728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Kamis, 04 Februari 2016

    Kongkow Bulanan: antara Madura dan Eropa



    Selasa malam, 3  Februari 2016 menjadi malam yang menarik bagi Gerakan Gusdurian Muda (GARUDA) Kota Malang. Menghelat Kongkow rutin bulanan, dimana tema yang diusung sedikit berbeda dengan tema di bulan - bulan sebelumnya. Kongkow dan sharing kali ini merupakan buah tangan dari kawan asal Madura yang baru menyelesaikan studi di Radbound University, Nijmegen - Belanda. Irham Aladist, seorang ahli bahasa asal Bangkalan ini menuturkan refleksinya mengenai kultur Belanda melalui perspektif pemuda Madura. Tema yang dibahas pada malam itu ialah culture shock pelajar rantau, toleransi di negeri kincir angin dan perbandingannya dengan tradisi-bahasa pulau garam Madura.

    Menjadi minoritas terkadang tidak mudah, apalagi menjadi minoritas ditengah tanah rantau. Irham, pemapar kongkow-diskusi menceritakan bagaimana berbagai budaya bertemu di kawasan lokasi studinya. Sebagai seorang muslim, adalah suatu kewajiban untuk melaksanakan shalat lima waktu. Namun terkadang waktu shalat bertepatan dengan kegiatan perkuliahan, sedangkan tempat peribadahan (masjid) jauh dari kampus. Sering kali Irham dan beberapa kawan muslim harus shalat di lorong kampus.  Tidak ada seorangpun yang melarang atau menganggap aneh hal tersebut.

    Masyarakat Belanda menjunjung tinggi hak dasar manusia. Sehingga bebas bagi siapapun untuk memeluk (atau tidak) agama dan melakukan ibadah, selama tidak merugikan kepentingan umum. Pemerintah Belanda menjamin keamanan semua umat untuk beribadah. Contohnya pada saat bulan Ramadhan dimana shalat tarawih dilaksanakan hingga pukul 2 pagi, keamanan umat dijamin oleh pemerintah melalui keamanan setempat.

    Di Belanda, makanan halal dan khas Indonesia mudah didapat walaupun dengan harga yang cukup mahal. Setidaknya hal tersebut dapat mengobati rasa rindu terhadap masakan Indonesia yang sangat berbumbu.  

    Beda kolam, beda ikannya.  Di Belanda, apabila kita ingin bertamu ke rumah seseorang maka kita harus membuat janji terlebih dahulu. Berbeda dengan di Madura dan hampir seluruh Indonesia, bertamu tanpa membuat janji adalah hal yang biasa. Di Belanda, segala kegiatan terjadwal dengan rapi dan tepat waktu. Undangan makan malam di Belanda terdiri dari acara menikmati hidangan dan sedikit waktu untuk berbincang - bincang, sementara di Madura undangan makan malam dapat diartikan sebagai undangan untuk bertemu dan mengobrol, hidangan hanyalah pelengkap dari pertemuan. 

    Irham menyatakan bahwa masyarakat Madura dalam hal keramahan dan persaudaraan lebih unggul di bandingkan dengan masyarakat Belanda. Masyarakat Belanda menghormati satu sama lain sebagai person yang sama dengan dirinya, sehingga mereka berusaha untuk tidak saling mengganggu. Damai di Madura dibangun dengan cara yang berbeda, yaitu dengan menjalin silaturahmi dan melestarikan budaya istilah tretan dhibik.

    Pengalaman yang dipaparkan oleh Irham Aladist, serta kongkow diskusi yang mengalir membawa kita kepada kesimpulan bahwa berbagai cara dapat digunakan untuk menjaga perdamaian dimanapun kita berada. Toleransi masyarakat Belanda berbeda dengan toleransi masyarakat Madura karena terbangun dari faktor dan histori yang berbeda. Sekali lagi kongkow bulanan Gusdurian Malang memberikan pelajaran yang sangat berharga. Seperti kata penutup yang dilontarkan oleh moderator diskusi, Moh Fauzan; bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Berbagi cerita dapat memperkaya pandangan dan ilmu kita. Jadi, mari berbagi. (jeannedika)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Kongkow Bulanan: antara Madura dan Eropa Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top