728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Selasa, 29 Maret 2016

    Meneladani Kanjeng Nabi Muhammad

    @JamaahNU



    Sudah menjadi buah bibir dimana-mana kalau KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus) adalah sahabat karib dari KH. Abdurrahman Wahid. Keduanya sangat getol sekali untuk mengkampanyekan Islam yang ramah bukanya Islam marah. Saat peringgatan 1000 hari wafatnya KH Abrurrahman Wahid atau biasa di sapa Gus Dur, sahabatnya ini memberikan sebuah ceramah dan dalam ceramahnya terdapat pengakuan dari Gus Mus  kalau dari Sembilan nilai dasar Gus Dur yang dirumuskan sahabat-sahabatnya itu, beliau hanya kurang di nilai keksatriaan. Sehingga mugkin kita jarang melihat Gus Mus dengan lantang melawan paham-paham yang kurang benar menurutnya atau menjadi pembala kaum tertindas seperti yang dilakukan Gus Dur, kita lebih sering melihat Gus Mus dalam melakukan perlawanan dan pembelaan di bungkus menjadi sebuah sajian yang santun berupa puisi-puisi atau ceramah-ceramah yang menyejukkan.

    Seperti yang Gus Mus tunjukan dalam ceramah saat di IAIN Surakarta, dalam acara Dies Natalis ke 22 yang diselengarakan pada tanggal 10 Desember 2014. Dalam ceramah tersebut Gus Mus terlihat sederhana, santun dan dalam mengeluarkan kata demi kata terasa menyejukkan dan penuh kesantunan, serta tak ketinggalan joke-joke yang menjadi ciri khas orang-orang NU.

    Dalam ceramah tersebut Gus Mus mengawali dengan sebuah hadits Rasul yang berarti "Islam datang dengan keterasingan dan akan kembali dalam keterasingan". Dahulu Nabi Muhammad itu sendirian tenggil-tenggil gak enek kancane (sendirian tak ada temannya), dan Rasul memprediksi nanti Islam juga akan terasing. Tapi sekarang apakah Islam sudah terasing? Kalau dilihat dari jumlah dan seberapa sering pengajian, nampaknya Islam belum terasing. Tapi kalau mencari nilai Islam, taruhlah kejujuran? Islam itu tenggil-tenggil. Ada orang jujur di tenggah-tenggah orang yang tak jujur, ada pejabat tak korupsi di tenggah pejabat-pejabat yang sudah korupsi, jadi ngumbuli teman-temanlah, ikut korupsi. Jamaah tertawa ha-ha-ha

    Kemudian Gus Mus mencoba untuk berkomunikasi dengan jamaah, beliau bertanya "menurut Al-Qur'an siapakah orang yang masuk surga?". Kemudian Gus Mus melanjutkan berbicara "yang masuk surga adalah orang yang taqwa". Dan taqwa yang paling ringan adalah melakukan seluruh perintah dan meningalkan seluruh larangan. Salat? Saya sudah. Puasa? Saya sudah. Zakat? -Gus Mus berhenti sejenak- sekk! Belum, eman kalau zakat, ada modalnya, beda sengan salat dan puasa, tak perlu modal. Orang lagi senang dunia kok zakat. Jamaah tertawa kembali. Membunuh orang? Tidak. Mencuri? Tidak. Zina? Tidak. Ngomongin Orang? -jamaah terkekeh-kekeh spontan- 

    Kalau berbicara larangan, Anda tau larangan paling berat? –Gus Mus bertanya-. Larangan yang paling berat adalah syirik, dan Allah tak akan mengampuni dosa orang yang syirik sebelum ia bertaubat. Syirik itu ada dua, syirik kasar dan syirik halus. Syirik kasar itu yang menyembah berhala, batu, kursi dan sebagainya. Kalau syirik halus adalah menyembah dirinya sendiri, lo kok bisa? Menyembah dirinya sendiri adalah merasa dirinya selalu benar dan setara dengan Allah yang maha benar. Sehingga kalau selalu merasa benar, yang lain mesti salah. Merasa kalau dia marah Allah juga marah.

    Lalu bagaimana dengan nasib kita kalau kita belum tuntas bertaqwa? Syahadat sudah, salat sudah tapi ngomongkan orang juga jalan. Nanti Allah akan tampil dalam wajah sesunguhnya, tidak hanya Rahman Rahim yang seperti ditunjukan di dunia, lalu bagaimana caranya agar selamat besok? caranya adalah dengan "Ngintil Rasul". La kok bisa ngintil? Yang bisa ngintil adalah yang sering bersalawat kepada Rasul. Kemudian Gus Mus menceritakan kebiasaan bapaknya yakni KH. Bisri Mustofa. "Bapak saya itu kalau malam habis isya' nulis, habis itu tidur tenggah malam bangun memuji Rasul, menghadirkan Rasul" kata Gus Mus. "kalau Bapak saya pengajian kayak gini, nanti pulang sampek rumah juga memuji Rasul, menghadirkan Rasul terus habis salat subuh ya tetap mengajar ngaji ke santri, la kalau saya? Sekarang pengajian besok ngaji subuh ya libur!" sambung Gus Mus dan semua jamaah terkekeh.

    Bukan hanya bersalawat, akan tetapi lebih sempurna kalau juga meniru sifat dan perilaku Rasul. Rasul itu bassam, muka beliau tersenyum, tidak hanya bibirnya tapi mukanya, jadi kalau ada sahabat ingin curhat melihat beliau saja beban sudah hilang. Kalau ingin meniru Rasul, tirulah Akhlaknya tidak hanya bajunya, yang kemana-mana harus bersorban dan berjenggot. Kalau bersorban dan berjenggot, Abu jahal juga begitu. Namun yang membedakan Rasul wajahnya tersenyum, kalau Abu jahal wajahnya sangar. Kalau ada yang sorbanan dan berjengot tapi sangar, itu meniru siapa? "Tetapi kalau ada yang bersorban dan berjenggot terus masih sangar ya biarkan saja, bisanya baru segitu" Gus Mus menyambung.

    Baginda Muhammad SAW adalah manusia yang paling manusia, Mengerti manusia dan memanusiakan manusia. Tutup Gus Mus dan kemudian dilanjutkan berdoa menutup acara.

    Setiap ceramah Gus Mus yang penulis lihat, selalu memberikan Pelajaran, ketenangan dan kesejukan. Bukan hanya karena cara penyampaiannya yang santun, tetapi juga karena disampaikan dengan bahasa yang sederhana, mudah dipahami dan diselingi joke-joke segar.

    Semoga Kiai kita, KH A. Mustofa Bisri dan keluarga selalu dijaga Allah SWT, diberikan kesehatan agar bisa membimbing kita semua. Amin


    Lamongan, dua puluh dua Maret 2016
    ___________________________________________________________________________________

    Penulis: Bakhru Thohir (Pecinta Kopi Senja- Pagiat Gusdurian Malang)
    Editor  : Amri a.s
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Meneladani Kanjeng Nabi Muhammad Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top