728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Rabu, 09 Maret 2016

    Berani Menerima Perbedaan


    Beragam isu atau wacana yang terus menghiasi negeri “merah putih” Indonesia ini, tidak berhenti dalam arus pemberitaan media saja. Seperti, tentang LGBT (Lesbian, Gay, Bisex dan Transgender) menjadi topik pilihan dalam Jagongan yang dibingkai dalam: “ Belajar Memahami Minoritas” oleh Jaringan GUSDURian Kota Batu, Selasa 8 Maret 2016 malam.

    Serial diskusi yang bertempat di gedung aula PCNU kota batu ini dihadiri oleh para tokoh dan pemuda lintas iman, aktifis NU, majelis luhur penghayat kepercayaan, aktifis Waria, dan kawan-kawan Gusdurian.

    Salah satu aktifis Waria Nusantara yang menyempatkan hadir diawal Jagongan diskusi menyampaikan bahwa waria bukanlah kodrat, bukan pula suatu takdir, tapi waria adalah sebuah perjalanan hidup. Begitu disampaikan waria yang menyebut berasal dari singosari ini dengan penuh percaya diri.

    Bagaimana tentang pandangan tokoh-tokoh lintas iman (agama) melihat dinamika kehidupan seperti LGBT, hingga bagaimana wajah dari sebuah agama itu menampakkan kedamaian untuk semua, tidak “menegangkan” bahkan “menyeramkan”, ucap Salma Safitri seorang perempuan aktifis yang menjadi moderator jagongan ini. “Dan, kalau bicara manusia tidak ada batas-batas atau kotak-kotak, perlakukan manusia sebagai manusia” ujar Pdt. Yonathan P.Maluw salah satu pembicara diskusi tentang LGBT ini dengan singkat.


    “Mengenai pandangan tentang perilaku seks yang dianggap salah, bahkan perilaku seks yang benar pun, perlu adanya sebuah pengendalian diri”. Ujar Pak Suwono dari Budha menambahkan


    Dan, Moh. Mahpur salah satu pembicara, yang juga penggerak GUSDURian Malang serta psikolog ini menyebutkan; “sebagai perdebatan yang tak kunjung usai sampai hari ini hingga mencuat kepermukaan (publik). Dalam pandangan psikologi (keilmuan) tidak terlalu melihat LGBT sebagai sebuah persoalan. Sehingga tidak terjebak dalam wacana pro dan kontra, yang bisa semakin jauh dari konsep perdamaian, serta hakikat kemanusiaan itu sendiri”.

    Kegalauan Kemanusiaan Masih Semu – Moh. Mahpur

    Gusdurian sebagai organisasi berbasis nilai yang terjahit dalam Jaringan Nasional, sebagaimana kembali disebut dan diingatkan oleh Mrs Charlotte Blackburn diakhir jagongan diskusi ini dengan menyebut tentang 9 nilai; katauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, Keksatriaan (termaktub) bahwa “Keksatriaan bersumber dari keberanian untuk memperjuangkan dan menegakkan nilai-nilai yang diyakini dalam mencapai keutuhan tujuan yang ingin diraih. Proses perjuangan dilakukan dengan mencerminkan integritas pribadi: penuh rasa tanggung jawab atas proses yang harus dijalani dan konsekuensi yang dihadapi, komitmen yang tinggi serta istiqomah. Keksatriaan yang dimiliki Gus Dur mengedepankan kesabaran dan keikhlasan dalam menjalani proses, seberat apapun, serta dalam menyikapi hasil yang dicapainya”, dan kearifan lokal sebagai nilai pamungkas kesembilan. (ahimsa)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Berani Menerima Perbedaan Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top