728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Selasa, 15 Maret 2016

    Lebih Dekat dengan Mirza Ghulam Ahmad















    Sebuah Resensi Buku: Ghulam Ahmad (JIhad Tanpa Kekerasan)

    Mirza Ghulam Ahmad, seorang tokoh sentral pendiri Ahmadiyah, disebut sebagai sosok kontroversial yang membaiat dirinya sebagai salah satu Imam Mahdi atau al-Masih. Sejak mendakwakan sebagai al-Masih, gunjingan atau hujatan mulai mengental antara yang sepaham dan kemudian menjadi pengikut Ahmadiyah dan kelompok yang kemudian membangkang dari yang semula mendukung terhadap berbagai buah pemikiran dia.

    Orang kemudian akan menanya, betulkah Mirza Ghulam Ahmad telah diagungkan oleh Jemaat Ahmadiyah sebagai Nabi ? Kronologis dan konteks kenabian seperti apa hingga ia menyebut Imam Mahdi atau al-Masih. Buku Asep Burhanudin ini yang akan menjawab teka-teki siapa Mirza Ghulam Ahmad dari sudut pandang lintasan sejarah kehidupannya dan mengaji wilayah epistemologis atas hasil pemikiran Ghulam Ahmad, terutama terkait erat tentang konsep jihad yang juga dianggap jauh dari semangat al-Qur’an dan Hadits, bahkan dikenal anti jihad.

    Memahami buku ini pun berarti mencoba mengungkap aspek historis dan seting politik pemikiran Ghulam Ahmad yang waktu hidupnya (1835-1908 M) diselimuti oleh akumulasi konflik karena penjajahan Inggris atas bangsa India. Dengan memahami riwayat hidupnya, konsep kenabian Ghulam Ahmad juga memiliki nuansa politik terkait dengan psikologi perlawanannya terhadap pendudukan Inggris.

    Dalam konteks relasional kekuasaan kenabian Ghulam Ahmad sebagai al-Masih dan Imam Mahdi adalah ancaman bagi pemerintah Inggris di India karena dari pengalaman sebelumnya, di Sudan ada seorang yang mengaku sebagai Imam Mahdi telah memimpin pemberontakan dan memberikan kekuatan propaganda perlawanan terhadap pemerintahan Inggris karena diyakini oleh umat Islam bahwa setiap ada Imam Mahdi disitulah akan terjadi penolakan terhadap kemiskinan, penindasan, keterpurukan dan keterbelakangan. Kenyataan ini yang kemudian tidak mendapat simpati dari pemerintah Inggris atas siapa yang mendeklarasikan sebagai sosok Imam Mahdi (hlm. 47)

    Menyangkut khilafiah pandangan kenabian, menurut Ghulam Ahmad, kenabian itu dibagi dalam dua kategori yaitu nabi dalam pengertian syari’at berarti meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah nabi terakhir sementara kenabian yang sifatnya non-syari’at dikatakannya dalam konteks kenabian dzilli dan kenabian ummati (nabi yang merupakan cermin dan pengikut Nabi Muhammad). Keberadaan nabi dzilli dan ummati akan terus hadir sesuai dengan kebutuhan dan kehendak Allah sendiri (hlm.61). Dalam konteks kenabian dzilli dan kenabian ummati inilah Ghulam Ahmad mengambil peran dan mendeklarasikan diri karena beberapa pengalaman spiritual yang menjadi bagian dari praktik keagamannya seperti ru’yah, mimpi, kasyf, maupun wahyu.

    Pendakwaan kenabian itu didasari oleh empat tahap pengalaman spiritualnya yang telah memosisikan dirinya sebagai teolog, mujaddid (pembaharu), mulham (orang yang mendapa ilham), muhaddats (orang-orang yang bercakap-cakap dengan Allah), al-Masihal-Mahdi dan terakhir sebagai nabi dzilli dan nabi ummati. Pendakwaan itu merupakan bagian apresiasi dari pergumulan pengalaman spiritual dia dan penjelajahan intelektual dalam mengeksplorasi ajaran-ajaran Islam yang didasari oleh pemahaman berdasarkan al-Qur’an, sunnah, hadits, akal, indra dan intuisi. Namun demikian dia tetap menyakini bahwa Nabi Muhammad adalah nabi terakhir dan al-Qur’an sebagai tuntunan syari’at yang murni dari Allah (hlm.159).

    bahwa setiap ada Imam Mahdi disitulah akan terjadi penolakan terhadap kemiskinan, penindasan, keterpurukan dan keterbelakangan

    Dalam tataran epistema Jihad, Ghulam Ahmad menolak Jihad yang dilakukan dengan menggunakan cara-cara kekerasan atau mengangkat senjata.  Karena secara sosial politik rakyat India tidak berdaya dan memiliki kekuatan seimbang dibanding Inggris dalam persenjataan.

    Ghulam Ahmad membagi Jihad ke dalam tiga macam. Pertama adalah jihad asghar (jihat kecil), suatu pandangan yang oleh golongan lain dianggap anti Jihad. Bagi Ghulam tiada konsep yang mengatakan bahwa jihad dalam Islam merupakan manifestasi peperangan. Dia punya pandangan lain bahwa jihad bukanlah perang di jalan Allah untuk memusnahkan agama lain, akan tetapi jihad justru untuk melindungi berbagai macam agama, karena kebebasan agama sangat dijunjung tinggi dalam al-Qur’an.

    Tidak ada penyebaran atas nama agama yang dilakukan dengan cara mengangkat pedang sebagai jalan pintas untuk memaksa orang patuh akan sebuah keyakinan, melainkan bagaimana jihad Islam harus didekati dengan nilai argumentasi bahwa Islam tidak membutuhkan bantuan pedang dalam penyebarannya (hlm. 161).

    Yang kedua adalah jihad kabir (jihad besar), yakni dikatakan sebagai jihad pena. Menyebarkan wahyu dan ajaran Islam dengan gagasan, argumentasi dan logika, serta dalil-dalil yang disampaikan dalam bentuk tulisan. Sebagai konsekuensinya Ghulam Ahmad telah melahirkan hampir 80 karya berupa buku dan juga menerbitkan majalah atau koran. Sementara jihad yang ketiga adalah jihad akbar (jehad terbesar). Sebuah jihad profetis dan didasari oleh sikap arif dan bijaksana untuk mengendalikan atau memerangi hawa nafsu yang akhirnya melahirkan teori pemikiran tentang hawa nafsu manusia yang dibagi dalam nafs al-ammarah, nafs al-lawwamah, nafs al-muthma’innah.

    Buku ini telah membongkar prasangka kenabian Ghulam Ahmad an sich namun juga memberi pemikiran lain sekitar gagasan, argumentasi, logika, dan interpretasi Ghulam Ahmad tentang keislaman dan konsep penyebaran agama yang didasari oleh nilai-nilai perdamaian dan besandar pada kekuatan logika, argumentasi dan memperjuangkan Islam dalam konteks kebudayaan seperti membangun masjid, membuat sekolah, menerbitkan buku, jurnal atau majalah. Semangat anti kekerasannya menjadi penopang bagaimana Islam disebarkan dengan jalan perdamaian dan mengafirmasi konteks politik, historis dan sosiologis pendiri Ahmadiyah.


    Penulis: Mohammad Mahpur (Psikolog, pegiat damai, dan salah satu penasihat GUSDURian Malang)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Lebih Dekat dengan Mirza Ghulam Ahmad Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top