728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Senin, 01 Februari 2016

    Pernak-Pernik antara Madura dan Eropa



    Tulisan ini adalah refleksi pengalaman pribadi. Saya berasal dari pelosok daerah tertinggal di salah satu propinsi di Jawa Timur, yang mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan master di Benua Eropa,  tepatnya di Negara Belanda kota Nijmegen, kota tertua di Belanda. Dari benua Eropa pula lah banyak ilmuan dan akademisi tingkat dunia lahir. Adapun daerah tempat saya dibesarkan bernama Kabupaten Bangkalan, terletak di pulau Madura atau biasa disebut pulau garam.

    Mengawali pendidikan formal sejak usia 7 tahun di Bangkalan, saya pun meneruskan sekolah tingkat pertama dan menengah atas di kota yang masyhur dengan kota santri ini. Tentu, selain belajar di sekolah formal, saya juga pernah merasakan pendidikan dengan model pesantren, salafi dan modern. Sekolah sambil nyatri seakan menjadi sunnah muakad bagi masyarakat di kampung. Saat menempuh sekolah menengah atas, saya nyantri di kiyai Affan Fadli (Alm), senenan. Sebelumnya, saya sempat mencicipi treatment pendidikan pondok modern Darul Ittihad Kecamatan Geger Bangkalan. Dari sinilah fondasi ilmu agama saya dipupuk dan akhirnya menjadi sangu untuk menjalani kehidupan nan “bebas” ala Negeri kincir angin selama menjalani studi master.

    Pada tulisan kali ini, saya ingin berbagi pengalaman seputar dunia pendidikan dan sosial yang pernah saya rasakan selama menjadi pelajar di kota santri,  Bangkalan, dan Belanda. Ada tiga hal penting yang ingin saya coba kemukakan sebagai fokus dari tulisan ini, yaitu “keramahan”, tretan dhibik (Brotherhood), dan aktualisasi sikap/prilaku toleransi di Madura dan Belanda. Sebagai kota santri, ketiga konsep hidup bermasyarakat ini sudah seyognyanya ditegakkan dan menjadi amalan masyarakat Bangkalan sehari hari. Apalagi hal ini juga dikuatkan oleh sumber pedoman hidup mereka sebagai muslim. Lalu bagaimana dengan  Belanda yang mayoritas penduduknya tidak memiliki keyakinan? Apakah mereka ramah dan toleran pada masyarakat pendatang/asing? Apakah keramahan sebuah masyarakat dan sikap toleransi berbanding lurus dengan kemajuan peradaban dan pendidikan? Untuk lebih jelasnya, saya akan memaparkan di pembahasan selanjutnya.

    Antara Madura dan Belanda
    Masyarakat di salah satu pulau di propinsi Jawa Timur ini sudah sangat terkenal sebagai masyarakat perantau. Sangat mudah kita jumpai orang madura di sekiling tempat kita tinggal. Merantau seakan menjadi bagian dari fase perjalanan hidup orang Madura, selain juga untuk memperbaiki kualitas sosial ekonomi. Masyarakat Madura tersebar di hampir seluruh penjuru negeri ini, dari ujung barat Indonesia hingga semenanjung pulau Papua. Beberapa dari mereka ada yang merantau untuk bekerja, namun tak sedikiti pula yang hijrah untuk menimba ilmu di luar pulau Madura.

    Kegigihan orang Madura dalam menghadapi tantangan hidup yang kian berat, menjadikan mereka sebagai masyarakat yang memiliki nilai plus, yaitu survival dan tahan banting.  Hal ini bisa disebabkan karena karakter masyarakat Madura yang gherra (Hidayat, 2009), tak mudah patah semangat, dan sifat ketretanan yang kuat. Istilah tretan dhibik menjadi sebuah pedoman hidup yang menguatkan keakrabatan dan rasa memiliki sebagai orang madura. Sehingga, jika orang Madura berada ditanah rantau, dan kemudian bertemu dengan orang Madura lainnya, mereka seringkali-meski tidak selalu dan semuanya demikian-menganggap sebagai keluarga atau saudara. Hal ini pula mungkin yang membuat orang Madura tidak takut untuk merantau.

    Tentu, generalisasi pada masyarakat Madura tidak bisa serta merta dilekatkan pada mereka. Apa yang saya tulis lebih pada pengalaman pribadi, pergi merantau, bertemu dan berinteraksi dengan beberapa orang Madura di tanah rantau. 

    Sekilas, masyarakat Belanda berbeda dari orang Madura. Orang Belanda tidak banyak yang merantau ke luar Belanda. Berpindah-pindah tempat untuk menemukan suatu hal yang baru tidak begitu umum bagi mereka. Ketika menempuh beberapa matakuliah di Radboud University Nijmegen, beberapa dari teman kelas saya ada yang heran, mengapa ada orang Indonesia, jauh jauh sekolah ke Belanda, meninggalkan keluarganya. Pada umunya, orang Belanda sekolah dan bekerja di daerahnya. Setelah menyelesaikan kuliah, mereka memilih bekerja disana. Sedikit sekali yang memilih berkarir di luar Belanda.

    Sepintas saya beranggapan bahwa mereka tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk “merantau”. Tidak halnya dengan kebanyakan orang Madura yang merantau untuk alasan ekonomi misalnya, pemerintah Belanda sudah mencukupi kebutuhan yang dibutuhkan rakyatnya sehingga mereka lebih betah dikampung halamannya. Begitu juga dengan pendidikan contoh lainnya, orang orang kampung di tempat saya tinggal ingin sekali masuk ke sekolah favorit, dan biasanya terletak di kota. Sekolah di kota dipilih karena memiliki kualifikasi akademik dan fasilitas yang jauh lebih bagus daripada di desa. Di Belanda, fasilitas dan kulifikasi akademik sebuah penyelenggara pendidikan relatif merata, sehingga mau sekolah di kota kelahiran atau di luar kota tempat mereka dibesarkan seakan tidak memiliki dampak yang signifikan bagi pendidikan mereka dimasa depan.                 

    Madura dan Belanda: Bahasa, Masyarakat dan Pendidikan
    Bahasa Madura termasuk dari bagian dari bahasa Austronesia, dengan jumlah penutur sekitar 6.770,900 yang  tersebar diseluruh pelosok negeri (Ethnologue, 2015). Secara morfologis, bahasa Madura menganut sistem SVO, namun sangat fleksibel dalam penggunaan. Bahasa madura tidak hanya menjadi bahasa sehari hari di pulau Madura, namun juga digunakan sebagai bahasa komunikasi di beberapa kabupaten kota di Jawa Timur seperti, Probolinggo, Jember, Lumajang, Sitobondo, dan Bondowoso.

    Bahasa Madura memiliki beberapa dialek; Bangkalan, Pamekasan, Sumenep, Sampang, dan Bawean (Davies, 2010; Ethnologue, 2015).  Beberapa pulau di Sumenep juga menggunakan bahasa Madura dalam kehidupan sehari harinya, seperti Sapudi dan Kangean. Seringkali orang Kangean dan Bawean beranggapan bahwa bahasa Kangean dan Bawean berbeda dari Bahasa Madura. Mereka tidak menyebutnya sebagai sebuah dialek, tetapi bahasa.

    Sejauh yang saya ketahui, beberapa literatur menyebut bahasa Kangean dan Bawean sebagai bagian dari dialek bahasa Madura. Ada beberapa kesamaan dan tidak sedikit pula perbedaan diantara bahasa Madura, Kangean, dan Bawean, sehingga orang Kangean, misalnya, lebih mengakuinya sebagai bahasa bukan dialek, karena bahasa mereka berbeda dari bahasa orang Madura. Secara sederhana, yang membedakan sebuaha bahasa dan dialek adalah pada mutual inteligibility, jika kedua penutur dapat memahami satu sama lain, maka mereka menggunakan bahasa yang sama, namun mugkin dengan dialek yang berbeda. Sebaliknya, jika penutur satu sama lain sama sama tidak dapat mengerti apa yang dibacarakan, berarti mereka menggunakan dua bahasa yang berbeda. Lalu pertanyaanya, bagaimana mengukur “perbedaan” sebuah bahasa/dialek? Mair (1991), mengatakan bahwa jika tingkat similiaritas diatas  50%, maka disebut dialect.

    Bahasa Belanda merupakan bagian dari Indo-european dan memiliki pentutur seklitar 21, 944,690 (Ethnologue, 2016) yang tersebar di Belgia, Luxemburg, dan Belanda. Di Belanda sendiri, terdapat beberapa dialek seperti Ranstrad, Limburg, dan Flemish.   Sebagaimana umumnya terjadi dalam perebutan kuasa bahasa, baik Madura dan Belanda memiliki bahasa atau dialek yang dianggap paling mewakili dari sekian dialek yang ada. Dalam kasus seperti ini kita lebih sering mengenal dengan standard language dan non standard language atau regional language. Di Madura, dialek Sumenep dianggap sebagai bahasa standar, sedangkan di Belanda, dialek Ranstad yang menjadi bahasa (yang dianggap) standar.

    Sebagai konsekeunsi adanya dikotomi standar dan tidak standar, penutur dari daerah tertentu akan merasa superior dan begitu sebaliknya, penutur dari daerah yang lain selain dari golongannya dianggap inferior. Sehingga tidak jarang penutur dari daerah standard language mendiskreditkan penutur lain dari regional language.  

    Dari cara seseorang bertutur kata, kita bisa menginndentifikasi, dari daerah mana ia berasal. Dengan demikian, language superiority seringkali dijadikan pijakan dalam berinteraksi. Sebagai dampaknya, kita menganggap, baik sadar atau tidak, dialek penutur lain sebagai dialek yang funny atau malah terdengar strange, bahkan lebih parahnya adalah adanya sekat-sekat sosial karena perbedaan dialek.

    Dalam hal interaksi sociokultural, masyarakat Belanda termasuk masyarakat moderat dan open minded. Sikap ramah yang seringkali dilabelkan pada orang timur, seperti Indonesia dan Madura tentunya, juga terdapat pada orang Belanda. Mereka tidak sungkan untuk memberikan pertolongan bahkan pada orang asing sekalipun. Seperti halnya orang madura, orang Belanda juga saling bertegur sapa ketika bertemu, at least say hello!

    5.8 % dari penduduk Belanda adalah Muslim. Kebanyakan dari mereka merupakan Muslim dari Turki, Maroko, dan Indonesia. Namun, dalam mendapatkan haknya sebagai penduduk Belanda, semisal, pendidikan, tidak ada perbedaan. Mereka mendapatkan akses pendidikan yang sama tanpa memandang latar belakang agama. Di beberapa kampus, sudah terdapat tempat ibadah dan wudlu yang  nyaman untuk pria dan wanita. Hal ini dimaksudkan agar kewajiban seseorang yang beragama, seperti muslim, tidak mengganggu aktivitas mereka untuk belajar.

    Dalam sistem pendidikan, Belanda merupaka negara pertama di Eropa, di luar UK, yang menawarkan perkuliahan dalam bahasa Inggris, sehingga dapat menampung beberapa mahasiswa internasional dari berbagai belahan dunia. Para siswa sudah dapat memilih jenjang pendidikan dan minatnya sejak high school. Bagai mereka yang ingin langsung kerja, para siswa bisa memilih di vocational school  atau SMK, dan hanya dapat melanjutkan studi di pendidikan tinggi yang berorientasi skill. Biasanya mereka tempuh dalam kurun waktu 1 sampai dengan 3 tahun. Hanya bedanya antara Belanda dan Madura adalah tidak adanya pesantren. Meski tidak terdapat pesantren,  di Belanda banyak terdapat banyak Islamic Centre, seperti TPQ di Indonesia dan langgher dalam tradisi madura, yang dapat menjadi madrasah bagi generasi muslim di Belanda.

    Berbicara tentang toleransi, saya kira kedua masyarakat, baik Madura maupun Belanda memiliki rasa toleransi yang tinggi. Masyarakat madura yang sangat ramah dan toleran pada orang lain, selama mereka tidak mengganggunya. Menjaga martabat keluarga dan harga diri menjadi harga mati bagi orang madura. Orang madura, pada umumnya, tidak akan menganggu orang lain. Pokok jhek salaen!

    Bentuk toleransi dalam pendidikan misalnya, beberap universitas di Belanda menyediakan tempat ibadah, dan tidak sedikit masjid yang lokasinya berdekatan dengan universitas. Begitu juga jika kita ingin melaksanakan shalat yang bersamaan dengan jadwal kuliah, mereka- beberapa dosen- di department of linguistics, Radboud University Nijmegen khususnya, sangat welcome untuk negoisasi ijin. Syaratnya adalah kita harus memberitahu terlebih dahulu, tidak asal skip kelas saja. Banyak dari teman teman yang studi di kampus lain di Belanda mengatakan hal yang sama, yaitu kemudahan dalam mendapatkan ijin untuk melaksanakan kewajiban agama.

    Pada Idul Adha tahun lalu contohnya, hari raya jatuh pada saat hari aktif, yakni hari kamis. Banyak dari teman teman muslim di Nijmegen yang harus masuk kerja. Jam kerja dimulai sejak pukul 08.00 atau 09.00 sampai dengan pukul 17.00. Waktu shalat saat itu adalah pukul 09.00. Lewat teman teman PPI Nijmegen, kami akhirnya mendapatkan ijin menggunakan studenttenkerk untuk melaksanakan ibadah shalat Idul Adha. Teman temanpun diberikan ijin oleh tempat kerja dan dosen pengampu matakuliahnya untuk melaksanakan shalat. Setelah shalat dan ramah tamah sebentar, kamipun akhirnya kembali ke aktivitas masing masing, ada yang bekerja ada juga yang ke kampus.
      
    Salah satu faktor pilihan destinasi universitas tujuan adalah ketersediaan tempat ibadah dan adanya toleransi baik dalam kehidupan bermasyarakat atau sebagai pelajar di sebuah perguruan tinggi. Hal ini menjadikan sebuah universitas, atau negara penyelenggara pendidikan, banjir pelamar untuk melanjutkan studi disana, terlebih lagi bagi masyarakat yang beragama.

    ***
    Secara umum, karakter orang Madura yang gherra dan toleran juga dipraktekkan oleh orang Belanda. Namun demikian, orang Madura bisa dibilang perantau yang gigih dan berani. Sebaliknya, orang Belanda lebih banyak perhitungan dalam mengambil tindakan dan sedikit yang merantau. Dalam konteks pendidikan, model pendidikan yang ada di Bangkalan relatif lebih seimbang; antara moral, spiritual, dan ilmu pengetahuan. Adapun dalam hal kualitas dan ketersediaan sarana prasana penujang pendidikan, saya kira di Belanda (sedikit) lebih baik dari Madura.  


    Daftar Pustaka
    Davies, W. (2010). A Grammar of Madurese. Berlin: De Gruyter Mouton  
    Ethnologue. (2016). MAdurese. Diunduh dari https://www.ethnologue.com/language/mad
    Ethnologue. (2016). Dutch. Diunduh dari https://www.ethnologue.com/language/nld
    Hidayat, A. (2009). Karakter dan Falsafah orang Madura. Karsa (XV)1, 1-14 
    Mair, V. H. (1991). What is a Chinese "dialect/topolect"?: Reflections on some key Sino-English linguistic terms. Philadelphia, PA, USA: University of Pennsylvania

    Judul asli artikel: Melihat Pernak-Pernik Kehidupan Barat dan Nusantara: Sebuah Refleksi Perjalanan Akademik di Madura dan Eropa (Belanda)”. Bahan-nutrisi yang dibagikan dalam kongkow rutin bulanan Gusdurian Malang, 03 Februari 2016 di Kedai Komika-Adaja

    Penulis: Irham, M.A. Linguistics Radboud University Nijmegen, the Netherlands (irhamaladist@gmail.com irham@student.ru.nl)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Pernak-Pernik antara Madura dan Eropa Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top