728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Rabu, 17 Februari 2016

    Tradisi Sembahyang ke Langit Orang Tionghoa


    Tradisi Sembahyang ke langit atau biasa orang Tionghoa menyebutnya sembahyang King Thi Kong, ini telah turun temurun dilakukan hingga sekarang, itulah sebabnya setiap tahunnya pada hari ke 9 bulan 1 Imlek, yang tahun ini jatuh pada tanggal 16 Februari 2016 orang Tionghoa terutama orang Hok Kian (salah satu suku dalam etnis Tionghoa), melakukan upacara sembahyang King Thi Kong, yang dalam Bahasa Mandarin disebut Jìng Tian Gong.
    Jìng Tian Gong yang bisa ditafsirkan sebagai tradisi sembahyang kepada Tuhan yang disebut juga perayaan Tahun Baru orang Hokkian. Tujuannya mungkin mengucap syukur atas apa yang sudah diberikan dan memohon pengharapan agar di sepanjang tahun yang baru semua lebih baik dari tahun sebelumnya.
    Namun ada perbedaan pendapat dalam kalangan Tionghoa, sebagian beranggapan bahwa Sembahyang King Thi Kong artinya Sembahyang pada Dewa Langit, bukan yang dimaksud Allah/ Tuhan, dsb. Penganut Tradisi Tiongkok kuno punya kebiasaan sembahyang menyembah ke langit di depan pintu rumah utama. Maka, biasanya tiap rumahnya di depan pintu dipasang tempat dupa. Ada pula alasan bahwa Tuhan itu sendiri tak dapat dijangkau oleh daya pikir / nalar umat manusia yang terbatas, juga tidak dapat dijelaskan melalui ucapan dan tulisan yang amat sangat terbatas.
    Tradisi Sembahyang King Thi Kong saat ini sudah menyebar dan meluas di kalangan etnis Tionghoa, bukan hanya orang Hok Kian saja, tapi sudah menyebar dengan suku Tionghoa lainnya seperti Tio Ciu, Kong Hu, Hakka dan lain-lain.
    Sembahyang King Thi Kong ini biasanya dilakukan pada Cia Gwe Ce Pek (Tanggal 8 bulan 1 imlek) pukul 12 tengah malam yang berarti sudah masuk Cia Gwee Ce Kaw (Tanggal 9 bulan 1 imlek). Tanggal 9 bulan 1 imlek juga bermakna bahwa angka 1 berarti Esa dan angka 9 adalah yang tertinggi.
    Sembahyang King Thi Kong bisa dilakukan dengan cara mewah atau sederhana, yang terpenting adalah ketulusan pada saat melaksanakan Upacara Sembahyang King Thi Kong ini.
    Ada pula yang melakukan pantangan makanan berjiwa atau bervegetarian atau biasa juga disebut Cia Cai sebelum melakukan Upacara Sembahyang King Thi Kong. Cia Cai dimulai pada hari ke 4 Imlek sampai pada waktu ritual sembahyang dilaksanakan. Tujuannya agar dapat mensucikan diri secara lahir dan batin sebelum dan sewaktu melaksanakan ritual persembahyangan.
    Sembahyang King Thi Kong ini juga disebut dengan Sembahyang Tebu. Pada masa awal Dinasti Qing ( 1644 - 1911 ) seperti diketahui bahwa Hok Kian merupakan basis terakhir perlawanan sisa-sisa pasukan yang masih setia kepada Dinasti Ming ( 1368 – 1644 ). Pada waktu pasukan Qing ( Man Zhu ) memasuki Hok Kian, mereka berhadapan dengan perlawanan gigih dari rakyat setempat dan sisa-sisa pasukan Ming. Setelah perlawanan ditaklukkan dengan penuh kekejaman, akhirnya seluruh propinsi Hok Kian dapat dikuasai oleh pihak Qing.

    Selama terjadinya peperangan dan kekacauan ini, banyak rakyat yang bersembunyi di dalam perkebunan tebu yang banyak tumbuh di sana. Di dalam rumpun tebu itulah mereka melewati malam dan hari Tahun Baru Imlek. Setelah keadaan aman, pada Cia Gwe Cwe Kaw ( Tanggal 9 bulan 1 Imlek ) pagi mereka berbondong-bondong keluar dan kembali ke rumah masing-masing. 

    Untuk menyatakan rasa syukur karena terhindar dari bencana kematian akibat perang, mereka lalu mengadakan upacara sembahyang King Thi Kong pada tanggal 9 bulan 1 Imlek ini sebagai ucapan rasa terima kasih kepada Thi Kong atas lindunganNya.


    Maka dari itu, biasanya dalam Upacara persembahyangan King Thi kong terdapat sepasang tebu yang diikatkan di sebelah kanan dan kiri sisi meja, diikatkan sebatang tebu yang masih utuh (ada akar sampai ujung daunnya) untuk disajikan dalam sembahyang syukur ini. Makna yang bisa dipetik juga bahwa kesuksesan seseorang harus dibangun dengan akar yang kuat (akar tebu), melalui berbagai rintangan dan pengalaman hidup (ruas tebu) sampai tercapainya kesuksesan (daun tebu yang menjulang tinggi).



    Oleh: Billy Setiadi (Aktifis Hikmabudi- dan Gusdurian Kota Malang)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Tradisi Sembahyang ke Langit Orang Tionghoa Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top