728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Selasa, 26 April 2016

    Apakah itu Ekonomi Rakyat?


    Sebagai penulis kata pengantar buku “Perekonomian In- donesia dari Bangkrut Menuju Makmur” ini (Teplok Press, Januari 2003), saya bukanlah seorang ahli ekonomi. Karena tidak mengetahui lebih mendalam tentang ekonomi rakyat (people economics), dan tidak tahu hal­hal lain mengenai sebuah perekonomian, kecuali dua hal saja. Pertama, ekonomi adalah pemenuhan kebutuhan manusia, dan ia memiliki meka­ nisme sendiri. Selebihnya, haruslah dirumuskan oleh para ahli ekonomi, dan mereka harus mempertimbangkan kaitan sebuah perekonomian dengan hal­hal lain dalam kehidupan seperti, politik, hukum, teknologi, pasar, agama dan lain­lain. Dengan kata lain, kebijakan ekonomi (economic policy) tidak pernah sepenuhnya dapat diterapkan, sehingga harus selalu diingat keterkaitan ekonomi dengan hal­hal lain dalam kehidupan sebu­ ah negara. Kedua, sebuah perekonomian tidak pernah terlepas dari perdagangan atau transaksi, baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional, dengan demikian tidak pernah ada tempat untuk memisahkan perekonomian kita sendiri dari perekonomi­ an global, yang membuat kita sengsara lebih dari perkiraan kita sendiri.

    Hal ini dapat kita lihat pada perjalanan sejarah bangsa­ bangsa di dunia ini, yang baru berjalan puluhan ribu tahun saja. Karenanya, sangatlah menarik untuk melihat bagaimana kebijak­ an ekonomi yang diambil dalam sejarah sebuah bangsa. Sejarah memberikan pengaruh sangat besar kepada para pemimpin bangsa yang bersangkutan, dalam menentukan kebijakan demi kebijakan selanjutnya. Ini adalah bidang tersendiri, yang sering dinamai sejarah perekonomian (economic history), yang merupa­ kan disiplin ilmu, yang harus diketahui seorang penguasa peme­ rintahan. Namun wajar saja, jika seorang penguasa tidak menge­ tahui hal itu, mereka mengira apa yang mereka putuskan hanya bersifat teknis belaka, paling tinggi sebagai sebuah “keputusan politik”. Dengan demikian, mereka tidak menyadari keputusan mereka sebenarnya menyangkut bidang politik ekonomi. Tin­ dakan penguasa itu bagaikan menganggap “susu kerbau sebagai susu sapi” hanya karena sama­sama putih warnanya.

    Kerancuan mengira apa yang dibaca atau diamatinya dari sejarah sebuah bangsa, sebagai sebuah keputusan politik pada­ hal itu adalah keputusan politik ekonomi, pernah juga dialami oleh penulis kata pengantar ini (selanjutnya disebut penulis). Pada waktu baru di terbitkan, penulis membaca karya Arthur M. Schlesinger Jr,1 penulis pidato masa mendiang Presiden Ken­ nedy, yang berjudul “The Age of Jackson”.2  Sebagai dosen Uni­ versitas Harvard di bidang sejarah, ia menghasilkan apa yang oleh penulis dianggap sebagai buku sejarah. Baru belakangan disadari penulis, bahwa yang dilakukan Presiden Jackson itu adalah pengambilan keputusan politik ekonomi yang sangat men­ dasar. Jackson memutuskan untuk mengangkat Kepala Gubenur Bank Sentral Amerika dari seorang Jerman berkewarganegaraan Amerika Serikat. Ia memimpin sekian orang direktur dengan ja­ batan gubenur, dan bersama mereka mengemudikan bank sen­ tral yang kemudian bernama Federal Reserve System.

    Keputusan Jackson membawa perubahan mendasar atas jalannya sistem ekonomi di negara tersebut. Karena ia meng­ anggap pemimpin Bank Sentral di negerinya harus ditetapkan presiden dengan persetujuan kongres. Padahal teori kapitalisme klasik menyatakan pemerintah tidak boleh ikut campur dalam urusan  ekonomi  nasional,  dan  pengangkatan  pejabat  ekono­ mi dan finansial sepenuhnya menjadi wewenang pihak swasta bukan pemerintah. Tetapi Jackson justru mengangkat para pe­ jabat pemerintahan untuk mengelola bank sentral itu. Hal ini menunjukkan keyakinan Jackson, bahwa urusan bank sentral tidak terbatas hanya pada bidang ekonomi saja, melainkan juga menyangkut pengelolaan uang pajak yang dibayarkan rakyat se­ bagai warga negara. Untuk melakukan pengelolaan itu dan sete­ rusnya, juga menggunakannya untuk keperluan rakyat, harus dilakukan oleh “orang­orang pemerintah”. Dengan demikian, Jackson berkeyakinan bank sentral bukanlah semata­mata ber­ tanggung jawab atas jalannya perekonomian nasional, melain­ kan juga bertanggung jawab atas tingkat kesejahteraan rakyat.

    Apa yang dilakukan Presiden Jackson itu, melahirkan apa yang disebut sebagai “kapitalisme rakyat” (folks capitalism). Bah­ wa negara biangnya kapitalisme seperti Amerika Serikat, dapat mengembangkan paham kerakyatan seperti itu, adalah suatu hal yang sangat menarik. Ini menunjukkan kapitalisme bukan ba­ rang mati melainkan dapat berkembang sesuai dengan kebutuh­ an. Kebencian Bung Karno terhadap kapitalisme, sebenarnya adalah penolakan terhadap kapitalisme klasik itu, yang hanya dipergunakan untuk mencari keuntungan maksimal bagi para pemilik modal belaka. Jika kapitalisme dapat menerima modifi­ kasi, dan dapat dipakai untuk tujuan memperbaiki tingkat hidup dan kesejahteraan rakyat di sebuah negara, ia tidak patut lagi dibenci seperti itu. Karena itu, kebencian Bung Karno terhadap kapitalisme klasik, bukanlah sesuatu yang harus berlaku secara tetap atau permanen, melainkan juga harus diarahkan kepada modifikasi ideologi tersebut.

    Dengan demikian, jelaslah bahwa ada perbedaan besar an­ tara berpikir ilmiah dan berpikir ideologis. Secara ilmiah pandang­ an apapun memiliki kemungkinan menerima modifikasi, yang terkadang merubah orientasi dan pandangan itu sendiri. Sedang­ kan pemikiran ideologis adalah sesuatu yang “jahat”. Karena itu, kita harus bedakan benar pemikiran ideologis dan pemikiran il­ miah. Sewaktu membuat pledoi (pembelaan) di muka pengadilan kolonial di tahun 1931, sikap Bung Karno memang benar, melawan kapitalisme klasik itu. Ini karena pandangan tersebut digu­ nakan untuk menindas bangsa kita. Karena itulah, Bung Karno menulis pledoinya tersebut, yang belakangan diterbitkan dalam bentuk buku berjudul “Indonesia Menggugat”.

    Sebuah contoh lain dapat dikemukakan dalam hal ini ya­ itu kebijakan Dr. Hjalmar Schacht, Menteri Perekonomian Jer­ man tahun 30­an, di bawah Kepala Pemerintahan Adolf Hitler. Ia memutuskan membangun jaringan jalan aspal yang halus (autobahnen) di seluruh negeri, sepanjang lebih dari 80.000 kilometer. Pembuatan jalan raya bagi kendaraan bermotor de­ ngan menggunakan hotmix itu, dengan sendirinya menaikkan pendapatan bangsa tersebut, yang kemudian mendorong mun­ culnya industri pembuatan barang (manufacturing industry) yang kuat. Kita ingat pabrik lokomotif Kruff dan mobil Volkswa­ gen yang tangguh. Bahwa kemudian Hitler menempuh kebijakan lebensraum (ruang hidup) dengan menjarah negeri­negeri lain, tidak merubah kenyataan bahwa pandangan Schacht itu meru­ pakan sesuatu yang sangat diperlukan bangsa Jerman.

    Kesalahan Hitler itu, yang berakibat pecah Perang Dunia II dengan korban 35 juta jiwa melayang, kemudian diganti oleh sebuah pandangan lain yang belakangan dikemukakan oleh Kan­ selir (Perdana Menteri) Jerman Barat Ludwig Erhard.3  Dengan pandangan  yang terkenal  “Sozialen  Marktwirtschaft”,  adalah sebuah upaya untuk meneruskan upaya Schacht itu. Dengan pandangannya itu, Erhard mementingkan fungsi sosial, pening­ katan kesejahteraan dan perebutan pasar bagi industri Jerman di seantero dunia. Yang direbut bukanlah negara, melainkan pa­ sar tanpa melalui peperangan dan melanggar perikemanusian. Jelas ini merupakan modifikasi atas kapitalisme klasik yang oleh Karl Marx dan Friederich Engels dianggap mengandung benih­ benih “kontradiksi struktural” yang akan menimbulkan kekeras­ an. Kaum kapitalisme akan berhadapan dengan kaum proletar dalam sebuah kontradiksi maha dahsyat, yang akan meliputi se­ luruh dunia.

    Buku yang ada di tangan pembaca ini, yang ditulis oleh Hendi Kariawan memang tidak menyebutkan kontradiksi seperti itu, ataupun menggambarkan modifikasi atas kapitalisme klasik yang dilakukan oleh tokoh­tokoh seperti Andrew Jackson. Tetapi buku ini sendiri adalah cerminan dari sebuah pandangan, bahwa perekonomian nasional sebuah negeri memang harus meng­ abdi kepada kesejahteraan dan tingkat hidup tinggi (high living standard) suatu bangsa. Ini adalah juga pandangan dari kapital­ isme klasik yang mengalami modifikasi. Bahwa hal itu kemudian dinamai pandangan ekonomi rakyat, tidak dapat menghilangkan kenyataan adanya modifikasi itu sendiri. Selama perekonomian nasional berdasarkan persaingan atau kompetisi terbuka, dan tetap dalam lingkup perdagangan internasional yang bebas dan menggunakan prinsip efisiensi rasional, selama itu pula ia tetap akan memelihara semangat kapitalisme, walaupun dengan nama lain.

    Sumbangan pemikiran ekonomi dari buku ini, adalah se­ suatu yang harus kita hargai. Dalam bahasa lain, buku ini menya­ jikan daya hidup (vitalitas) yang terkandung dalam paham kapitalisme, perlu dikaji secara ilmiah, bukan secara ideologis. Bahwa kemudian muncul sosialisme sebagai lawan kapitalisme tidak berarti “konfrontasi” itu bersifat tetap/permanen. Kalau meminjam filsafat Hegel tentang thesa melawan antithesa akan lahir sinthesa, maka dari kapitalisme klasik melawan sosialisme akan lahir pandangan ekonomi rakyat seperti yang digambarkan buku ini.



    Sumber lengkap di Buku: Islamku, Islam Anda, Islam Kita. Bisa di Download secara gratis disini klik
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Apakah itu Ekonomi Rakyat? Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top