728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Selasa, 23 Februari 2016

    Lontong Dalam Cap Go Meh


    Hari raya Cap Go Meh yang jatuh pada tanggal 15 bulan pertama tahun Imlek merupakan hari terakhir dari rangkaian masa perayaan Tahun Baru Imlek bagi etnis Tionghoa. Istilah Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkian (salah satu etnis Tionghoa) yang bila diartikan secara harafiah bermakna “15 hari atau malam setelah Imlek”. Bila dipenggal per kata, ‘Cap’ mempunyai arti sepuluh, ‘Go’ adalah lima, dan ‘Meh’ berarti malam. Dalam penanggalan Imlek disebut juga dengan istilah Yuan Yue. Dalam bahasa Mandarin, malam disebut juga dengan istilah Xiao.  Jadi Yuan Xiao artinya malam dengan Bulan Purnama pertama dalam Tahun yang baru.

    Ada beberapa versi cerita dalam sejarah Hari Raya Cap Go Meh. Dalam Agama Buddha, Bulan Pertama tanggal 15 Imlek juga diperingati sebagai hari suci “Magha Puja” yaitu hari berkumpulnya 1250 arahat pada waktu yang bersamaan tanpa adanya kesepakatan terlebih dahulu untuk mendengarkan pembabaran Dhama dari Sang Buddha, semua Arahat adalah Ehi Bhikku yang artinya adalah ditabhiskan oleh Sang Buddha sendiri. Pada Dinasti Han, sebagaian besar rakyat dan bangsawan serta kaisar mayoritas beragama Buddha yang kemudian mengetahui bahwa setiap Bulan Pertama Tanggal 15 Imlek para Bhikkhu akan melakukan penyalaan pelita untuk menghormati Buddha, maka Kaisar Han Ming Di yang berkuasa saat itu memerintahkan untuk menyalakan pelita di istana dan juga semua Vihara untuk menghormati Buddha. Kaisar kemudian juga memerintahkan rakyatnya untuk menggantungkan Lentera atau menyalakan Pelita di rumah masing-masing untuk menghormati Buddha.

    Dalam Perkembangannya, penyalaan lampu pelita di Dinasti Han hanya satu hari, sampai pada Dinasti Tang menjadi 3 hari, Dinasti Song menjadi 5 hari, Bahkan saat Dinasti Ming, perayaan penyalaan Lampu Pelita ini dimulai pada hari ke-8 sampai hari ke-17 bulan pertama Imlek (tepat 10 hari).  Pada Dinasti Qing, Perayaan Festival Yuan Xiao dipersingkat menjadi  4~5 hari, tetapi bentuk perayaan diperbanyak seperti adanya kegiatan barongsai dan tarian Naga.

    Di Indonesia, Hari Raya Cap Go Meh identik dengan Lontong Cap Go Meh. Ini adalah salah satu menu makanan favorit saat Perayaan Cap Go Meh. Munculnya Lontong Cap Go Meh tak bisa lepas dari opor ayam dan ketupat yang menjadi makanan khas Muslim di Jawa saat merayakan lebaran. Lontong Cap Go Meh merupakan akulturasi budaya masyarakat Cina Peranakan atau bisa disebut Kiau Seng di pesisir utara Jawa. Dulu, kehidupan Cina Peranakan membaur dengan masyarakat lokal Semarang. Mereka hidup dalam perkampungan yang majemuk.

    Masyarakat Cina Peranakan tahu betul tradisi keluarga Muslim Jawa yang menyantap ketupat opor ayam yang dipadu dengan sambal goreng hati. Mereka kemudian mengadopsi dengan membuat menu khas perayaan Cap Go Meh yaitu opor ayam tak hanya dipadu dengan sambal goreing hati, namun juga dipadu dengan aneka masakan lain, biasa sambal goreng tahu, tahu, rebung, buncis, udang, srundeng, docang, abing, bubuk kedelai, lodeh, telur, dan kerupuk. Adapun ketupat diganti dengan lontong, karena potongan lontong berbentuk bulat menyerupai purnama, sebagaimana Cap Go Meh selalu dirayakan tiap malam purnama. Tradisi itu terawat sampai sekarang, meski dalam penyajiannya, Lontong Cap Go Meh saat ini tak selengkap tempo dulu. Masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia harusnya memaknai sepiring Lontong Cap Go Meh tak sekedar pelengkap perayaan Cap go Meh, tapi harus tahu sejarahnya. Dengan demikian, akulturasi budaya sebagai perekat kebhinekaan terus terjaga.

    Billy Setiadi (Hikmabudi dan Pegiat Damai Kota Malang)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Lontong Dalam Cap Go Meh Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top