728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Senin, 07 Maret 2016

    INTELEGENSI SOSIAL: Pengemis ibarat “Sampah Masyarakat”


    Tak dapat dipungkiri bahwa pengemis bukanlah permasalahan yang baru di Indonesia. Bahkan juga di negera-negara maju seperti Amerika serikat dan Inggris. Dan sampai saat ini permasalahan pengemis masih belum bisa diatasi secara tuntas oleh umat manusia. Sudah banyak metode-metode yang dilakukan oleh para pemimpin bangsa untuk menanggulangi permasalahan ini. Mulai dari pendekatan secara rumit dan bertahap sampai dengan penuntasan secara sepihak dalam bentuk kebijakan politik yang acap kali malah menimbulkan permasalahan baru seperti semakin maraknya curanmor dan kejahatan lainnya karena kesenjangan sosial yang terlalu signifikan.

    Sebuah paradigma mendasar penulis tentang hal ini bahwa “tidak ada seorang manusia-pun yang bercita-cita menjadi pengemis dan pengangguran”. Dengan paradigma seperti inilah sehingga penulis menyakini bahwa permasalahan pengemis harus diatasi dengan pendekatan “politik ekonomi” bukan dengan kebijakan politik semata. Karena memang dua hal serupa namun tak sama ini sering kali menimbulkan kerancuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

    Hal ini telah disadari oleh presiden ke-4 Indonesia, K.H Abdurrahman Wahid. Beliau dalam tulisannya yang berjudul “Apakah Ekonomi rakyat itu?” adalah sebuah pertanyaan mendasar terkait arah gerak ekonomi Indonesia sekaligus mengingatkan kita bahwa dalam sejarah perekonomian (economic history) dunia banyak sekali para pemimpin bangsa yang tidak menyadari jika “keputusan politiknya” itu sejatinya menyangkut aspek “politik ekonomi”. Dengan mengibaratkan “bagaikan susu seekor kerbau yang punya nama sapi”, yang artinya “ susu kerbau dianggap sebagai sapi” hanya karena sama-sama putih warnanya.

    Hal diatas Gus Dur peroleh ketika membaca sebuah buku karya Arthur M. Schlenger yang berjudul “the age of Jackson”. Yang pada awalnya beliau kira buku tersebut merupakan buku sejarah karena memang penulis buku tersebut adalah dosen sejarah di Universitas Harvard. Dan baru disadari oleh Gus Dur buku tersebut ternyata berkaitan dengan pengambilan keputusan politik ekonomi mendasar yang dilakukan oleh presiden Jackson. Yang intinya berupa penunjukan dan pengangkatan kepala gubernur Bank Sentral oleh presiden dengan persetujuan kongres.

    Kebijakan ini belum pernah terjadi pada presiden sebelumnya. Bagi Gus Dur, langkah yang dilakukan presiden Jackson menunjukkan keyakinan bahwa urusan Bank Sentral tidak terbatas hanya pada bidang ekonomi semata melainkan juga menyangkut tingkat kesejahteraan rakyatnya. Sehingga apa yang dilakukan presiden Jackson melahirkan apa yang disebut sebagai “Kapitalisme Rakyat” (Flock Capitalism). Bagi penulis hal ini unik sekali, dengan melihat Amerika Serikat sebagai “biang kapitalisme” eh ternyata mengembangkan paham kerakyatan juga.

    Kilas sejarah perekonomian Indonesia sendiri telah mengalami dinamika yang kompleks semenjak Republik Indonesia ini berdiri. 

    Dan sistem ekonomi indonesia dari dulu sampai saat ini sejatinya penggabungan dua sistem ekonomi besar dunia yaitu kapitalisme dan sosialisme yang akhirnya dari masa ke masa melahirkan apa yang disebut dengan sistem ekonomi berdikari, demokrasi, dan kerakyatan.

    Dan membahas terkait sistem ekonomi akan ditentukan oleh kebijakan politik ekonomi suatu bangsa pada suatu masa. Penulis menyadari bukanlah seorang ahli ekonomi bahkan pemikir politik ulung. Penulis hanyalah rakyat biasa yang berpandangan bahwa “titik penting dari berbagai sistem ekonomi tersebut bukan sebatas “kata tanpa makna” saja melainkan apa yang sejatinya dicita-citakan bangsa ini yaitu kesejahteraan rakyatnya (Almaslahah ummah) yang termaktub dalam pancasila dan UUD’45”. Hal ini memang bukan perkara sederhana, tapi meski begitu penulis berharap dua hal tersebut akan selalu menjadi “pengingat” bagi para pemimpin bangsa ini untuk menjadikan akar pedoman kebijakan dalam berbangsa dan bernegara.

    Oleh karenanya dari ulasan diatas, penting kiranya bagi setiap pemimpin bangsa ini memiliki apa yang disebut dengan “Intelegensi Sosial”. Salah seorang psikolog Inggris, N K Humprey mengatakan “intelegensi sosial adalah hal yang paling penting dalam kecerdasan seseorang” sehingga dapat merasakan perasaan, pikiran, motivasi, tingkah laku dan gaya hidup rakyatnya. 

    Dan kembali pada kasus diatas terkait “permasalahan pengemis” bukanlah suatu perkara yang dengan sepihak diselesaikan dengan sebuah peraturan pelarangan tanpa adanya sosialisasi dan kebijakan-kebijakan yang mendahuluinya. Dan kebijakan-kebijakan yang mendahuluinya hanya akan menjadi hiasan semata jika tidak memperhatikan kegelisahan rakyatnya.

    Kerancuan memandang sebuah akar permasalahan inilah yang kadangkala malah melahirkan permasalahan-permasalahan baru dari dampak kesenjangan sosial tersebut. Dan lagi-lagi dengan berpandangan pada “tidak adanya seorang manusia-pun yang bercita-cita menjadi pengemis dan pengangguran” menyakinkan penulis bahwa kesenjangan sosial ini lebih cenderung akibat dari “kesalahan” struktural bukan pada kultural-nya.

    Maka yang patut dibenahi adalah dengan melakukan pembinaan “pengemis” secara masif dan terorganisir dan memberikan jaminan serta kemudahan kepada mereka untuk bisa menempuh hidup yang lebih baik dari sebelumnya seperti menggalakkan UMKM dengan kemudahan birokrasinya. Maka sudah sepantasnya memasyarakatkan pengemis untuk kembali kedalam masyarakat secara wajar dan patut sehingga semua menyadari harga diri, kemampuan dan keahlian, peran dan fungsi serta hak dan kewajiban masing-masing. Memanusiakan tanpa meninggalkan hakikat kemanusiaan. Begitulah Kiranya.


    Penulis: Moh. Fauzan (Kordinator Gerakan, Gusdurian Muda Kota Malang)
    Editor  : Amri a.s
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: INTELEGENSI SOSIAL: Pengemis ibarat “Sampah Masyarakat” Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top