728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Rabu, 06 April 2016

    Strategi Perdamaian Huo An


    Vis Pacem Para Bellum. Bersiap perang demi menciptakan perdamaian, sebuah frasa paradoks yang sering terdengar dan di perdebatkan. Sebagian orang menafsirkan kalimat ini sebagai persiapan “memamerkan taring” demi rasa aman dan menunjukkan kekuatan ototritas tertentu. Tetapi pendapat tersebut ditentang oleh mereka yang percaya bahwa perdamaian dapat diciptakan melalui cinta, rasa hormat dan hubungan yang harmonis. Lalu apakah konflik masih dibutuhkan untuk menciptakan perdamaian? Ataukah perlawanan adalah salah satu jawaban di masa kritis?

    Film The Dragon Blade (12.2015) menjadi salah satu contoh kisah epik para serdadu China dalam usahanya menciptakan perdamaian. Kisah bersettingkan zaman kekuasaan Dinasti Han, Jalur Sutra pada abad 1 SM. Jalur Sutra memiliki peran penting bagi perekonomian dunia karena merupakan jalur perekonomian terbesar yang menghubungan dunia barat dan timur. 

    Jalur Sutra juga penting bagi Dinasti Han karena merupakan salah satu sumber pemasukan terbesar yang menghubungkan Cina dan pasar globalnya. Jalur Sutra merupakan satu – satunya akses persebaran kain sutra, minyak wangi, perhiasan, obat-obatan, dan tentu saja,  emas. Tidak hanya itu, di sekitar Jalur Sutra selalu terdapat percapuran budaya dan perebutan kekuasaan. Beraneka kepentingan dan konflik dominasi terjadi di Jalur Sutra karena merupakan daerah strategis bagi mereka yang menginginkan kemuliaan.

    Huo An (Jackie Chan), seorang tentara perdamaian Dinasti Han bertugas untuk menenangkan 36 suku yang selalu bertikai di Jalur Sutra. Tugasnya adalah untuk menyelesaikan kekacauan yang terjadi di daerah Jalur Sutra karena dengan adanya konflik di daerah tersebut maka perekonomian akan terganggu. Huo An selalu menghadapi pihak-pihak yang mengangkat senjata, dalam perkelahian sebisa mungkin Huo An dan timnya tidak menyerang kubu manapun. Ia tetap mempertahankan diri dan berusaha mengutamakan diplomasi walaupun telah berhadapan dengan ujung panah.

    Suatu saat Huo An dan kelompoknya difitnah sehingga mendapat hukuman pindah tugas ke Kota Gerbang Angsa Liar. Kota tersebut belum dibangun sempurna dan harus lekas terselesaikan. Di kota itu terdapat masyarakat dari berbagai suku yang bekerja sebagai buruh bangunan yang bekerja tidak teratur. Huo An dan timnya menjadi harapan bagi perkembangan Kota Gerbang Angsa Liar. Dalam masa pembuangannya, Huo An menemui momen dimana ia harus memimpin pasukan pertahanan Gerbang Angsa Liar untuk menghadapi pasukan Romawi yang menyerbu. Huo Aan menghindari pertempuran besar dengan menantang komandan pasukan berduel. Dengan cara ini ia berusaha untuk mengurangi jumlah korban peperangan. Dalam perkelahian, Huo An menyadari bahwa pasukan Romawi dalam kondisi kelelahan. Keputusan yang ia buat kemudian adalah menolong pasukan tersebut dengan mempersilahkan mereka masuk kota dan memberikan makanan, tempat berteduh serta bantuan kesehatan secukupnya. Awaln\nya keputusan ini ditolak oleh penduduk kota, namun pada akhirnya Huo An sukses mengajak pasukan Romawi untuk membantu membangun kota hingga megah.

    Masalah berikutnya timbul ketika pasukan Romawi dalam jumlah yang lebih besar datang dan ingin menumpas pasukan Romawi yang datang sebelumnya karena dianggap sebagai desertir. 

    Hal tersebut semata alasan untuk balas dendam pribadi Jendralnya dan sekaligus menguasai kota untuk memperkuat pos pasukan tersebut di Jalur Sutra. Dalam menghadapi permasalahan ini Huo An memanggil ke-36 suku untuk bersatu mengangkat kekuatan melawan ketidakadilan. Peperangan menewaskan banyak penghuni kota dan pahlawan-pahlawan suku. Oleh karena itu Huo An sekali lagi menantang duel Jendral pasukan untuk memperkecil jumlah korban. Lain pada kali pertama, rivalnya kali ini tidak berbelas kasih dan sangat keji. Huo An berhasil membunuh jendral tersebut namun tidak menumpas pasukannya. Huo An sangat sedih melihat korban peperangan tersebut dan sekali lagi ingin mewujudkan perdamaian. Untuk itu, pihak Dinasti Han dan Romawi akhirnya membuat pakta perdamaian di Kota Gerbang Angsa Liar.

    Dari kisah fiksi sejarah ini kita dapat belajar dari cara Huo An mempersatukan 36 suku untuk berdamai dan mencapai satu tujuan. Selain itu Huo An yang memiliki kemampuan tinggi dalam bela diri dan berperang namun ia berusaha sedapat mungkin untuk tidak menggunakan kekerasan. Disisi lain, Huo An tidak akan berhasil mengalahkan musuh yang menyebabkan teror apabila ia tidak memiliki keahlian perang dan  bela diri. Sebisa mungkin kekerasan digantikan dengan dialog dan saling mengenal, namun apabila kondisi terlampau kritis maka kekuatan dan pertahanan yang ada lebih baik digunakan.

    Bukankah dengan demikian menjadi jelas bagi kita bahwa menerima perbedaan pendapat dan asal-muasal bukanlah tanda kelemahan, melainkan menunjukkan kekuatan.” Gus Dur

    Kekuatan kita berbeda dengan kekuatan Huo An. Kekuatan kita sebagai anggota masyarakat bukan panah atau tombak, namun terletak pada keberagaman sifat dan penerimaan satu sama lain. 

    Gusdurian juga memiliki senjata berupa jaringan, komunitas dan 9 Nilai Gus Dur yang dapat kita terapkan sebagai jalan pendekatan dalam menghadapi kondisi kritis kontra perdamaian. Dengan senjata itu kita dapat mengusahakan perdamaian dalam situasi damai maupun bersitegang. Hal terpenting lainnya adalah dialog. Seperti Huo An, kita harus selalu berusaha untuk saling mengenal dan berdialog sehingga dapat meghindari kesalahpahaman dan perpecahan. Konflik tidak harus dihindari untuk menciptakan perdamaian, konflik lebih baik dihadapi dengan kesiapan untuk saling mengenal dan menerima.*



    Penulis: jeanne dika (perempuan aktivis- pegiat damai gusdurian malang)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Strategi Perdamaian Huo An Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top