAI justru menjadi korban masyarakat ahistoris. Kita telah melupakan jasa banyak pihak dalam perkembangan Indonesia termasuk JAI. Di beberapa kota di Indonesia, JAI dilarang beribadah hingga diusir dari rumah ibadat mereka. Sementara JAI ditengah tekanan justru sering mengadakan acara sosial seperti donor darah dan berbagi sembako.

    Menanggapi hal ini, peserta diskusi memusatkan perhatian terhadap penyebab sikap intoleran terhadap JAI. Beberapa pendapat menyatakan bahwa sikap ini berasal dari ketidak tahuan sejarah, bahwa JAI pernah diterima secara terbuka oleh masyarakat dan negara. Pendapat lain menyatakan bahwa JAI menjadi salah satu kambing hitam dalam usaha menciptaakan kerusuhan di Indonesia. Peran media juga sangat krusial dalam permasalahan ini. Media sosial telah menjadi sarana penyebaran isu yang tidak dapat dipercaya serta bersifat provokasi. Bertolak belakang dengan fungsi media sesungguhnya yaitu menyuarakan pendapat atau menyebarkan pengetahuan dan informasi.


    Menurut pemaparan pemateri, JAI selalu bersabar menanggapi penolakan yang diarahkan kepada mereka. Namun sebagai insan-insan yang mempelajari ajaran Gus Dur, kita tidak dapat berdiam diri begitu saja. Sikap intorleransi harus kita lawan dengan mengedepankan pemahaman mengenai perbedaan dan kekhasan yang selalu ada. JAI hanyalah salah satu dari sekian golongan yang berusaha untuk mendekatkan diri kepada Yang Mahakuasa sehingga harus kita hormati keberadaannya. Gus Dur mengajak kita untuk memuliakan Sang Pencipta melalui manusia, maka penghormatan kepada setiap pihak adalah salah satu jalan untuk memuliakan Tuhan. Selain itu dengan menghormati dan melawan tindak intoleransi maka kita juga mendukung semua pihak untuk berkontribusi dalam pembangunan Indonesia. (Jeanne-dika)
    “Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya. Merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan penciptanya.” Gus Dur
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Kita, Ahmadiyah dan Indonesia Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top